Rp. Dr. Peter C. Aman, OFM (dok. pribadi)

Kendati tidak menjalankan fungsi formal sebagai seorang Guru dalam pengertian kita, Yesus acapkali disebut “Guru” (Rabbi). Bahkan sekali waktu disebut “Guru Yang Baik”, walau kemudian ditolak-Nya sambil mengingatkan si pembicara bahwa hanya Satu Yang Baik. Penjabaran tentang fungsi seorang Guru bisa saja diperbanyak atau diperkaya, tetapi yang tidak berubah adalah esensi dari peran tersebut yakni membantu orang menemukan dirinya, memahami hidupnya dan membangun dunia kehidupannya bersama orang lain. Ilmu pengetahuan diabdikan pada kepentingan dasar itu. Karena itu jauh sebelum Yesus, Plato sudah mengumpamakan pekerjaan Guru seperti pekerjaan seorang bidan: membantu melahirkan seorang manusia ke dunia.

Metode kebidanan yang diperkenalkan Plato merupakan analogi dari sebuah prakarsa mendidik yang tidak lain dari membantu, mendampingi, mendorong serta memajukan sehingga yang dididik menemukan, memahami, mengembangkan dan mencapai kepenuhan diri sebagai manusia: makhluk rasional, social dan moral. Metode Plato dengan amat bagus dipraktekkan oleh Yesus ketika Dia mengajar dengan pelbagai perumpamaan.

Ada hal menarik dalam perumpamaan Yesus.  Bahannya lokal, dari dunia kehidupan yang biasa sehari-hari (dunia pertanian, peternakan dan lingkungan social masyarakat).  Yesus mengasah kemampuan berpikir pendengar untuk memahami ajaran yang hendak disampaikan-Nya. Kebenaran yang akan disampaikan Yesus, ditemukan sendiri oleh mereka yang diajar-Nya ketika mereka mengolah pemikirannya sendiri dan akhirnya menyadari bahwa kebenaran tidak selalu mesti diajarkan, tetapi sesewaktu dan seringkali mesti ditemukan sendiri dari pengalaman dan kontak dengan realita kehidupan yang dihadirkan Yesus dalam bentuk perumpamaan.

Dari kebenaran yang ditemukan itulah para pendengar menemukan dirinya. Karena itu kendati dapat menjawab sekian banyak persoalan yang diajukan kepada-Nya, Yesus membantu (dengan perumpamaan) si penanya agar menemukan jawaban yang relevan dan perlu bagi kehidupannya dalam konteks dan persoalannya. Dengan demikian kebenaran sebagai suatu pengetahuan baru, tidak lagi menjadi seonggok informasi yang “ditumpahkan” padanya, tetapi penemuan dari pergulatan rasionalnya sendiri. Begitulah ia “lahir kembali” menjadi manusia dengan kebenaran dan pemahaman baru yang terus maju serta berkembang. Proses seperti itulah yang disebut: pencerdasan. Dengan kebenaran yang ditemukan sendiri, seseorang mengubah, memperbaharui serta mengembangkan kehidupannya.

Metode perumpamaan yang digunakan Yesus bukan cuma mencerdaskan, tetapi juga membebaskan. Mengapa? Ketika seseorang datang bertanya, asumsinya adalah bahwa orang itu tidak mengetahui atau tidak punya pengetahuain tentang hal yang ditanyakannya. Ia membutuhkan seorang Guru untuk memberikan dia pengetahuan yang dibutuhkannya itu. Dalam kasus perumpamaan Yesus, asumsi seperti itu dihapus. Yesus tidak mentransfer pengetahuan atau pemahaman tentang sesuatu, tetapi membantu orang itu sendiri menemukan pengetahuan atau pemahaman baru. Dia dibebaskan dari persepsi bahwa dia bodoh, tidak punya pengetahuan serta tidak mampu mengetahui. Berhadapan dengan perumpamaan seseorang bukan lagi tidak berpengetahuan. Dia mampu mengetahui. Kecuali kalau dengan sengaja dia “tidak mau tahu”.

