fajarsumatra.com

TAK banyak yang bisa direkam dari setiap lelah yang terjadi di pundak. Bisa rasa sakit, bisa kemarahan. Dapat juga air mata, darah yang mengucur, tetapi juga beban yang berpindah ke hati. Lalu ketakutan menjalar di sekujur tubuh. Bangun dalam ketakutan, hidup dalam ketakutan, kerja dalam ketakutan dan bisa mati karena ketakutan. Hari itu berakhir dengan ketakutan yang kemudian lelap tertidur bersama lelah. Lalu, ia yang takut pun bermimpi.

Di sudut luar rumah tersandar egrek yang tak mungkin bisa digerakkan dengan listrik. Panjang tangkainya berkisar 5 meter atau lebih. Dengan ujung melengkung 45 centi meter dan tajam serupa celurit dari per mobil. Putih mengkilat habis digerinda sore sebelumnya. Lelaki setengah baya, kurus kerempeng dengan luka menganga di kaki kiri, memikulnya ke ‘lingkaran Pagi’. Tepat pukul 06. Dan kepala rombongan: mandor dengan kemarahan juga ketakutan yang ada di kepalanya, berteriak sambil menunjuk-nunjuk, “Kalian tak tahu kerja. Mana bisa potong pelepah sawit seperti mau bikin tempat jemuran. Emang mau gantung baju isterimu? Saya laporkan ke Manajer. Supaya kalian dipecat”. Lalu, ia pergi.

Dalam ketakutan dan rasa marah yang meluap-luap karena dimaki-maki, lelaki yang lari dari kampung karena tak lunas membayar mahar kawin isterinya itu, mulai mendorong dan menarik egreknya persis di janjangan buah sawit. Satu, dua, satu dua. Begitu terus sampai terpenuhi target sehari seratus janjang. Setelah itu ia memikulnya sejauh tiga ratus meter ke pinggir jalan poros untuk jumlah seitu.  Dengan ongkos empat juta sebulan, ia mendapat upah dibawah standar, janjinya enam juta. Tertunduk, pukul 03 Sore, ia menyender di pohon sawit dengan egrek berdiri miring di pohon lainnya.

Dan ia pun mulai menghitung-hitung dalam mimpinya: beras untuk makan, minyak goreng, segala bumbu dan lauk-pauk, sayur-mayur, pulsa untuk dia dan HP selingkuhannya’, make-up untuk isterinya, jajan untuk anak-anaknya, beli kuali dan periuk yang lebih besar lagi untuk menyaingi tetangganya, ongkos anak yang kuliah, tunggakan Gereja, utang rokok di warung, utang baju di mas Jawa, utang judi di kawannya. Juga tuntutan sida’ dari kampung untuk nikah keluarga, dan untuk sekolah anak pamannya. Karena kata orang kampung, ‘kalian di perantauan kaya-kaya, dapat gaji besar, jadi harus banyak juga kamu mengirim uang ke kampung’. Wah uang segitu, tak mampu menggenapi semuanya. “Lebih besar pasak dari pada tiang”, igaunya.

Syahdan, terguncang angin, egrek jatuh menghantam kaki kanannya. Bolong. Darah menyembur bercampur bau pesing—kencing dari celana. ‘Cu-ka mi-nyak’, ia mengigau lagi. Terus dalam mimpi, sambil tertatih-tatih di sore yang sepi, ia tak mau ke klinik.

‘Pelayanan buruk. Belum tentu ada obat, lagi pula uang sudah menipis. Tak ada asuransi kesehatan untuk kecelakaan kerja macam itu. Yang bisa dibuat, pakai kerahan air daun pepaya agar darah lekas berhenti. Selesai’, pikirnya.

Ia membaringkan diri di tilam ditemani isterinya yang mulai gugup karena hari mulai hujan dan atap-atap barak yang bocor tak diurus perusahan, air di penampungan mengeruh, bercampur tanah liat licin-kuning keemasan, kakus siap-siap meluap dan dengungan nyamuk makin kencang.

Persis, sebelum tidur ia ingat satu-satunya cara untuk menghilangkan rasa sakit, ketakutan, lelah dan kemarahan: meneguk sekotak komix, bercampur Alkohol Gajah 95 % diaduk bersama Teh Pepsi. “Ah mereka minum untuk mengingat, saya minum untuk melupakan”, begitu pikirnya mengulang kata-kata Pastornya yang juga sering minum Tuak.

Lalu berkat kumandang Doa Subuh, Allah Akbar, Allah Akbar, pukul 04 ia terbangun, mengucek-ngucek matanya dan sadar ternyata akhir-akhir ini gajinya tak sampai sejuta. Sawit tak banyak berbuah, mungkin karena sudah termakan usia puluhan tahun dan yang lain baru re-planting. Ia siap pergi kerja lagi. Entah sampai kapan jadi buruh. (Dian B).

TINGGALKAN BALASAN

Please enter your comment!
Please enter your name here