Tetap Bersaksi di Tengah Covid-19

1
0

Dalam budaya Jawa, dikenal istilah kalabendu yang berarti kutukan, kesusahan, atau pun kesedihan. Istilah tersebut bisa menggambarkan situasi yang terjadi saat ini. Dunia tengah menginjak zaman kalabendu yang ditandai dengan adanya pagebluk alias wabah penyakit Covid-19. Seluruh dunia mengambil tindakan yang perlu dalam mengatasi pandemi ini, baik itu lockdown, Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB), dll. Namun, aneka tindakan itu tidak mampu mengatasi dampak luas pagebluk Covid-19 yang kini merongrong hajat hidup orang banyak.

Pemerintah Indonesia sendiri menerapkan kebijakan PSBB sejak Jumat (10/4) lalu hingga kini. Data pada Senin (6/7), kasus Covid-19 di Indonesia sudah menembus angka 64.958 orang. Terjadi penambahan sebanyak 1.209 kasus. Jumlah pasien sembuh dari Covid-19 bertambah 814 orang. Penambahan ini membuat total kasus sembuh di Indonesia mencapai 29.919 orang. Sementara kasus kematian karena Covid-19 juga meningkat 70 orang. Total akumulatif kasus kematian akibat Covid-19 menjadi 3.241 orang (www.merdeka.com).

Gereja Katolik Indonesia juga menyesuaikan aturan peribadatan berdasarkan protokol dari Pemerintah. Bahkan, jelang new normal Keuskupan Agung Jakarta (KAJ) memperpanjang masa darurat Covid-19 hingga waktu yang belum ditentukan. Semua kegiatan gereja yang melibatkan orang banyak tetap ditiadakan dan dialihkan menggunakan teknologi virtual (www.suara.com).

Karena itu, umat Katolik perlu menyesuaikan diri mengikuti ibadah secara live streaming. Namun, kebijakan baru ini tidak mudah dijalankan. Alasannya, kebijakan melalui media virtual tidak dapat dijangkau seluruh umat. Di hadapan kenyataan bahwa Gereja juga dipanggil untuk berbagi kasih dan menumbuhkan harapan di tengah pandemi ini. Lantas, bagaimana gereja dan umat menyikapinya?

Hantaman Bagi Gereja

Ada beberapa dampak Covid-19 yang menyentuh hidup umat beriman saat ini.

Pertama, krisis iman. Pagebluk Covid-19 menimbulkan kepanikan dahsyat bagi jutaan orang di dunia, termasuk orang-orang beriman. Tidak adanya kepastian akan berakhirnya Covid-19 membuat orang-orang mulai mempertanyakan etika, medis, dan iman secara serius. Pertanyaan seperti “Di manakah pertolongan Allah?” dalam situasi seperti saat ini menjadi keluhan yang paling mudah dilontarkan. Selanjutnya, sikap kritis umat terhadap Misa live streaming juga berlaku. Kebijakan Misa secara live streaming sepatutnya juga diikuti oleh kebijakan-kebijakan lain yang mampu mengawasi dan menuntun umat parokinya dalam penghayatan iman yang tepat. Selain itu, model pembinaan kaum muda dan anak-anak turut berubah melalui bimbingan secara virtual (zoom meetting, microsoft team, whatsapp group, dll). Kita tentu berharap bahwa Gereja perlu bekerjasama melibatkan orang tua secara intens untuk mengembangkan hidup rohani anak-anak mereka, masa depan Gereja.

Kedua, krisis harapan. Merayakan Paskah (12/4) seharusnya menjadi momentum yang dapat membangkitkan iman dan harapan umat agar disembuhkan dan dikuatkan. Namun, situasi pandemi yang tengah merebak ditambah pula ketidakberdayaan pemerintah dalam menanggulangi pandemi Covid-19 di Indonesia dapat mengakibatkan krisis harapan umat. Dalam negeri, masih ada rumah ibadat dari agama tertentu yang melanggar aturan PSBB. Bahkan, warga DKI diizinkan takbiran (23/5) di tengah pagebluk Covid-19 oleh Anies Baswedan, Dewan Mesjid Indonesia (DMI), dan Majelis Ulama Indonesia (MUI) dengan menjaga protokol Covid-19 (www.health.grid.id).

