Yesus wafat di kayu salib. Crosswalk.com

Oleh: Iwan Jemadi, SS, Alumnus STF Driyarkara jakarta

Tiga tersangka utama yang didakwa oleh dokumenter Who Killed Jesus, membuat kita akhirnya bertanya-tanya: siapa seharusnya yang bertanggung jawab dan apa arti semuanya itu? Dokumenter itu sendiri meninggalkan celah debat perihal kematian Yesus. Mengapa hanya tiga tokoh yang didakwa, lalu mengapa Yesus ikut dicurigai?

Meskipun demikian, secara historis ilmiah, usaha yang ditampilkan dalam Who Killed Jesus patut diapresiasi. Berikut beberapa catatan yang muncul setelah menyaksikan film tersebut.

Tiga Tersangka untuk Satu Cerita

Seandainya kita sedikit setia untuk mencari jejak dalam cerita Injil, kita akan menemukan beberapa tokoh lain yang sebetulnya layak untuk dicurigai sebagai “tersangka”. Kita bisa membayangkan Yudas sebagai salah satu tokoh dengan andil besar dalam peristiwa tersebut. Injil mengisahkan bagaimana ciuman lelaki itu dan setumpuk tunai 30 keping perak (bdk. Mat. 26:15berakhir dengan penangkapan Yesus.

Dalam konteks yang jauh lebih luas, kita terkenang pula akan orang-orang Yahudi. Mereka berperan besar menentukan akhir hidup Yesus, khususnya ketika mereka ditanyai Pilatus perihal siapa yang layak untuk dibebaskan (bdk. Mat. 27:21-23). Lantang mereka menginginkan Yesus. Jawaban mereka berarti vonis kematian untuk Raja Orang Yahudi itu.

Kita bisa tambahkan pula peran para prajurit, meskipun mereka hanya orang upahan yang berkerja untuk tuannya. Para rasul pun ikut terlibat dalam kasus pembunuhan tersebut, sebab mereka tidak berbuat apa-apa (bahkan lari) ketika Yesus ditangkap. Kita boleh memberikan kredit kepada Petrus dalam usahanya membela Yesus, mesikpun kemudian pria yang sama itu lekas mengingkar.

Ringkasnya, ada banyak pihak sebetulnya yang berada di balik kasus pembunuhan tersebut. Seharusnya lebih dari sekadar tiga tersangka. Tapi soalnya, mengapa Who Killed Jesus hanya menebutkan tiga tokoh tersebut?

Saya menduga bahwa dengan menyebut tiga tokoh tersebut, Who Killed Jesus secara tidak langsung juga menyebut keseluruhan. Ketiga tersangka utama dalam dokumenter tersebut memiliki kaitan erat dengan posisi mereka sebagai pemimpin dalam artinya masing-masing. Kayafas adalah imam agung orang Yahudi (sehingga kita tak perlu lagi menyebutkan orang-orang Yahudi ataupun Yudas). Pilatus mewakili orang-orang luar, non Yahudi. Sementara Yesus kiranya menunjuk pada rancangan kuasa Allah.

Dengan menyebut tiga tokoh tersebut kiranya mau dikatakan bahwa yang berperan dalam kematian Yesus adalah semua pihak; tidak hanya orang Yahudi tetapi juga orang luar, ataupun bagian dari rencana Allah. Jadi, tiga tokoh tersebut mewakili tiga kuasa dari ruang lingkup yang berbeda. Yahudi (Kayafas), bukan Yahudi (Pilatus), dan Yesus (rencana Allah).

Mengasah Belati Tetapi Tidak Dapat Membunuh Tuhan!

Membaca keempat cerita Injil, saya mendapat kesan yang sama tentang akhir hidup Yesus, perihal kematian-Nya di Kayu Salib. Dalam cerita keempat Injil tersebut, akhir hidup Yesus digambarkan nyaris serupa.

