Baca Juga:
Kependudukan dan Keseimbangan Ekosistem Bumi

Santo Yohanes Paulus II pernah berkata: “Masyarakat modern tidak akan menemukan solusi atas persoalan ekologi KLIK UNTUK LANJUT MEMBACA

Oleh: Yohanes Wahyu Prasetyo OFM

  1. Pengantar

Hagar merupakan salah satu perempuan yang secara terpaksa dibuang oleh pelindungnya. Hagar diusir Abraham sebanyak dua kali. Dengan perantaraan malaikat, Allah menyelamatkan Hagar sebanyak dua kali. Kisah Hagar dalam Kejadian 16:1-16 dan Kejadian 21:9-21 memiliki model yang sama. Hagar diusir dan malaikat Allah memberikan perlindungan. Dalam tulisan ini, diuraikan lima pokok bahasan. Pertama, Sekilas Tentang Teks Kejadian 21:9-21. Kedua, Sekilas Tentang Hagar. Ketiga, Abraham Mengusir Hagar dan Ismael. Keempat, Malaikat TUHAN Menolong Hagar dan Ismael. Kelima, Relevansi Kisah Hagar dan Ismael dalam Menjalani Kehidupan Dewasa ini.

  1. Sekilas Tentang Teks Kejadian 21:9-21[1]

Kisah dalam tradisi Elohis tentang kelahiran Ishak merupakan rangkapan kisah pengusiran Hagar dan Ismael yang terdapat dalam versi Yahwis dalam Kejadian 16. Namun, ada perbedaan antara kedua versi tersebut.[2] Dalam Kejadian 16, yang menyebabkan Hagar dan Ismael diusir Abraham adalah kecemburuan Sara. Bukan karena kesombongan Hagar. Sara kawatir kalau warisan yang seharusnya didapatkan secara penuh oleh Ishak juga diterima Ismael. Dalam versi Elohis, Abraham bertindak lebih tegas terhadap tuntutan Sara. Sedangkan dalam versi Yahwis, Abraham memenuhi permintaan Sara setelah Allah memerintahkan agar berbuat demikian. Allah menjamin bahwa Ismael akan menjadi bapa dari bangsa yang besar.

Tradisi Elohis menggambarkan kepergian Hagar dengan sangat menyedihkan. Hidup Hagar dan Ismael terancam, kehabisan makanan dan minuman. Oleh karena itu, Allah turun tangan melalui utusan. Allah memberitahu kepada Hagar terkait dengan masa depan Ismael. Dengan bantuan Allah, Hagar menemukan sumber air. Ismael menjadi bapa orang-orang pengembara yang naik unta (Ismaelit), yang hidup di gurun antara Palestina dan Mesir. Mereka hidup dengan cara berburu dan merampok. Seperti dikatakan dalam Kejadian 21:20, ia menetap di padang gurun dan menjadi seorang pemanah.

Cerita dalam tradisi Elohis menghilangkan maksud etiologis dari versi Yahwis. Tradisi Yahwis lebih menghormati tokoh Abraham, bahkan Hagar pun ditampilkan dengan lebih baik daripada dalam Kejadian 16. Allah mengatur apa yang terjadi dengan menjamin masa depan, baik anak perjanjian maupun Hagar.

  1. Sekilas Tentang Hagar

Nama Hagar berarti “orang asing”. Dalam bahasa Arab, hajara berarti “pengembara”. Sedangkan dalam bahasa Etiopia, hagar berarti “agung”. Oleh karena itu, dapat dikatakan bahwa Hagar merupakan sosok perempuan asing yang tidak diterima dalam keluarga Abraham.[3] Hagar adalah budak Sara. Ketika Sara tidak dapat melahirkan anak, Hagar diberikan kepada Abraham untuk melahirkan anak yang kemudian dianggap sebagai anak Sara.[4]

Dalam pandangan masyarakat modern, inisiatif memberikan perempuan lain kepada suami supaya memperoleh anak terlihat aneh dan sangat memalukan. Namun, dalam hukum keluarga di Timur Tengah Kuno hal itu sudah biasa (umum). Perlu diketahui bahwa Sara hanya ingin meminjam rahim Hagar supaya mendapatkan anak. Dalam istilah zaman ini, Hagar bisa dipahami sebagai ibu pengganti.

