Baca Juga:
Budaya Konsumerisme Menghancurkan Alam

Sebuah fakta yang tidak terbantahkan adalah bahwa hidup manusia sangat tergantung pada alam. Sejarah manusia KLIK UNTUK LANJUT MEMBACA

Oleh: Yohanes Wahyu Prasetyo OFM

  1. Pengantar

Perumpamaan tentang tanah, sebagaimana dikisahkan dalam Lukas 8:4-15,[1] juga terdapat dalam Markus 4:1-20 dan Matius 13:1-23. Perumpamaan tersebut menunjukkan dua gagasan.[2] Pertama, peringatan dan ajakan kepada semua orang untuk mendengarkan, memahami, meresapkan, dan mengaktualisasikan Firman Allah. Kedua, menyadarkan kepada para pewarta Firman Allah, bahwa tidak semua pewartaan yang disampaikan membuahkan hasil.[3] Selanjutnya, supaya dapat memahami “Perumpamaan Tentang Tanah” secara mendalam, penulis menguraikan dan membagi tulisan ini menjadi empat bagian. Pertama, Problematika Pewartaan Firman Allah. Kedua, Rahasia Kerajaan Allah. Ketiga, Menyingkap Rahasia Kerajaan Allah dalam “Perumpamaan Tentang Tanah”. Keempat, Nilai dan Makna Perumpamaan Tentang Tanah.

  1. Problematika Pewartaan Firman Allah

Banyak orang berbondong-bondong untuk menemui, melihat, dan mendengarkan Yesus. Namun, Yesus mengetahui bahwa sebagian besar diantara mereka, tidak sungguh-sungguh mendengarkan, memahami, meresapkan, dan mengaktualisasikan Firman Allah yang disampaikan-Nya.[4] Hal ini selaras sebagaimana disampaikan “Amsal Para Bapa Leluhur” (Kitab Aboth 5:15), ada empat kategori pendengar.[5] Pertama, kategori “bunga karang”, menghisap habis segala-galanya. Kedua, kategori “corong”, dari ujung yang satu masuk berbagai macam bahan, tetapi bahan-bahan tersebut keluar melalui ujung yang lain. Ketiga, kategori “saringan”, membiarkan anggur yang baik lewat, tetapi menahan ampas. Keempat, kategori “tapisan tahu”, membiarkan airnya lewat, tetapi menahan apa yang berharga sebagai makanan.

Dalam narasi perumpamaan[6] tentang tanah, Yesus menggunakan analogi pertanian. Ketika sebidang tanah ditaburi benih[7] (misalnya benih gandum), akan terjadi empat kemungkinan.[8] Pertama, benih jatuh di atas “jalan yang padat dan keras”. Akibatnya, sebagian benih diinjak-injak orang.[9] Sedangkan benih yang lain dimakan oleh burung. Dengan demikian, benih tersebut tidak dapat tumbuh, bahkan tidak berkecambah. Kedua, benih jatuh di atas “batu” yang lapisan tanahnya sangat tipis. Benih tersebut berkecambah dan tumbuh dalam waktu yang relatif singkat. Karena benih tersebut akarnya pendek, dangkal. Hal ini menimbulkan kesulitan dalam mencari sari makanan yang dibutuhkan. Secara otomatis, benih tersebut akan mati, kekurangan sari makanan.

Ketiga, benih jatuh di tanah yang telah dipersiapkan dengan baik. Kondisi tanah yang telah dipersiapkan, memungkinkan benih tumbuh dan menjadi besar. Namun, di tanah yang sama, terdapat akar “rerumputan berduri”. Benih yang telah tumbuh dan menjadi besar, bersaing dengan rerumputan berduri dalam mempertahankan hidup (mencari sari makanan). Hasil akhirnya, rerumputan berduri menang (bertahan hidup), sedangkan benih tersebut kalah (kekurangan sari makanan dan mati). Keempat, benih jatuh di “tanah yang baik”. Benih tersebut berkecambah, menjadi besar, dan membuahkan hasil seratus kali lipat.[10]

