Oleh: Yohanes Wahyu Prasetyo OFM

Berdasarkan pengamatan Aviezer Ravitzky terhadap gerakan Lubavitch Hasidic Yahudi, setiap kali ditemukan kontradiksi antara makna literal Kitab Suci dan konsep ilmiah, Kitab Suci harus dibaca serta ditafsirkan secara literal. Hal ini menentukan sejauh mana sains dan teknologi dalam bentuk serta manifestasinya yang terpisah dan spesifik digunakan, diterima, dan ditoleransi.

Sebagian besar fundamentalis menyetujui dinamika hidup di dalam dunia yang terinformasi secara signifikan dan dipengaruhi oleh sains serta teknologi modern. Bahkan Abdul Latif Arabayyat (pemimpin politik Persaudaraan Muslim dan ketua Parlemen Yordania) menggunakan metodologi ilmiah (scientific methodology) ketika menangani berbagai macam persoalan sosial.

Gagasan mengenai penciptaan sebagaimana ditumbuhkan dan dikembangkan di Amerika Serikat dimaksudkan untuk memberikan penjelasan terkait asal-usul manusia. Selain itu, membangun gerakan untuk menentang penggunaan janin sebagai sarana eksperimen medis.

Perlu diketahui bahwa upaya menyesuaikan gagasan mengenai penciptaan dalam konteks Yudaisme di Israel pada akhir 1980 gagal. Menurut para praktisi fundamentalisme agama Yahudi, sains pada dasarnya tidak ada gunanya dan tidak penting.

Kelompok fundamentalis tidak tertarik berkarier pada bidang ilmu-ilmu teoretis (theoretical sciences). Hal ini nampak ketika sekolah-sekolah yang didirikan umat beragama tidak mengajarkan sains. Memerhatikan yang sakral (the sacred), bukan yang sekuler (the secular). Mengutamakan ajaran dan amalan agama, bukan hal-hal ilmiah serta material.

Bahkan mereka memandang para cendekiawan sebagai korban ilusi (victim of illusion). Menurut Michael Rosenak, fundamentalisme Yahudi merupakan budaya tandingan (counterculture) yang berlawanan dengan metode ilmiah.

Terjadi diferensiasi gender yang kuat di antara para fundamentalis Yahudi. Perempuan tidak masuk dalam sistem pendidikan formal Ortodoks yang mempelajari Taurat. Karena perempuan dianggap kurang berbakat secara spiritual.

Perlu diketahui bahwa perempuan memeroleh pendidikan humanistik. Selain itu, perempuan mendapat tugas menjaga rumah, menjalankan usaha pertokoan, mengajar di sekolah, dan mengoperasikan komputer.

Perempuan menempuh pendidikan sekuler dan melaksanakan pekerjaan yang bersifat duniawi. Sedangkan laki-laki mempunyai tugas utama mempelajari Taurat. Akibatnya, upaya ilmiah dalam bentuk apapun sangat berkurang. Bahkan apabila terdapat perempuan yang mempunyai minat pada sains, keluarga dan masyarakat sekitar tidak memberikan dukungan.

Menurut Mohammad Abdus Salam, di negara-negara Islam pertumbuhan dan perkembangan sains sangat lemah. Sains akan bertumbuh dan berkembang apabila sejumlah praktisi membentuk komunitas untuk bekerja serta memeroleh dukungan dalam bentuk sarana eksperimental dan perpustakaan. Selain itu, harus menumbuhkan dan mengembangkan budaya kritik atas suatu karya.

Namun, harapan tersebut tidak teraktualisasi dalam budaya Islam kontemporer. Menurut Pervez Hoodbhoy, gerakan modernis Islam dibanjiri gerakan modernis fundamentalis yang mendominasi wacana intelektual di dunia Islam. Hal ini memengaruhi rendahnya ketertarikan dan berbagai macam kegiatan ilmiah di negara-negara Islam.

Pada 1970, terutama di Amerika Utara dan Eropa Barat, sains dalam kaitannya dengan militer serta industri dipandang sebagai penindas (oppressive). Objektivitas ilmiah (scientific objectivity) sebagai pedoman tindakan manusia ditolak dan cara ilmiah (scientific way) untuk mengetahui sesuatu dinilai tidak memadai. Hal ini juga dikemukakan Herbert Marcuse dan murid-muridnya yang mengritik dominasi sains terhadap alam serta manusia.

Penolakan terhadap sains tersebut hanya dilakukan oleh para fundamentalis militan. Sedangkan yang lain berupaya mengadaptasi sains dan menghindari area-area khusus sains di mana ajaran agama harus diejawantahkan. Terutama terkait tubuh, kehidupan, dan reproduksi manusia.

Sains sebagai pengetahuan instrumental dibimbing oleh sumber-sumber lain yang lebih berwibawa untuk pencapaian tujuan keagamaan. Hal ini memungkinkan proses mengadaptasi teknologi. Perlu diketahui bahwa khotbah Ayatollah Khomeini dalam rupa rekaman kaset yang disebarluaskan di Iran menghubungkan Islam militan dengan teknologi modern. Bahkan pemerintah Islam Iran menggunakan teknologi terbaru untuk melanjutkan pertempuran mewalan Irak.

Sebagaimana ditunjukkan Aviezer Ravitzky, pemimpin Yudaisme Hasid mengutuk penggunaan radio sebagai sarana menyiarkan ajaran agama. Karena radio merupakan sarana komunikasi yang digunakan para bidah. Namun, ada yang menilai radio sebagai sarana luar biasa yang diberikan Sang Pencipta (Creator), sehingga suara pembicara dapat didengar di seluruh dunia.

Pada tataran tertentu radio memantulkan materi spiritual yang luhur. Seorang fundamentalis Mesir seperti Imaduldin Khalil menegaskan bahwa sains merupakan instrumen netral dan tidak menyesatkan. Oleh karena itu, sains bisa digunakan untuk melayani Islam dan dapat diislamkan.

Menurut Imaduldin Khalil, sains modern bukan hanya pencapaian peradaban Barat. Peradaban Islam pada dasarnya mempunyai kontribusi membangun fondasi sains. Deskripsi mengenai Islam hanya sebagai situs inkubasi (incubation) ilmu pengetahuan Yunani telah dilengkapi secara signifikan dengan catatan mengenai kontribusi penting Islam bagi sains. Sehingga pembenaran kaum fundamentalis ketika mengadaptasi sains dan teknologi didasarkan pada landasan sejarah yang kuat.

Sebagaimana ditegaskan Abdulkarim Soroush, sains harus dipertahankan. Oleh karena itu, negara tidak boleh menjadi penghalang bertumbuh dan berkembangnya sains. Karena negara dan sains pada dasarnya mempunyai kaitan erat. Dengan kata lain, negara Islam harus menemukan cara untuk memenuhi tuntutan ganda, yaitu komitmen religius dan kehidupan dalam sistem dunia modern.

Misalnya, menyetujui partisipasi perempuan di dalam acara yang diselenggarakan radio dan televisi. Memperkenalkan metode pengendalian kelahiran dan keluarga berencana. Mengizinkan penggunaan mayat dalam rangka pelatihan medis.

Sumber Bacaan:

Mendelsohn, Everett. “Religious Fundamentalism and the Sciences.” Dalam Martin E. Marty dan R. Scott Appleby. Fundamentalism and Society: Reclaiming the Sciences, the Family, and Education. Chicago: The University of Chicago Press, 1993, hlm. 23-41.

TINGGALKAN BALASAN

Please enter your comment!
Please enter your name here