Ketika Hagar mengandung anak Abraham, persoalan mulai muncul. Hagar merasa lebih tinggi dan merendahkan Sara, majikannya. Karena mendapat perlakuan yang tidak baik dari Hagar, Sara mengeluh dan marah kepada Abraham. Sejak saat itu, Abraham memberikan Sara kuasa atas Hagar, Hambamu itu di bawah kekuasaanmu; perbuatlah kepadanya apa yang kau pandang baik (Kejadian 16:6). Kemudian Sara menindas Hagar. Penindasan yang dilakusan Sara menjadikan hidup Hagar tidak nyaman. Oleh karena itu, Hagar melarikan diri dalam keadaan hamil dari keluarga Abraham.[5]

Ketika malaikat TUHAN menjumpai Hagar, Hagar duduk di dekat oasis padang gurun, di tepi jalan menuju Syur. Dalam tradisi Alkitabiah, kehadiran Malaikat merupakan tanda perhatian TUHAN. Hal ini memperlihatkan bahwa TUHAN tidak memandang muka ketika menunjukkan keadilan-Nya. TUHAN tidak melihat asal-usul Hagar, budak dan orang asing. Bagi TUHAN, orang yang mengalami kesulitan dan penderitaan harus mendapatkan pertolongan.

Malaikat TUHAN tidak membantu Hagar melarikan diri. Malaikat TUHAN meminta Hagar kembali kepada Sara, majikannya. Kembalilah kepada nonyamu, biarkanlah engkau ditindas di bawah kekuasaannya (Kejadian 16:9). Perintah Malaikat TUHAN kepada Hagar mengajarkan bahwa melarikan diri dari persoalan bukan solusi yang tepat. Untuk menguatkan hati Hagar, malaikat TUHAN menjanjikan anak laki-laki yang akan dilahirkannya. Janji yang diberikan malaikat TUHAN membuat Hagar optimis. Anak yang akan dikandung dan dilahirkan pada suatu saat mengangkat martabatnya sebagai perempuan. Meskipun status sosial Hagar adalah budak.

Perjumpaan dengan malaikat TUHAN merupakan pengalaman spiritual Hagar.[6] Di balik perjumpaan dengan malaikat TUHAN yang tampak biasa, Hagar mampu melihat maksud dan tujuan dari karya TUHAN tersebut. Sejak saat itu, Hagar menyebut TUHAN sebagai El-Roi, Allah telah melihatku.[7] Sedangkan Abraham menyebut TUHAN sebagai El Shaddai, Allah yang mahakuasa. Dalam penderitaan yang dialami, Hagar merasa bahwa Allah selalu melihat dan siap untuk menolongnya.[8]

Janji yang diberikan malaikat TUHAN kepada Hagar terpenuhi. Hagar melahirkan anak untuk Abraham dan diberi nama Ismael.[9] Malaikat TUHAN telah menubuatkan, Engkau mengandung dan akan melahirkan seorang anak laki-laki dan akan menamainya Ismael, sebab TUHAN telah mendengar tentang penindasan atasmu itu. Seorang laki-laki yang lakunya seperti keledai liar, demikianlah nanti anak itu; tangannya akan melawan tiap-tiap orang dan tangan tiap-tiap orang akan melawan dia, dan di tempat kediamannya ia akan menentang semua saudaranya (Kejadian 16:11-12). Dalam kisah selanjutnya, Hagar dan Ismael diusir dari keluarga Abraham dan tidak kembali lagi, dibiarkan bebas.