Narasi perumpamaan tentang tanah diakhiri dengan seruan yang sangat bermakna, “Siapa mempunyai telinga untuk mendengar, hendaklah ia mendengar!”. Oleh karena itu, dapat dikatakan bahwa memahami perumpamaan hanya dengan otak (nalar) saja tidak cukup. Karena kebenaran (yang akan disingkapkan) dalam perumpamaan tersebut harus ditemukan dan diterima dengan hati. Supaya pesan yang ingin dikemukakan dalam perumpamaan tersebut meresap ke dalam hati dan akhirnya tersingkap. Selanjutnya, akan ditunjukkan syarat yang memungkinkan untuk memahami arti perumpaan tentang tanah, yaitu mengakui dan percaya bahwa Yesus adalah Mesias.[11]

  1. Rahasia Kerajaan Allah

Para murid bertanya kepada Yesus tentang arti dan makna perumpamaan tentang tanah.[12] Dalam Markus 4:10 dan Matius 13:10, para murid memberikan pertanyaan yang sifatnya umum. Selanjutnya, Yesus memberikan jawaban yang juga bersifat umum. Sebagaimana diuraikan dalam Lukas 8:11-15, Yesus menyampaikan arti dan makna perumpamaan tersebut.

Setiap orang yang menjadi warga Kerajaan Allah[13], harus percaya dan mengakui eksistensi Yesus. Karena segala sesuatu yang berkaitan dengan Kerajaan Allah merupakan rahasia. Oleh karena itu, kita dapat berbicara tentang rahasia Kerajaan Allah dalam bentuk jamak. Selain itu, Kerajaan Allah yang hadir di dunia melalui Yesus, tidak dapat ditahan dan akan memperoleh kemenangan. Namun, kebenaran tentang datangnya Kerajaan Allah adalah perkara iman, sebab kita belum melihatnya. Dengan kata lain, adanya Kerajaan Allah bersifat rahasia, karena realitas Kerajaan Allah belum dinyatakan secara terang-terangan.

Sebagaimana dilukiskan dalam Lukas 8:10[14], para murid Yesus diberi karunia untuk mengetahui rahasia Kerajaan Allah. Karena para murid mengetahui dan mengenal pribadi Yesus. Selain itu, para murid mempunyai keyakinan bahwa Kerajaan Allah dapat diketahui ketika setiap orang berjumpa secara pribadi dengan Yesus. Melalui “mata iman”, setiap orang akan melihat kemuliaan Kerajaan Allah dalam diri Yesus.[15] Oleh karena itu, harus dipahami bahwa kepercayaan dan pengharapan yang dimiliki setiap orang akan adanya Kerajaan Allah merupakan karunia Allah.[16]

Kemudian muncul sebuah pertanyaan tentang relasi antara rahasia Kerajaan Allah dan pembicaraan yang menggunakan perumpamaan. Pertanyaan ini dapat dijawab, bahwa suatu perumpamaan digunakan untuk berbicara secara tidak langsung tentang rahasia Kerajaan Allah. Terkait dengan hal ini, para murid Yesus memahami perumpaan yang disampaikan-Nya. Sedangkan yang lain barangkali menduga bahwa perumpamaan tersebut merupakan kisah yang mempunyai kaitan dengan “hal-hal rohani” atau pun Kerajaan Allah. Tetapi mereka tidak mengetahui bahwa Kerajaan Allah sudah datang melalui kehadiran Yesus.[17]

Kalimat “supaya sekalipun memandang, mereka tidak melihat dan sekalipun mendengar, mereka tidak mengerti” (Lukas 8:10), mengingatkan kita pada Yesaya 6:9-10. Pernyataan dalam Yesaya 6:9-10, mempunyai peranan penting dalam diskusi antara orang Kristen dan orang Yahudi. Dikatakan bahwa Allah telah menetapkan lebih dahulu bahwa hati orang Yahudi akan dikeraskan sedemikian rupa. Supaya karya keselamatan Allah berkembang dan menjangkau seluruh negeri. Sedangkan Lukas juga mengetahui bahwa manusia mempunyai kapasitas untuk berbicara tentang Kerajaan Allah. Tetapi, pembicaraan tersebut jangan sampai hanya pada tataran otak (nalar) dan logika kemanusiaan.[18] Dengan kata lain, setiap orang diminta untuk membicarakan Kerajaan Allah dalam terang iman dan penuh dengan kerendahan hati. Hal ini dimaksudkan supaya setiap orang mensyukuri rahmat keselamatan[19] yang diberikan Allah.