Perumpamaan Yesus menjadi sarana pendidikan sebagai praksis pembebasan dalam arti paling dalam yakni pembebasan dari persepsi negative tentang diri sendiri. Dengan perumpamaan Yesus sebenarnya mau mengatakan dalam bahasa iklan: “Ayo..kamu bisa”.

Tetapi tidak semua yang datang pada Yesus bermaksud mendapatkan pengetahuan karena ada juga yang cuma ingin mencobai Dia. Injil selalu memberikan keterangan: “tetapi Yesus mengetahui maksud mereka”. Terhadap orang seperti itu Yesus membuka pikiran mereka, terkadang dengan perumpamaan, sehingga orang itu sendiri dibantu untuk menemukan dan mengenal dirinya sendiri. Biasanya ketika mereka sampai pada kesadaran diri atau menemukan dirinya sendiri, mereka tidak lagi “mencobai dia”.

Di situpun Yesus membebaskan mereka dari “maksud dan keinginan melakukan kejahatan” entah dalam bentuk mencobai atau menjebak Dia. Yesus menyingkapkan kepalsuan seta kemunafikan dan mereka dibantu menyadari dan mengenal dirinya sendiri. Kisah yang paling terkenal terdapat dalam Yoh 8:1-11. Para Ahli Taurat dan Orang-Orang Farisi menghadapkan kepada-Nya perempuan yang “kedapatan berzinah”. Hukum Musa tentang hal itu jelas, tetapi “mereka ingin mencobai Dia untuk dapat menyalahkan-Nya” (ay.6).

Apa yang dilakukan Yesus? Dia menulis di tanah. Tidak jelas apa yang ditulis-Nya. Setelah itu Ia mengatakan kepada mereka: “Barang siapa di antara kamu tidak berdosa, hendaklah ia yang pertama melemparkan batu kepada perempuan itu” (ay.7). Lalu Dia membungkuk dan menulis lagi di tanah. Di sini Yesus tidak mengajukan perumpamaan tetapi melakukan sesuatu yang mengalihkan perhatian para penuduh (menulis di tanah) dan mereka sepertinya tidak menduga bahwa Yesus menyatakan kebenaran tentang diri mereka: siapa mereka sebenarnya. Yesus melumpuhkan argumentasi mereka (untuk membenarkan kekerasan yang mereka rancang atas dasar hukum positif – hukum Musa) dengan menyingkapkan bahwa mereka tidak punya kompetensi moral untuk menjadi hakim dan polisi moral bagi wanita tadi. Ibarat seorang koruptor yang ingin memberantas korupsi.

Jelas ada pembebasan dalam kasus ini. Wanita itu dibebaskan – dari hukum rajam. Tetapi para ahli Taurat dan Orang Farisi juga dibebaskan dari kemunafikan atau persepsi semu tentang diri mereka sendiri: bahwa mereka berkewajiban atau manganggap diri pantas untuk melakukan penghakiman. Mereka meninggalkan Yesus karena ketika di hadapan Dia mereka menemukan kebenaran tentang siapa mereka sesungguhnya.

Yesus menyingkapkan kebenaran tentang diri setiap orang yang datang kepada-Nya. Mereka dibantu untuk mengenal diri mereka sendiri dalam segala kebenarannya. Mereka “dilahirkan” lagi menjadi baru karena pemahaman dan penemuan kebenaran tentang dirinya. Mereka dibebaskan dari persepsi dan gambaran palsu tentang diri. Kelihatannya sederhana, tetapi betapa sulitnya menerima diri sendiri dalam segala kebenarannya yang orisinil tanpa kamuflase dan kepalsuan yang kelihatannya mentereng dan wah…..Inilah pendidikan yang paling hakiki: mengenal diri dan menerimanya dalam segala kebenarannya. Pendidikan kita menghasilkan banyak orang pintar tetapi sedikit orang yang tahu diri, jujur dan adil.

Oleh: Peter C. Aman OFM

TINGGALKAN BALASAN

Please enter your comment!
Please enter your name here