  1. Abraham Mengusir Hagar dan Ismael

TUHAN memenuhi janji-Nya kepada Sara. Sara melahirkan seorang anak dan memberi nama anak tersebut Ishak.[10] Pada awalnya, Sara merasa bahagia. Namun, ketika melihat Ismael bermain dengan Ishak, Sara tidak bisa menerima dan merasa cemburu. Sara kawatir apabila Ismael mendapat kasih dan perhatian dari Abraham. Karena Sara menghendaki supaya Ishak memperoleh kasih dan perhatian lebih dari Abraham. Oleh karena itu, Sara meminta Abraham mengusir Hagar dan Ismael. Sara mengatakan kepada Abraham bahwa Hagar dan Ismael tidak mempunyai hak mendapatkan warisan.

Ketika mendengarkan permintaan Sara, Abraham merasa kecewa dan sebal.[11] Karena Abraham tidak menghendaki permintaan Sara. Selain itu, Abraham juga mengasihi Ismael. Namun, Abraham terpaksa mengabulkan keinginan Sara.[12] Sebagaimana dikatakan dalam Alkitab, TUHAN meminta Abraham mengikuti kemauan Sara. Janganlah sebal hatimu karena hal anak dan budakmu itu; dalam segala yang dikatakan Sara kepadamu, haruslah engkau mendengarkannya, sebab yang akan disebut keturunanmu ialah yang berasal dari Ishak (Kejadian 21:12). Selanjutnya, TUHAN menguatkan hati Abraham dan menjanjikan Ismael (anaknya dari Hagar) menjadi bangsa besar. Keturunan dari hambamu itu juga akan Kubuat menjadi suatu bangsa, karena ia pun anakmu (Kejadian 21:13).[13]

Akhirnya, untuk kedua kalinya, Hagar dan Ismael diusir dari rumah Abraham. Hagar dan Ismael tidak kembali lagi kepada Abraham. Hagar tidak lagi menjadi budak Sara. Hagar menjadi perempuan bebas, merdeka. Tidak lagi menjadi objek penindasan dan korban.  Namun, Hagar harus berjuang untuk menghidupi Ismael dan dirinya sendiri. Pada titik tertentu Hagar merenungkan bahwa menjalani hidup sebagai orang merdeka dan madiri bukan perkara mudah.

Hagar mengembara di padang gurun Bersyeba[14] dan mempunyai keinginan untuk kembali ke Mesir. Namun, di tengah perjalanan bekal yang dibawa Hagar habis. Hagar menderita kehausan dan kelaparan. Ketika menjadi budak di rumah Abraham, Hagar memperoleh makanan dan minuman yang cukup. Ketika berada di padang gurun, Hagar tidak bisa berbuat apa-apa. Pada saat yang sama Ismael dalam keadaan sekarat. Hagar tidak mempunyai cara untuk mempertahankan Ismael supaya tetap hidup dan juga dirinya sendiri. Kemudian Hagar meletakkan Ismael di semak-semak agar tidak tersengat matahari. Sambil melihat Ismael dari kejauhan, Hagar menangis dan berkata, Tidak tahan aku melihat anak itu mati (Kejadian 21:16). Hagar mengalami depresi berat. Dalam keadaan sendiri, Hagar harus berjuang untuk menyelamatkan anaknya.

  1. Malaikat TUHAN Menolong Hagar dan Ismael

Allah tidak membiarkan Hagar meninggal. Karena Hagar mempunyai tugas penting, membimbing Ismael. Oleh karena itu Allah berkata, Bangunlah, angkatlah anak itu, dan bimbinglah dia, sebab Aku akan membuat dia menjadi bangsa yang besar (Kejadian 21:18). Allah membuka mata Hagar dan menunjukkan sumur (oasis) yang ada di padang gurun.[15] Karena hatinya penuh kesedihan (merasa ditinggalkan dan putus asa), Hagar tidak dapat melihat sumur tersebut.[16]