Kata “supaya” tidak dapat dibedakan dengan “sehingga”.[20] Selain itu, kata-kata yang lebih tajam sebagaimana terdapat dalam Markus 4:12 (“supaya jangan mereka itu bertobat dan diselamatkan”) tidak terdapat dalam Lukas 8:10. Namun, kata-kata sebagaimana ada dalam Markus 4:12, terdapat pada Lukas 8:12 (“supaya mereka jangan percaya dan diselamatkan”).[21] Dengan demikian, apabila ada orang tidak percaya kepada pemberitaan Kerajaan Allah (seperti pemimpin-pemimpin Yahudi), maka bukan Allah yang bersalah, tetapi orang itu sendiri.

  1. Menyingkap Rahasia Kerajaan Allah dalam “Perumpamaan Tentang Tanah”

Perumpamaan[22] tidak seperti foto yang kita perhatikan dari dekat. Kemudian kita melihat bahwa setiap bagiannya bagus dan indah. Apabila perumpamaan diterangkan sedemikian rupa, maka akan muncul berbagai macam kesukaran. Misalnya kata “benih” sebagaimana digambarkan dalam perumpamaan tentang tanah mempunyai dua makna.[23] Pertama, Firman Allah yang diberitakan. Kedua, orang-orang yang menerima Firman Allah. Selain itu, orang-orang tersebut juga diartikan sebagai “ladang”, yaitu tempat yang digunakan untuk menaburkan benih.[24] Namun, perlu diperhatikan bahwa tidak dikatakan tentang sesuatu apa pun tentang penabur.[25]

Suatu perumpamaan lebih sebagai suatu lukisan. Kita harus berdiri lebih jauh dan memandang lukisan tersebut secara keseluruhan. Supaya mendapatkan kesan sebagaimana dimaksudkan oleh pelukis. Dengan demikian, maksud dari perumpamaan tersebut menjadi jelas. Di satu sisi, terdapat berbagai macam pendengar, sehingga ada banyak benih yang harus ditaburkan. Tetapi, di sisi lain, kita mendapatkan penghiburan berupa janji atau pengharapan, bahwa pada akhirnya akan ada panen yang baik dan berlimpah.

Dalam perumpamaan tentang tanah, terdapat empat macam pendengar. Pertama, orang-orang yang sama sekali tidak mencurahkan perhatian kepada Firman Allah yang diberitakan kepada mereka. Kedua, orang-orang yang perasaannya digerakkan dalam waktu yang tidak lama, singkat. Tetapi tidak membiarkan Firman Allah meresap ke dalam hati. Sehingga Firman Allah tidak menguasai hidup mereka. Akibatnya, mereka murtad dalam masa pencobaan.

Ketiga, orang-orang yang kelihatannya menerima Firman Allah, sehingga mereka menggabungkan diri dengan jemaat Kristen. Tetapi ada berbagai macam tantangan, seperti halnya benih yang tumbuh diantara “rerumputan berduri”.[26] Oleh karena itu, setiap orang tidak cukup hanya menyandang status sebagai Kristen. Karena iman yang tidak diaktualisasikan dalam kehidupan sehari-hari tidak ada artinya. Keempat, orang-orang yang mendengarkan Firman Allah (menerima dan memegang-Nya), sehingga meresap dalam hati dan mengubah hidup menjadi lebih baik.

