Memahami Hps Dari Perspektif Iman Katolik

0
94
Baca Juga:
JPIC OFM Gelar Webinar Spirit Of Assisi

Jumat, 23 Oktober 2020, komisi JPIC-OFM Indonesia melakukan webinar dengan tema Spirit Of Assisi. Tema KLIK UNTUK LANJUT MEMBACA

Sdr. Thobias Harman OFM.


Pengantar
Setiap tanggal 16 oktober setiap tahun sejak 1981 diperingati sebagai Hari Pangan Sedunia oleh PBB. Hari ini ditetapkan bertepatan dengan hari lahirnya lembaga FAO dari PBB sebagai organisasi yang secara khusus memperhatikan persoalan pangan dan pertanian. Hari ini menjadi hari yang sangat penting bagi masyarakat dunia untuk membuka kesadaran tentang pentingnya ketahanan pangan yang sehat bagi semua. Hal ini berangkat dari kesadaran bahwa ketersediaan pangan merupakan faktor penentu bagi kelangsungan hidup manusia. Dengan demikian ketersediaan pangan sehat merupakan kebutuhan mendasar yang tidak tergantikan bagi kehidupan manusia.

Mengapa gereja terlibat?
Gereja Indonesi (KWI) telah merayakan HPS sejak 1982, setahun setelah ditetapkan oleh PBB. Gereja merayakan HPS ini bukan sekadar ikutan trendy atau sekedar ikut arus dunia. HPS yang dirayakan oleh Gereja berlandaskan pada pada pilar Iman akan Allah.

  1. Allah kita adalah Allah yang Peduli
    Bagi Gereja Kristen(Katolik) Allah diimani bukan hanya sebagai Allah Yang Maha Besar yang berada jauh dari manusia tetapi Allah yang karena kasih-Nya peduli pada manusia. Kisah pembebasan bangsa Israel dari perbudakan di Mesir sebagaimana dikisahkan dalam kitab Keluaran mendeskripsikan betapa besarnya kepedulian Allah kepada umat pilihan-Nya. Peristiwa pembebasan dari perbudakan mestinya dipandang sebagai proses menuju kemerdekaan dan kedaulatan hidup baik secara individual sebagai manusia dan juga secara komunal sebagai suatu bangsa manusia. Dalam Kitab Suci Perjanjian Lama misalnya, kisah yang sarat dengan gambaran kepedulian Allah dalam konteks ini adalah kisah Manna di Padang gurun dan Waha dan Meriba (Kel.16-17). Pada bab 16 dalam kitab Keluaran dikisahkan bahwa masyarakat/bangsa Israel yang sedang dalam perjalanan menuju tanah “terjanji” mengalami kelaparan hebat di Padang gurun zin. Mereka Menggerutu terhadap Allah. Maka Allah melalui Musa dan Harun berfirman kepada umat-Nya bahwa Ia akan memberikan makanan kepada umat-Nya. Maka diberikannya “roti yang turun dari langit/Manna” dan burung puyuh. Kemudian masih dalam perjalanan itu, ketika umat Israel mengeluh kehausan di Masa dan Meriba. Musa memukul tongkat ke gunung batu di Horeb sehingga keluarlah Air sehingga bangsa itu dapat minum.
  2. Amanah/tugas Iman
    Doa Bapa kami”Datanglah Kerajaan-Mu” dan Jadilah “KehendakMu”

    Datanglah Kerajaan-Mu.
    Salah satu permohonan dalam doa “Bapa kami adalah agar Allah mendatangkan Kerajaan-Nya yang di surga ke atas bumi. Kerajaan Allah di sini dipahami sebagai suatu keadaan dan situasi di mana Allah sebagai Bapa dan manusia sebagai umat adalah anak-anak-Nya di mana keadilan dan perdamaian meraja, serta integritas ciptaan terwujud. Permohonan “datanglah Kerajaan-Mu di atas bumi seperti di dalam surga” berdampak pada tugas utama umat Allah yakni mewujudkan keadilan dan perdamaian serta keutuhan ciptaan di bumi. Hal ini berarti gereja tidak hanya sebagai pejuang tetapi juga merupakan pelaku keadilan, perdamaian dan keutuhan ciptaan. Dan perdamaian hanya muncul jika ada keadilan, di mana keadilan itu melingkup multi aspek kehidupan dan salah satunya adalah keadilan akan pangan yang sehat bagi kelangsungan hidup. Dalam konteks ini gereja harus menjadi pelopor serta pelaku terwujudnya kedaulatan pangan bagi semua  terutama petani dan kaum yang”tidak bersuara/the voiceless)”