Setelah melalui proses yang panjang, usaha Allah membuka mata Hagar berhasil. Hagar dapat melihat sumur dan memberi Ismael minum sehingga bisa hidup kembali. Hagar dan Ismael tinggal di padang gurun Paran dalam perlindungan dan penyertaan Allah. Hagar mengambil seorang isteri untuk Ismael dari tanah Mesir. Seperti Yakub, Ismael memiliki dua belas anak. Hagar menjadi leluhur dua belas suku Israel (Kejadian 25:12-15). Kemungkinan Hagar adalah leluhur dari kaum Hagar. Kaum Hagar adalah penghuni kemah-kemah Edom yang disebutkan bersama dengan kaum Ismael dalam Mazmur 83:7. Karena posisinya sebagai leluhur bangsa-bangsa non-Israel, tidak mengherankan jika dalam al-Quran dan beberapa Midrash Yahudi, Hagar dipandang sebagai tuan puteri.[17]

  1. Relevansi Kisah Hagar dan Ismael untuk Menjalani Kehidupan Dewasa ini

Realita kehidupan dewasa ini memperlihatkan ada banyak peristiwa yang mengisahkan seorang isteri ditinggalkan suami. Ada banyak faktor dan alasan yang menyebabkan isteri ditinggalkan suami. Misalnya, suami meninggal karena mengikuti perang demi membela dan mempertahankan tanah air. Suami meninggal karena menderita sakit parah. Selain itu, terjadi keretakan rumah tangga yang berakibat pada perceraian. Dalam keadaan seperti ini, ada isteri yang bisa menerima, menanggung beban yang ada, dan menjalaninya dengan baik. Tetapi ada juga isteri yang tidak bisa menerima, putus asa, dan tidak mempunyai harapan hidup lagi.

Seperti dijelaskan sebelumnya, Hagar lahir sebagai budak. Hagar mengabdi pada keluarga Abraham dan diusir dari keluarga yang seharusnya memberikan perlindungan. Peristiwa pengusiran terjadi karena Sara sangat cemburu dengan kehadiran Hagar dan Ismael. Dalam keadaan seperti ini, Hagar harus berjuang sendirian. Mempertahankan hidup Ismael dan dirinya sendiri. Pada titik tertentu, Hagar merasa putus asa dan tidak mempunyai harapan lagi. Karena tidak ada orang yang membantu, Hagar hampir membuang Ismael.

Pada akhirnya Hagar mampu bangkit, malaikat TUHAN memberikan pertolongan. Hagar menjadi leluhur bangsa-bangsa di sekitar bangsa Israel (Yakub), cucu dari keponakannya sendiri. Hal ini memperlihatkan bahwa Allah tetap setia pada janji-Nya, tidak membiarkan Hagar dan Ismael mati dalam penderitaan. Kisah Hagar dan Ismael dapat ditempatkan sebagai simbol perempuan tertindas. Dalam keadaan tertindas, Hagar mampu bertahan dan bangkit dari keterpurukan. Namun, ini bukan pertama-tama kisah Hagar, tetapi kisah Allah yang tidak bisa diam saja ketika ada orang yang menderita dan putus asa.[18] Allah tetap peduli dan mengasihi siapa saja tanpa memandang muka, suku, asal-usul, dan sebagainya.

Kita harus meyakini kasih Allah mengalir terus-menerus. Allah memberikan pertolongan, membantu setiap orang yang mengalami penderitaan dan penindasan. Allah mengulurkan tangan-Nya untuk merangkul orang-orang yang merasa diri ditinggalkan, putus asa, dan tidak mempunyai harapan hidup. Oleh karena itu, seberapa pun berat permasalahan yang kita hadapi saat ini, kita harus percaya bahwa Allah tidak pernah meninggalkan kita. Allah selalu memberikan yang terbaik dan membantu mengatasi kesulitan dan beban hidup yang kita rasakan. Ketika ditinggalkan suami, kita harus yakin bahwa Allah selalu menyertai dan memberikan pertolongan. Karena Allah sangat mencintai dan menyayangi kita, sekalipun kita adalah pendosa. Perlu diingat kasih Allah bersifat universal, berlaku untuk siapa saja.