“Mendengarkan firman itu, menyimpannya dalam hati yang baik dan mengeluarkan buah dalam ketekunan”, demikianlah kalimat terakhir dalam Lukas 8:15. Sebagaimana kata “pencobaan” merupakan istilah yang digunakan untuk menunjukkan adanya “penganiayaan”. Demikian pula dengan kata “ketekunan”, menunjukkan adanya “kesetiaan” dan “ketabahan hati” ditengah-tengah penganiayaan. Karena dalam penganiayaan, orang-orang Kristen akan mengetahui rahasia Kerajaan Allah, bahwa Yesus akan datang untuk membawa keselamatan. Dengan demikian, Kerajaan Allah tersingkapkan.

  1. Nilai dan Makna Perumpamaan Tentang Tanah

Berdasarkan Lukas 8:4-15, terdapat tiga nilai dan makna yang dikemukakan. Pertama, harapan eskatologis. Kedua, karunia untuk mengetahui Kerajaan Allah. Ketiga, cara mendengarkan firman Allah. Perlu diketahui bahwa perumpamaan[27] tersebut menunjukkan visi Yesus yang optimis berkaitan dengan hal ihwal Kerajaan Allah. Oleh karena itu, periode awal pewartaan Kerajaan Allah tidak hanya mencakup periode pelayanan Yesus, melainkan sampai pada periode Gereja dewasa ini, di mana mengalami pelbagai hambatan dan kegagalan. Berdasarkan pengalaman para petani, kita dapat belajar bahwa kegagalan tidak menjadi masalah. Dengan demikian, kita tetap boleh mengharapkan suatu hasil berlimpah pada saat panen, yaitu penyelesaian Kerajaan Allah pada akhir zaman.

Banyak orang menerima pewartaan Firman Allah, tetapi hanya sedikit yang menjadi orang benar dan beriman. Perumpamaan tentang tanah digunakan untuk menjelaskan realitas tersebut sebagai akibat dari pelbagai cara mendengarkan Firman Allah.[28] Orang yang mendengarkan Firman Allah tanpa memberi-Nya tempat di dalam hatinya, tidak membuat-Nya berakar secara mendalam, tidak memprioritaskan-Nya di atas kecemasan akan kebutuhan hidup sehari-hari dan bujukan harta kekayaan, akhirnya tidak memperoleh hasil dalam bentuk apa pun.

Tetapi orang yang menerima Firman Allah dengan segenap hati dan akal budi, memperoleh hasil gemilang dan sudah mulai tampak dalam hidup yang benar (saat ini) dan berlimpah ruah dalam hidup kekal. Berdasarkan penjelasan tersebut, perumpamaan tentang hal ihwal Kerajaan Allah berubah menjadi alegori tentang cara setiap orang menyambut Firman Allah, menerima atau menolak.

Dalam perumpamaan tentang tanah, pembaca dihadapkan dengan persoalan yang sulit. Mengapa para murid-Nya boleh menerima Firman Allah dan orang lain tidak? Jawabannya pertama-tama menegaskan bahwa pengertian tentang rencana keselamatan Allah merupakan karunia Allah sendiri. Oleh karena itu, berbahagialah orang yang menerima-Nya. Kemudian muncul pertanyaan berkaitan dengan realitas bahwa kebanyakan orang tidak menerima karunia Allah. Hal ini terjadi karena mereka berkeras hati, sehingga tidak mengerti perumpamaan Yesus.

Persoalan yang lebih sulit yaitu apakah Yesus menggunakan perumpamaan untuk membiarkan bangsa Yahudi dalam kekerasan hati atau justru membuat hati mereka lebih keras lagi. Perlu diketahui bahwa Yesaya pernah diutus untuk membuat bangsa Israel yang berkeras hati semakin berkeras hati. Hal ini dimaksudkan supaya Allah dapat membersihkan bangsa Israel dan mempersiapkan tunas baru.

Apakah Yesus berbicara dengan menggunakan perumpamaan supaya orang banyak tidak melihat, mendengar, mengerti, dan bertobat? Seandainya demikian yang dimaksudkan oleh Yesus, sesungguhnya apa rencana Allah? Kekerasan hati dan penolakan Israel mendorong para pewarta Firman Allah berbalik kepada bangsa-bangsa lain dan dengan demikian menerima Firman Allah. Sedangkan menurut Paulus, bangsa-bangsa tersebut pada gilirannya membuat Israel cemburu, sehingga Israel diselamatkan (Roma 11:11, 25).