    Jadilah Kehendak-Mu
    “yang dikehendaki Allah adalah keselamatan dan bukam kematian.” Allah menghendaki agar semua manusia ciptaan-Nya selamat. Bagi Gereja Katolik, keselamatan itu tidak hanya dipahami sebagai kehidupan di akhirat atau pasca kematian badani. Tetapi keselamatan dialami dan dimulai di bumi, yang akan disempurnakan di akhirat. Dalam konteks teologi pembebasan (gustavo Gutierres), keselamatan dipahami sebagai pembebasan dari segala sesuatu yang mengungkung kebebasan dan kemerdekaan manusia sebagai anak Allah. Bagi Gutierrez, kemiskinan/kemelaratan adalah “penjara” yang mengungkung kebebasan masyarakat kecil sebagai anak Allah. Karena agar keselamatan dialami oleh kaum miskin maka mereka harus dibebaskan dari kemiskinan dan kemelaratan yang mencekik. Dan salah satu cara untuk mengatasi kemiskinan adalah mewujudkan keadilan sosial dan mengembangkan budaya saling berbagi.Dalam konteks ini Gereja hadir di tengah dunia yang diwarnai oleh ketimpangan dan ketidakadilan. Maka Gereja dituntut untuk tidak menutup mata tetapi peka dan peduli dan terlibat aktif dalam usaha mengentaskan kemiskinan. Mengutip Emanuel Levinas, gereja harus membiarkan dirinya”disandera” oleh orang-orang miskin yang lapar dan haus akan keadilan dan perdamaian. Disandra di sini berarti sebuah keadaan ketiadaan pilihan lain’ artinya berhadapan dengan orang miskin gereja tidak memiliki opsi lain selain peduli kepada mereka.“Jadilah kehendak-Mu” hanya bisa terwujud jika gereja ambil bagian dan menjadi pelaku dalam usahan mewujudkan kehendak Allah di bumi yakni keselamatan bagi semua ciptaan. Keberadaan pangan bagi manusia tentunya menjadi syarat fundamental bagi keselamatan atau keberlangsungan hidup manusia. Sehingga ketersediaan pangan menjadi elemen dasariah bagi keselamatan di bumi. Karena gereja sudah seharusnya terlibat dalam setiap usaha untuk membangun kedaulatan pangan.

  1. Tugas iman” Kamu harus memberi mereka makan”(Luk.9:10-17)
    Salah Satu kisah dalam perjanjian Baru yang mengggambarkan kepedulian Tuhan secara gamblah adalah kisah tentang memberi makan kepada 4000 dan 5000 orang laki-laku tidak termasuk perempuan dan anak-anak. Di satu sisi ada banyak orang mengikuti Tuhan Yesus, tetapi di sisi lain mereka kelaparan. Kelaparan mereka, membuat Tuhan Yesus tergerak hati-Nya oleh belaskasihan sebab mereka seperti domba yang tidak punya gembala. Akan tetapi ketika Tuhan menawarkan kepada para murid agar mereka harus “member makan” kepada orang banyak itu, para murid diperhadapkan pada situasi sulit bahwa mereka kehabisan makanan. Sebuah gambaran orang yang selalu merasa kurang dan karena kekurangannya ia memiliki alasan sah untuk tidak membantu orang lain.Pada era globalisasi ini, gereja hadir di tengah jutaan orang yang miskin dan lapar. Gereja hadir bukan saja sebagai “option for the poor” tetapi sebagai “option of the poor.” Di tengah carut-marutnya kondisi dunia Tuhan Yesus memanggi dan mengutus gereja untuk memberi mereka “makan.”
  1. Implikasi Imitatio Christi
    Tuhan Yesus dalam Injil Yohanes bersabda: “akulah Roti Hidup, barang siapa makan roti ini, ia tidak akan lapar lagi dan barang siapa minum dari pilah ini, Ia tidak akan haus lagi. Tuhan Yesus mengidentikan diri-Nya sebagai roti untuk dimakan dan darah untuk diminum oleh para pengikut-Nya. Sebagai konsekuensi bagi para pengiku atau yang disebut sebagai murid Kristus adalah mengembangkan sikap altruis dan harus mengalahkan egoisme dalam dirinya. Dengan kata lain Murid Kristus mestinya senantiasa hidup saling berbagi satu sama lain. Dalam konteks ini, hari pangan sedunia bukan sekadar pamer-pameran pangan lokal atau semacamnya tetapi merupakan momen untuk membangkitkan kesadaran dan solidaritas dengan semangat hidup saling berbagi.