  1. Penutup

Keputusan Allah tidak terselidiki. Selain itu, jalan-Nya juga tidak terselami. Dia memilih yang satu, tanpa menolak yang lain. Memperkaya yang seorang, tanpa merugikan yang lain. Dia ingin mempersatukan yang tercerai berai. Demikian berita gembira yang kita peroleh dari kisah yang sangat memilukan ini. Allah mempunyai rencana besar. Tetapi rencana ini hanya bisa terlaksana kalau ada yang mau berkorban seperti Abraham. Allah bekerja melalui kelemahan-kelemahan manusiawi. Abraham yang kita lihat dalam kisah tersebut adalah orang yang mempunyai iman kuat.

Allah memilih Ishak, tetapi Dia juga memberkati dan menyertai Ismael. Hagar diusir dan dibuang oleh tuannya. Tetapi Allah menerima dia dan mendengarkan jeritan hatinya. Di hadapan Allah tidak ada orang yang terbuang. Dia adalah Allah yang senantiasa mengangkat orang yang hina dina. Jika Allah murah hati kepada yang seorang, itu tidak berarti bahwa Dia bertindak tidak adil terhadap yang lain. Allah itu lebih murah hati daripada adil.

[1] Pembahasan pada bagian ini disarikan dari Dianne Bergant dan Robert J. Karris, Tafsir Alkitab Perjanjian Lama, Terj. A.S. Hadiwiyata (Yogyakarta: Kanisius, 2002), 59.

[2] Kejadian 21 dan Kejadian 16 berawal dari suatu persoalan yang ingin diselesaikan. Selanjutnya masing-masing kisah bergerak sendiri-sendiri. Perbedaan yang paling mencolok bahwa dalam Kejadian 21 campur tangan Allah sudah terjadi pada babak pertama, sedangkan dalam Kejadian 16 tidak. Dalam Kejadian 16 unsur ketegangan sama sekali tidak ada. Lih. Berthold A. Pareira, Abraham: Imigran Tuhan dan Bapa Bangsa-Bangsa (Malang: Dioma, 2004), 201.

[3] Albertus Purnomo, “Hagar: yang Terbuang, yang Dilindungi”, Rohani (Januari 2017), 21.

[4] Menurut hukum Mesopotamia, seorang isteri yang mandul mempunyai hak memberikan kepada suaminya seorang hamba perempuan sebagai isteri muda. Anak-anak yang lahir dari hubungan itu dianggap anak isteri pertama. Hal yang sama terjadi dengan Rahel (Kejadian 31:1-6) dan Lea (Kejadian 30:9-13). Lih. Lembaga Alkitab Indonesia, Kitab Suci Katolik (Ende: Percetakan Arnoldus Ende, 2011), 48. Mandul dalam Kitab Suci merupakan ungkapan keyakinan iman bahwa manusia sendiri tidak dapat berbuat apa-apa tanpa bantuan dari Allah. Anak-anak yang lahir adalah pemberian dari Allah. Oleh karena itu, proses kelahiran seorang anak bukanlah proses biologis semata. Tetapi ada campur tangan Allah, ada berkat Allah yang menyertai proses tersebut. Lih. Leo Van Beurden, How to Enjoy the Holy Bible, Penyun. F. Fanny, dkk (Jakarta: Obor, 2004), 42.

[5] Di sini, tampak dua sisi negatif dari kedua perempuan itu. Hagar menjadi arogan karena bernasib lebih baik daripada majikannya, sementara Sara menjadi cemburu karena nasib baik Hagar. Dua sisi negatif yang tidak dapat dikontrol ini akhirnya membuahkan penderitaan pada Hagar. Lih. Albertus Purnomo, “Hagar: …”, 21.

[6] Dalam tradisi Bapa-Bapa Bangsa lebih sering tampil seperti manusia biasa daripada makhluk bersayap. Lih. Albertus Purnomo, “Hagar: …”, 44.

[7] Leo Van Beurden, How to Enjoy the Holy Bible, 54.