  1. Penutup

            Yesus menarik perhatian banyak orang, supaya mereka memahami makna yang lebih dalam dari pengajaran-Nya. Hal ini seringkali dilakukan Yesus untuk menggerakkan pendengar-Nya, supaya memperhatikan-Nya dengan lebih baik. Ketika para murid meminta Yesus menjelaskan makna dari perumpamaan-Nya, Yesus memberikan jawaban bahwa “misteri” (tanda-tanda yang tersembunyi) dari Kerajaan Allah[29] telah disingkapkan kepada mereka (para murid).[30] Selain itu, Yesus tidak menghendaki pendengar-Nya (siapa pun mereka), dihalang-halangi untuk memahami pengajaran-Nya. Oleh karena itu, Yesus menggunakan kutipan Yesaya 6:9 untuk melukiskan kenyataan bahwa beberapa orang akan melihat tetapi tidak menangkap dan mendengar tetapi tidak memahami. Hal ini terjadi karena hati mereka keras.

Daftar Pustaka

Alkitab Deuterokanonika. Jakarta: Lembaga Biblika Indonesia, 2009.

Bergant, Dianne dan Robert J. Karris. Tafsir Alkitab Perjanjian Baru. Penerj. A.S. Hadiwiyata. Yogyakarta: Kanisius, 2002.

Boland, B.J. Tafsiran Lukas (1-9:50) I. Jakarta: BPK Gunung Mulia, 1977.

Browning, W.R.F. Kamus Alkitab. Penerj. Lim Khiem Yang dan Bambang Subandrijo. Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2007.

Dufour, Xavier Leon. Ensiklopedi Perjanjian Baru. Pernerj. A.S. Hadiwiyata. Yogyakarta: Kanisius, 1990.

Edwards, O.C. Injil Lukas Sebagai Cerita: Berkenalan dengan Narasi Salah Satu Injil. Penerj. M.M. Hendriks Ririmasse. Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2002.

O’Collins, Gerald dan Edward G. Farrugia. Kamus Teologi. Penerj. I. Suharyo. Yogyakarta: Kanisius, 1996.

Groenen, C. Peristiwa Yesus. Yogyakarta: Kanisius, 1979.

Jacobs, Tom. Lukas Pelukis Hidup Yesus. Jakarta: Cipta Loka Caraka, 1988.

Kii, J. Bili (editor). Panduan Membaca Injil Lukas: Yesus Cinta Allah. Yogyakarta: Kanisius, 1993.

Leks, Stevan. Tafsir Injil Lukas. Yogyakarta: Kanisius, 2003.

Riyadi, St. Eko. Lukas: Sungguh Orang Ini Adalah Orang Benar. Yogyakarta: Kanisius, 2011.

[1] Perlu diketahui bahwa tulisan dalam Lukas, secara garis besar mengikuti bahan-bahan yang terdapat dalam Injil Markus. Lih. B.J. Boland, Tafsiran Lukas (1-9:50) I (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 1977), 167. J. Bili Kii (editor), Panduan Membaca Injil Lukas: Yesus-Cinta Allah (Yogyakarta: Kanisius, 1993), 14. Dianne Bergant dan Robert J. Karris, Tafsir Alkitab Perjanjian Baru, Penerj. A.S. Hadiwiyata (Yogyakarta: Kanisius, 2002), 130.

[2] B.J. Boland, Tafsiran Lukas (1-9:50) I, 167.

[3] Yesus justru menekankan bahwa kendati sebagian tidak berhasil, tetap ada hasil yang 100 kali lipat. Itu mengimbangi segala kegagalan dan kekecewaan. Maka tekanan tidak pada orang yang “tidak percaya” (ayat 12), percaya sebentar saja, lalu menjadi murtad (ayat 13), atau memang percaya namun “tidak menghasilkan buah yang matang” (ayat 14). Tekanan ada pada orang yang “setelah mendengar firman, menyimpan dalam hati, dan mengeluarkan buah dalam ketekunan” (ayat 15). Lih. Tom Jacobs, Lukas Pelukis Hidup Yesus (Jakarta: Cipta Loka Caraka, 1988), 33.