Padahal sebelumnya, umat Katolik juga merayakan Hari Raya Paskah tetapi tidak ada perayaan bersama. Tetap saja dengan mengikuti Misa secara live streaming. Tentu ada keinginan kuat dari umat untuk merayakannya bersama-sama di Gereja tentu dengan tetap memberlakukan protokol Pemerintah tetapi diurungkan. Banyak pertanyaan yang muncul dalam hati kecil, “Apakah karena kita minoritas?” dan segudang pertanyaan lainnya. Bagaimanapun juga, ibadat virtual tak mampu menjawabi kebutuhan iman seutuhnya. Krisis harapan tentunya menjadi godaan besar bagi umat beriman saat ini.

Ketiga, semangat pewartaan yang dangkal. Krisis iman dan harapan dapat membuat semangat pewartaan injili menjadi dangkal. Godaan selama mengikuti Misa secara live streaming yang biasanya muncul adalah kesulitan berpartisipasi aktif mengikuti dan menghayatinya, sehingga orang seolah-olah hanya “menonton film tentang perayaan Misa”. Menurut Paus Fransiskus, salah satu bahaya zaman ini adalah berkembangnya budaya kesementaraan dan sekali-pakai-buang. Saat ini, ada begitu banyak tawaran Misa live streaming di seluruh dunia. Di satu sisi, hal itu dapat menolong umat karena mempunyai banyak pilihan agar bisa mengikuti  Misa live streaming. Di sisi lain, bukan tidak mungkin hal ini dapat memupuk mental serupa sebagaimana yang dikatakan paus. Dalam artian, orang tidak betah mengikuti Misa tertentu tetapi mencari Misa dari mana-mana untuk keseruan semata. Atau juga, mengikuti Misa live streaming adalah perkara like or dislike. Karena umat paroki A tidak suka dengan pastor paroki A maka dia lebih memilih Misa live streaming dari pastor paroki B yang lebih rupawan, lebih muda, lebih gaul, atau khotbahnya lucu.

Gereja yang Bersaksi: Menampilkan Roh Kristus

Gereja berada dalam bayang-bayang zaman kalabendu, di mana penghayatan iman melipir dalam kegelisahan iman, pupusnya harapan, dan mempertanyakan keberadaan Tuhan. Gereja perlu hadir untuk memberikan peneguhan iman, membangkitkan harapan, dan mewartakan kasih di tengah dunia yang tengah menjerit dalam desahan kemiskinan, kesedihan, dan kegelisahan dengan menampilkan Roh Kristus.

Selain itu, dalam pesan pada Hari Komunikasi Sedunia ke-54, paus berpesan agar: “Hidup menjadi cerita”. Setiap orang beriman adalah saksi Kristus. Karena itu, hidup kita harus menjadi cerita kristiani yang memandang dunia secara baik dan positif: “Cerita yang baik supaya tidak tersesat. cerita membangun bukan menghancurkan. cerita yang menemukan kembali akar dan kekuatan untuk bergerak maju bersama” (www.mirifica.net). Pesan ini masih sangat relevan dengan situasi yang tengah terjadi saat ini, di mana gereja diharapkan mampu menampilkan Roh Kristus.

Lantas, apa yang dapat dibuat oleh Gereja yang terus bersaksi menampilkan Roh Kristus?

  1. Berkreasi dalam dunia digital

Gereja perlu memanfaatkan secara baik potensi dunia virtual. Dalam hal ini, perlu dilakukan karya-karya kreatif yang membangkitkan semangat umat untuk mendalami iman secara baik. Konten-konten kreatif bisa berupa video animasi, film pendek, film animasi, atau pun juga tanya jawab secara daring. Keadaan work from home membuat orang semakin akrab dengan gadget. Karena itu, konten-konten seperti itu perlu dimaksimalkan. Gereja perlu mendorong semangat umat dengan aneka kampanye, misalnya mengenai makna mengikuti perayaan Ekaristi online, dll. Kampanye melalui artikel, opini, pamflet saja tidak cukup. Karena itu, Gereja perlu memperbanyak kampanye dalam bentuk audio visual dalam bahasa yang lebih populer dan menarik yang bisa menjangkau semua, khususnya anak-anak.