[8] Albertus Purnomo, “Hagar: …”, 22.

[9] Ismael artinya Allah mendengarkan. Lih. Berthold A. Pareira, Abraham: …, 201.

[10] Ishak berarti yang ditertawakan, yang membuat kita tertawa, sesuatu yang sebelumnya dianggap mustahil. Lih. Leo Van Beurden, How to Enjoy the Holy Bible, 54.

[11] Bagi Abraham, permintaan Sara itu terasa bengis. Perasaan Abraham yang bertentangan dengan Sara ini pasti menimbulkan konflik dan rasanya seperti tidak ada jalan keluar. Lih. Berthold A. Pareira, Abraham: …, 204.

[12] Abraham mendengarkan Sara bukan karena usul istrinya itu baik, melainkan karena Allah sudah mempunyai suatu rencana. Yang disebut keturunan Abraham ialah yang berasal dari Ishak karena hanya dialah anak perjanjian, artinya yang lahir berdasarkan janji dan menjadi pewaris perjanjian Allah dengan Abraham. Akan tetapi, berkat Allah juga akan diberikan kepada keturunan Hagar karena dia benar-benar anak Abraham. Dia akan menjadi suatu bangsa yang besar. Penyelesaian konflik ini memang pahit, tetapi berkatnya baru akan dilihat kemudian. Lih. Berthold A. Pareira, Abraham: …, 205.

[13] Meskipun dilahirkan oleh seorang budak, Allah menegaskan bahwa Ismael adalah anak Abraham. Abraham merupakan bapa banyak bangsa, bukan hanya bangsa Israel. Tetapi juga bangsa bukan Israel. Janji Tuhan kepada Abraham akan suatu bangsa yang besar, ternyata tidak hanya melalui Ishak saja, tetapi juga Ismael; tidak hanya dari istri yang sah, tetapi juga dari budaknya. Lih. Albertus Purnomo, “Hagar: …”, 22.

[14] Bersyeba terletak di tanah Negeb (=selatan), di timur Gerar. Lih. Berthold A. Pareira, Abraham: …, 206.

[15] Jika dikatakan Allah membuka mata Hagar; ini berarti bahwa Allah sedang membangkitkan harapan Hagar. Entah bagaimana cara Allah, yang jelas Hagar mampu bangkit kembali dan hidupnya tidak diliputi kegelapan. Mata terbuka berarti harapan kembali bersinar. Lih. Albertus Purnomo, “Hagar: …”, 23.

[16] Ketika orang dalam kondisi seperti Hagar, biasanya ia tidak bisa melihat kemungkinan lain atau harapan untuk hidup. Semuanya gelap. Lih. Albertus Purnomo, “Hagar: …”, 23.

[17] Albertus Purnomo, “Hagar: …”, 23.

[18] Albertus Purnomo, “Hagar: …”, 23.

Daftar Pustaka

 Bergant, Dianne dan Robert J. Karris. Tafsir Alkitab Perjanjian Lama. Penerj. A.S. Hadiwiyata. Yogyakarta: Kanisius, 2002.

Baca Juga:
Memahami Keadilan Perspektif Biblis (Bagian I)

Oleh: P. Peter C. Aman, OFM Pengantar Keadilan merupakan intisari moralitas. Di mana-mana orang berbicara KLIK UNTUK LANJUT MEMBACA

Beurden, Leo Van. How to Enjoy the Holy Bible. Penyun. F. Fanny, dkk. Jakarta: Obor, 2004.

Lembaga Alkitab Indonesia. Kitab Suci Katolik. Ende: Percetakan Arnoldus Ende, 2011.

Pareira, Berthold A. Abraham: Imigran Tuhan dan Bapa Bangsa-Bangsa. Malang: Dioma, 2004.

Purnomo, Albertus. “Hagar: yang Terbuang, yang Dilindungi.” Rohani, Januari 2017, 21-23.

TINGGALKAN BALASAN

Please enter your comment!
Please enter your name here