[4] Dalam perumpamaan tentang tanah, para pendengar tidak segera menangkap apa yang dikatakan Yesus. Mereka masih mengalami kebingungan, sehingga Yesus harus menjelaskannya. Hal ini dimungkinkan dalam sebuah perumpamaan. Karena orang masih bisa berpikir, apakah tafsiranku atas sebuah perumpamaan memang seperti yang dimaksudkan oleh pembicara. Lih. St. Eko Riyadi, Lukas: Sungguh, Orang Ini Adalah Orang Benar (Yogyakarta: Kanisius, 2011), 124.

[5] B.J. Boland, Tafsiran Lukas (1-9:50) I, 168.

[6] Perumpamaan dapat diartikan sebagai proses mengajar dengan menggunakan perbandingan: cerita yang berbeda panjangnya dan mengandung arti, dengan selalu ada unsur metaforanya. Dalam pengajaran Yesus, ungkapan nyata yang pendek-pendek (aforisme, seperti Mat 24:28) berjajaran dengan pengajaran perumpamaan yang panjang (Mat 25:1-13) dan kumpulan pengajaran itu tidak mesti disampaikan kepada ‘orang banyak’ mungkin itu disampaikan kepada kelompok-kelompok akrab dalam suatu percakapan. Ada orang-orang yang sangat berkeinginan dan berperhatian, atau hanya ingin tahu yang mengundang Yesus untuk perjamuan malam (Luk 14:15 dst.). Lih. W.R.F. Browning, Kamus Alkitab, Penerj. Lim Khiem Yang dan Bambang Subandrijo (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2007), 356.

[7] Benih itu adalah Sabda Allah, yang akan menghasilkan buah dalam hati yang terbuka (tanah yang subur), tetapi tidak dapat berbuah di tanah yang lain karena sejumlah alasan: burung-burung=iblis; tak berair=menderita di bawah penganiayaan; duri=kekayaan dan kenikmatan. Lih. Dianne Bergant dan Robert J. Karris, Tafsir Alkitab Perjanjian Baru, 130.

[8] B.J. Boland, Tafsiran Lukas (1-9:50) I, 168.

[9] Unsur ini tidak digunakan lagi dalam penjelasan Lukas 8:12. Lih. B.J. Boland, Tafsiran Lukas (1-9:50) I, 168.

[10] Dalam Markus 4:8, disebutkan bahwa “hasilnya ada yang tiga puluh kali lipat, ada yang empat puluh kali lipat, ada yang enam puluh kali lipat, dan ada yang seratus kali lipat”. Sedangkan dalam Lukas 8:8 hanya dikatakan “tumbuh berbuah seratus kali lipat”. Lih. B.J. Boland, Tafsiran Lukas (1-9:50) I, 168.

[11] Dalam PB biasanya dipakai kata yang sepadan, yaitu “Kristus”. Orang-orang Kristen pertama memberitakan bahwa Yang Dibangkitkan ialah Kristus, dalam suatu arti yang menggenapkan dan sekaligus melampaui harapan-harapan Yahudi, dan mereka suka menggabungkan gelar “Kristus” itu dengan gelar “Tuhan”. Lih. Xavier Leon-Dufour, Ensiklopedi Perjanjian Baru, Penerj. A.S. Hadiwiyata (Yogyakarta: Kanisius, 1990), 394.

[12] Lukas berharap agar perumpamaan-perumpamaan yang digunakan lebih mengkomunikasikan pemberitaan Yesus, bukan mengaburkannya. Lih. O.C. Edwards, Injil Lukas Sebagai Cerita: Berkenalan dengan Narasi Salah Satu Injil (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2002), 40.