Membaca HPS Dalam Konteks Nginamanu (Paroki Kurubhoko)

Dalam konteks Nginamanu (Paroki Maria Ratu Para Malaikat Kurubhoko) perayaan HPS dilaksanakan setiap tahun (setiap tanggal 16 Oktober). Perayaan ini dilaksanakan dalam suasana sukacita karena musim panen yang belum terlalu lama berlalu. Kecauali itu, Perayaan Hari Pangan Sedunia ini juga lahir sebagai bentuk keprihatinan atas situasi umat Paroki Kurubhoko. Berikut ini saya gambarkan secara singkat beberapa persoalan yang dialami oleh umat berkaitan dengan sektor pertanian pada umumnya dan pangan khsusnya:  Pertama, orientasi konsumsi pada beras semata, bahan pangan lokal nyaris  hilang; Kedua, sumber pendapatan bergantung pada beras; Ketiga, lahan pertanian luas tetapi tidak diolah secara maksimal maksimal; Keempat, mentalitas para petani yang pasrah, santai dan kekurangan pengetahuan dan keahlian dalam bidang pertnian; Kelima, kekuarangan air untuk mendukung pertanian.

Berhadapan dengan persoalan di atas, selama ini kami sudah berusaha untuk mencari mencari jalan keluar sebagai solusi. Adapun solusi yang kami upayakan adalah sebagai berikut: Pertama, melakukan animasi dan pembinaan untuk membangun etos kerja para petani. Etos kerja itu lahir dari rasa percaya diri dan keyakinan akan peran luhur para petani bagi kemanusiaan. Petani adalah juru kunci bagi kehidupan umat manusia. Kecuali itu, kepada para petani diberi kesadaran dan keyakinan bahwa sektor pertanian adalah jalan menuju kemandirian dan kesejahteraan bagi petani dan kelurganya. Kedua, para petani dianimasi melalui contoh konkret untuk meningkatkan fungsi lahan dan juga pekarangan rumah. Sebgaimana yang tulih dibuat di sekitar Pastoran (Oleh Pastor Paroki), umat didorong untuk menjadikan pekarangan rumah mereka sebagai lahan pertanian untuk keluarga dan juga untuk dijul. Ketiga, dalam menopng usah pertaanian dan pemanfaatan pekarangan khususnya, telah diupayakan pengadaan air bersih. Di Gereja Sudah dibangun sumur bor demi mencukupi kebutuhan air di wilayah Gereja /Pastoran dan juga untuk kebutuhn umat di sekitarnya. Setelah beberapa tahun memanfaatkn air ini, kami sungguh menyadari bahwa air sangat membantu umat (petani). Keempat, menggalakan upaya untuk keluar dari pola konsumsi yang sangat beragantung pada beras. Setiap Perayaan HPS, selalu ada pelatihan pengolahan pangan lokal dan dilanjutkan dan perlombaan masak pangan lokal. Diversifikasi pangan ini penting tidak hanya agar tidak tergantung pada beras tetapi juga demi terciptnya swasembada pangan bagi umat.

Kesimpulan

Bagi Gereja, HPS merupakan momen untuk membangkitkan kesadaran akan pentingnya kedaulatan pangan untuk semua secara adil. Di samping itu perayaan HPS merupakan moment untuk meningkatkan kepedulian dan solidaritas bagi yang berkekurangan. Hal ini berlandas pada keyakinan iman akan Allah yang penuh kasih dan peduli kepada manusia. Perintah dan amanah iman akan Yesus yang memberikan diri-Nya bagi keselamatan semua orang menuntut umat Kristiani untuk hidup saling berbagi demi mewujudkan keadilan sosial bagi semua. Keyakinan iman ini diwujudkan dengn perbuatn konkret bagi para petani. Kami telah mewujudkan iman itu bagi umat kami di Paroki Kurbhoko; Meski kami sadar bahwa apa yang kami lakukan itu masih sangat kecil. Namun, jika masing-masing dari kita bersama-sama melakukan hal-hal kecil tersebut, sayaa sangat yakin akan menjadi sebuah gerakan besar yang sangat berfaedah bagi dunia kita. Kami telah melakukan apa yang harus kami lakukan; Apa yang telah anda lakukan?

Baca Juga:
Sains, Akal Budi, dan Agama Harus Berjalan Beriringan

Oleh: Yohanes Wahyu Prasetyo OFM Menurut David Hume (1711-1776), sains mengungkapkan pertanyaan persoalan yang terjadi KLIK UNTUK LANJUT MEMBACA

TINGGALKAN BALASAN

Please enter your comment!
Please enter your name here