  1. Solider dengan yang miskin

Gereja bisa menunjukkan kepekaannya dengan menjaring dana dan bantuan memalui media sosial atau media lain untuk kebutuhan orang miskin. Sesudah kebutuhan-kebutuhan itu terkumpul, gereja bisa membagikannya secara langsung kepada umat-umat yang membutuhkan atau pun menjalani kerja sama dengan organisasi-organisasi sosial untuk hal itu. Gereja mesti hadir di tengah kaum miskin. Kita mesti ingat apa yang disampaikan oleh Paus Fransiskus, “Iman kita akan Kristus, yang menjadi miskin, dan selalu dekat dengan kaum miskin dan tersingkir, adalah dasar kepedulian kita pada pengembangan seutuhnya anggota masyarakat yang paling terabaikan” (Evangeli Gaudium no.186).

  1. Mengajak umat untuk taat pada protokol Covid-19

Gereja harus terus menyuarakan kepentingan umat sembari tetap menaati anjuran mengenai standar kesehatan yang telah ditetapkan. Gereja harus terus mengajak umatnya untuk setia pada aturan dengan menjaga jarak sosial (sosial distancing), selalu memakai masker, dan selalu mencuci tangan. Gereja harus berusaha untuk terus membantu umat dalam menjaga dan melindungi mereka dari virus corona, terutama dalam prosedur kesehatan yang ditetapkan pemerintah.

Ketiga hal ini bagi saya akan membantu gereja untuk mewujudkan solidaritas dan tanggung jawabnya pada dunia yang menjerit dalam kemiskinan. Gereja perlu hadir dan memberikan kekuatan pada setiap orang yang bernaung padanya dengan bersedia merasakan keadaan maupun situasi yang tengah dialami umatnya sebagai masalah yang perlu diperjuangkan bersama.

                                                                                          ***

Sebagai seorang anggota gereja yang menjalani cara hidup sebagai seorang Fransiskan, saya menyadari bahwa panggilan ini mesti dijalani dengan sukacita. Bagi saya, pandemi ini sebaiknya perlu dimaknai secara positif dan mesti dijalani dengan sabar. Keadaan ini membuat saya merasakan bahwa Allah memilih cara lain untuk membuat Ibu Pertiwi memulihkan dirinya.

Selama ini, banyak tindakan yang merusak alam dan lingkungan demi keegoisan dan kepentingan sebelah pihak saja.  Banyak orang lupa bahwa Saudari Bumi, sejak semula dengan rendah hati menerima dan memelihara setiap makhluk yang berpijak di atasnya. Seperti yang diajarkan oleh St. Fransiskus Asisi, melalui alam ciptaan, setiap orang bisa merasakan keindahan Sang Pencipta yang sungguh baik adanya. Saya menyadari bahwa Tuhan sebenarnya tak tinggal diam, tetapi ia sedang memperbaiki ciptaan yang diciptakannya.

Masa pandemi bagi saya juga merupakan saat untuk meningkatkan kualitas persaudaraan, baik dalam hidup berkomunitas atau pun bermasyarakat. Saya disadarkan oleh-Nya bahwa selama ini saya belum memaknai persaudaraan secara sempurna. Selain itu, Tuhan yang memelihara hidup panggilan saya sebagai seorang Fransiskan, hadir melalui belas kasih para penderma yang diutus olehNya. Terkadang sumbangan itu lebih dari cukup sehingga menggerakkan saya dan juga saudara lainnya untuk membantu sesama yang membutuhkan. Semua barang sumbangan merupakan pinjaman yang digunakan secukupnya bagi kehidupan, sedangkan yang lainnya perlu dibagikan kepada yang miskin dan terlantar.

Sebagai seorang Fransiskan, saya diajarkan untuk mengikuti Yesus Kristus yang miskin dan tersalib dengan membagikan kasih, membangkitkan iman, dan menunjukkan harapan bahwa Tuhan tak sedang berdiam diri, tetapi ia mengasihi saya dan semua orang yang menjerit dalam kemiskinan. Oleh karena itu, saya perlu berbagi kasih dan menumbuhkan harapan bagi banyak orang yang dihimpit oleh kesedihan, kesemasan, dan ketakutan.

Sdr. Felisian Novendro Ambal OFM,
frater novis di Novisiat OFM Transitus, Depok

1 KOMENTAR

  1. Meskipun covid 19, sbg orng beriman kita hrs tetap bersaksi menampilkan Roh Kristus. Makasih frater..

TINGGALKAN BALASAN

Please enter your comment!
Please enter your name here