[13] Kerajaan Allah (Kingdom of God) merupakan pokok pewartaan Yesus mengenai berkuasanya Allah (Mrk 1:15) yang menyatakan bahwa karya penyelamatan Allah tidak dilaksanakan atas jasa manusia melainkan melulu merupakan rahmat anugerah karena kemurahan hati Allah. Yesus mengundang orang-orang yang mendengarkan pewartaan-Nya untuk “masuk” ke dalam kerajaan ini atau menerimanya seperti seorang anak menerima hadiah. Yesus memberikan diri seutuhnya bagi pelayanan Kerajaan Allah yang sekarang sudah hadir (Mat 12:28; Luk 11:20; 17:21) dan masih akan datang (Mat 8:11). Campur tangan Allah yang menyelamatkan sudah terjadi melalui pewartaan, pengajaran, dan mukjizat-mukjizat yang dikerjakan oleh Yesus (Mat 4:23; 9:35). Dalam hal ini, Yesus menggunakan perumpamaan-perumpamaan untuk menyatakan bahwa Kerajaan Allah adalah realitas eskatologis yang sudah mulai tampak wujudnya sekarang. Bagi Yesus, menyatakan bahwa “Kerajaan Allah sudah dekat” berarti “Allah dan penyelamatan ilahi sudah di ambang kenyataan”. PB tidak menyamakan Kerajaan Allah dengan Gereja, tetapi penyamaan ini sudah sering dilakukan sejak zaman St. Agustinus dari Hippo (354-430). Lih. Gerald O’Collins dan Edward G. Farrugia, Kamus Teologi, Penerj. I. Suharyo (Yogyakarta: Kanisius, 1996), 139.

[14] Wejangan dalam bentuk perumpamaan secara khusus ditujukan kepada kelompok yang bukan murid-murid Yesus (Luk 8:10). Lih. Stefan Leks, Tafsir Injil Lukas (Yogyakarta: Kanisius, 2003), 16.

[15] B.J. Boland, Tafsiran Lukas (1-9:50) I, 169.

[16] Kerajaan Allah yang diberitakan Yesus dengan perkataan dan perbuatan tetap “rahasia”, tersembunyi dan gelap, kecuali bagi yang percaya. Dengan demikian, kepercayaan itu adalah sebuah karunia belaka dan bukan jasa manusia. Rahasia Kerajaan Allah tidak direbut oleh murid-murid Yesus, tetapi “diberi”, yakni oleh Allah. Dengan perumpamaan-perumpaman-Nya, Yesus memberitakan Kerajaan Allah dan mengilustrasikan ciri-cirinya. Lih. C. Groenen, Peristiwa Yesus (Yogyakarta: Kanisius, 1979), 97.

[17] B.J. Boland, Tafsiran Lukas (1-9:50) I, 170.

[18] B.J. Boland, Tafsiran Lukas (1-9:50) I, 170.

[19] Keselamatan semula yang dimaksudkan sebagai kehendak Allah untuk menyelamatkan umat dari bahaya; kemudian juga berarti janji Allah mendirikan kerajaan-Nya. Lih. W.R.F. Browning, Kamus Alkitab, 199.

[20] Hal ini menunjukkan bahwa “sebab” dan “akibat”, “tujuan” dan “hasil”, tidak dapat dipisahkan.

[21] Lukas 8:10 bunyinya kurang radikal apabila dibandingkan dengan Markus 4:12 maupun Matius 13:14-15. Dalam Lukas 8:10 tingkat kesimpulan itu belum tercapai. Oleh karena itu, kita harus berhati-hati dalam menafsirkan bagian penutup Lukas 8:10. Seperti halnya Lukas juga berhati-hati dengan hal itu. Dengan demikian, jangan menarik kata “supaya” sebagai “kesimpulan logis” tentang tindakan Allah berkenaan dengan hukuman atas orang-orang Yahudi. Lih. B.J. Boland, Tafsiran Lukas (1-9:50) I, 171.