Matius misalnya menggambarkan situasi akhir itu dengan kata-kata: “Yesus berseru pula dengan suara nyaring lalu menyerahkan nyawa-Nya” (Mat. 27:50). Kata-kata Matius ini juga terdapat dalam kisah Markus (15:37). Sementara Yohanes menulisnya demikian: «Sudah selesai. Lalu ia menundukkan kepala-Nya dan menyerahkan nyawa-Nya« (Yoh. 19 :30). Dalam Injil Markus tindakan menyerahkan itu dungkapkan dengan kata-kata langsung dari mulut Yesus: “…Ya Bapa, ke dalam tangan-Mu Kuserahkan nyawa-Ku” (Luk.23:46).

Dalam cerita-cerita Injil, akhir hidup Yesus digambarkan dengan tindakan menyerahkan nyawa, sebuah upaya aktif dari Yesus sendiri. Perjalanan memanggul salib ke puncak Golgota pada akhirnya tidak benar-benar membunuh Yesus. Begitu pun ketika dua lengannya direntangkan di atas salib dan dipaku. Tampaknya prajurit dan orang-orang Yahudi kebanyakan, tidak pernah berhasil membunuh Yesus.

Barangkali dapat dikatakan bahwa hidup Yesus sebagai manusia dan Tuhan tidak berada di tangan manusia, tetapi ada dalam genggaman-Nya sendiri. Manusia hanya bisa mendera Tuhan dan membuat-Nya menderita, tetapi belati yang diasah tak akan pernah bisa membunuh-Nya.

Terlepas dari refleksi-refleksi teologis manapun saya membayangkan bahwa pada hakikatnya Yesuslah yang menentukan akhir hidup-Nya sendiri. Ia sendiri yang bebas memilih antara untuk bertahan di salib atau kembali kepada Bapa. Jika pembunuhan diartikan sebagai tindakan mencabut nyawa, prajurit tidak melakukan hal itu pada Yesus.

Secara agak kasar dan berlebihan barangkali dapat dikatakan bahwa Yesus ‘membunuh’ diri-Nya sendiri melalui mantra “ke dalam tangan-Mu Kuserahkan nyawa-Ku”. Hanya saja, untuk bisa menerima argumen ini kita harus membatasi arti kematian yang ditelusuri dalam film tersebut sebatas hilangnya ‘nyawa’ dari seseorang atau pun juga usaha untuk menghilangkan nyawa seseorang. Namun, hal itu tidak bisa diterima jika kita memaknai kematian secara lebih luas.

Jatuh Berdua Ke Bumi, Bersama Kembali Ke Surga

Secara teologis mungkin dapat dikatakan bahwa kematian Yesus disebabkan karena dosa manusia, atau barangkali sebuah perjalanan sejarah keselamatan yang ditentukan sejak semula oleh Allah.

Namun, terlepas dari refleksi teologis manapun, saya meyakini bahwa ada banyak pihak yang turut serta dalam kasus kematian Yesus. Kayafas barangkali layak diminta pertanggung-jawaban, namun hal tersebut tidak berarti membebaskan Pilatus, Yudas, orang-orang Yahudi atau bahkan Yesus sendiri. Sebab dalam arti tertentu mereka turut mengambil peran masing-masing.

Pada akhirnya, jika kita mengartikan kematian Yesus sebagai suatu karya keselamatan yang datang dari Allah, kita perlu menerima bahwa upaya tersebut tidak pernah berdiri sendiri. Seandainya kita menerima kejatuhan manusia ke dalam dosa sebagai suatu karya kolektif (Adam dan Hawa, juga Si ular), barangkali demikian juga halnya pembebasan manusia dari dosa.

Bahwasannya keselamatan tidak pernah merupakan suatu upaya personal belaka, tetapi selalu melibatkan usaha kolektif, baik dari sesama maupun tertutama dari Allah. Bahkan setelah kematian Yesus, kita tahu bahwa kita tidak begitu saja bisa ke Surga. Namun, setelah kematian Yesus, perjalanan kembali ke surga adalah keniscayaan bagi orang-orang berdosa yang percaya.***

TINGGALKAN BALASAN

Please enter your comment!
Please enter your name here