[22] Hanya perlu dicatat di sini bahwa dalam sebuah perumpamaan harus dicari titik perbandingan yang dimaksudkan, jadi di mana persis terletak kesamaan antara gambar (cerita) dan apa yang digambarkan (ajaran). Kalau tidak demikian, perumpamaan bisa menjadi alegori dan disalahartikan sama sekali. Dalam sebuah alegori semua unsur dalam gambar ada artinya dan menyoroti salah satu segi dari pokok ajaran, tetapi tidak demikian halnya dengan perumpamaan di mana hanya satu atau beberapa unsur bermaksud mengilustrasikan ajaran. Sedangkan unsur-unsur cerita lain hanya demi untuk keutuhan gambar-cerita. Sudah barang tentu dalam tradisi Injili ada perumpamaan yang kemudian oleh Jemaah Kristen (atau penginjil) diinterpretasikan sebagai alegori. Lih. C. Groenen, Peristiwa Yesus, 93-94.

[23] B.J. Boland, Tafsiran Lukas (1-9:50) I, 171.

[24] Benih itu adalah ajaran Yesus tentang kerajaan; tanah yang bagus adalah kondisi yang sesuai; tanah yang buruk adalah keadaan yang tidak layak; benih yang berbuah adalah para murid; benih yang sia-sia adalah mereka yang tidak percaya. Lih. Dianne Bergant dan Robert J. Karris, Tafsir Alkitab Perjanjian Baru, 54.

[25] Dapat dikatakan bahwa (1) Allah adalah penabur yang menyebarkan Firman-Nya di dunia ini, tetapi (2) Yesus sendiri adalah penabur yang menyampaikan Firman Allah, bahkan (3) Gereja Kristen dan angota-anggotanya adalah penabur yang menyebarkan Firman Allah, yaitu Injil mengenai Yesus. Lih. B.J. Boland, Tafsiran Lukas (1-9:50) I, 171.

[26] “Rerumputan berduri” diibaratkan sebagai kecemasan (makanan, minuman, pakaian, dll) yang menguasai perhatian manusia, kekayaan yang membuat manusia merasa tenang dan aman (tidak bergantung kepada sesama atau pun Allah), dan kenikmatan hidup (mengingini kenikmatan yang sifatnya dangkal). Lih. B.J. Boland, Tafsiran Lukas (1-9:50) I, 172.

Baca Juga:
Ditahbiskan Untuk Menerangi Keberagaman

Jakarta- JPICOFM.com Kabar gembira bagi Gereja Indonesia secara khusus Persaudaraan OFM Provinsi St. Mikael Malaikat Agung KLIK UNTUK LANJUT MEMBACA

[27] Perumpamaan merupakan metafora atau persamaan yang diambil dari alam atau kehidupan sehari-hari, memikat pendengar melalui penggambaran yang hidup dan unik, dan membiarkan pikiran bertanya-tanya mengenai maksud atau tujuan yang ingin disampaikan. Lih. Dianne Bergant dan Robert J. Karris, Tafsir Alkitab Perjanjian Baru, 88.

[28] Seperti benih (atau seperti jemaah Kristen yang kecil dari tahun 70) dapat berkembang (atau tidak berkembang) dan menghasilkan (atau tidak menghasilkan) gandum yang banyak, tergantung apakah tanahnya bagus (atau berkarang atau berduri atau mengeras). Lih. Dianne Bergant dan Robert J. Karris, Tafsir Alkitab Perjanjian Baru, 88.

[29] Kerajaan Allah menunjuk kepada pelaksanaan dari kuasa atau penghakiman Allah yang akan datang, di mana Ia akan mendirikan pemerintahan atas semua ciptaan. Secara dasariah, kedatangan Kerajaan Allah adalah karya Allah, meskipun partisipasi dari manusia di masa sekarang juga dituntut. Dalam ajaran Yesus, Kerajaan Allah sekaligus mencakup dimensi sekarang dan yang akan datang. Lih. Dianne Bergant dan Robert J. Karris, Tafsir Alkitab Perjanjian Baru, 53.

[30] Keadaan rohani (yang berbuah bagus) dari para murid membuat mereka mampu melihat dan memahami, sementara orang-orang lain tetap tidak mampu melihat dan memahami sama sekali karena keadaan rohani mereka tidak membiarkan benih menghasilkan buah. Lih. Dianne Bergant dan Robert J. Karris, Tafsir Alkitab Perjanjian Baru, 53.

TINGGALKAN BALASAN

Please enter your comment!
Please enter your name here