JPIC OFM Indonesia menerbitkan kertas posisi setahun lalu dengan judul yang sangat gamblang menyatakan tolak  Eksplorasi Panas Bumi Wae Sano di Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur. Hasil riset tim JPIC OFM Indonesia ini juga menyingkap satu dokumen penting yang berisi komitmen warga desa wae sano untuk merawat hutan, mata air, danau sano ngoang dan juga menjaga ketahanan pangan dengan. Nama dokumen itu, Nacaripu, Nempung Cama Riang puar (berembuk bersama untuk menjaga dan merawat hutan).

Ketika kertas posisi itu dibagikan kepada para saudara Fransiskan di Gardianat Fonte Kolombo Flores saat itu, beberapa saudara menunjukkan ketertarikan terhadap dokumen Nacaripu. Ketertarikan itu pada akhirnya mengerucut pada pertanyaan penting: Apa yang bisa kita buat di Gardianat ini untuk mendukung kegiatan advokasi yang dilakukan tim advokasi JPIC OFM Indonesia?

Singat cerita, para saudara mengusulkan untuk mengadakan kegiatan konservasi di mata air di wae sano. Karena berbagai hambatan, kegiatan ini tidak terlasana pada 2019. Tahun berikutnya, ketika membuat rencana kerja tahun 2020, para Saudara tetap memasukkan kegiatan Konservasi Wae Sano sebagai salah satu kegiatan Bersama tingkat Gardianat. Dan akhirnya pada Kamis, 19 November 2020, enem saudara Fransiskan, Bersama OMK Paroki Kristus Raja Pagal serta para simpatisan datang ke Wae Sano. Seribu pohon diberikan kepada warga untuk mendukung upaya menjaga dan merawat hutan (riang puar).

Kegiatan ini mendapat sambutan yang sangat baik dari warga. Wajah mereka tampak ceriah siang itu saat menyambut rombongan. Puluhan warga menyambut para Fransiskan di rumah adat yang menjadi rumah besar untuk perjuangan menolak eksplorasi panas bumi wae sano selama ini.

Pemberkatan Pohon

Sebelum dibagikan kepada warga, pohon-pohon itu diberkati. Rombongan Fransiskan dan warga berdoa di samping rumah adat mengelilingi pohon-pohon. Koordinator JPIC OFM wilayah Flores, Sdr. Johnny Dohut OFM, yang memimpin ibadat singkat itu mengungkapkan “Kami datang ke tempat ini bukan untuk mengajarkan orang-orang wae sano menanam pohon. Hal itu sudah sangat mereka sadari. Kami datang ke sini terutama agar hal baik yang kami dengar di tempat ini juga kami lakanakan. Kami telah mendengar dan menemukan bahwa warga punya komitmen yang kuat untuk menjaga hutan di wilayah ini. Hari ini kami mendukungnya dengan memberikan pohon-pohon ini!”

Gardian Gardianat Fonte Kolombo, Sdr. Damasus L. Udjan OFM dalam sambutannya siang itu menegaskan bahwa“Kegiatan ini juga dilaksanakan untuk merayakan terbitnya ensiklik Fratelli Tutti dari Paus Fransiskus pada awal Oktober yang lalu. Sspalah satu inspirasi penting di balik dokumen itu adalah St. Fransiskus Assisi yang menyapa setiap orang dan segenap ciptaan sebagai Saudara dan Saudari! Karena itu, hari ini, kami datang ke sini untuk menjadi saudara bagi Bapa ibu dan juga untuk seluruh ciptaan di Wae Sano.”

Rintik hujan di penghujung ibadat seperti berkat dari langit. Pohon-pohon mani’i (kayu afrika) dan mahoni yang jumlahnya seribuan itu diberkati. Setelahnya dilakukan penanaman simbolis pada lahan di belakang rumah adat, dekat pohon yang dianggap keramat oleh warga. Ibu-ibu dan Bapa-Bapa mengambil bagian dalam penanaman beberapa pohon ini. Sementara lain-lainnya akan dibagi kepada masing-masing keluarga untuk ditanam di lahan mereka.

Pukul 16.00 rombongan Kembali ke Pagal. Lelah perjalanan sedikitnya terobati Ketika menikmati panorama danau sano ngoang yang sangat indah. Jalan ke Wae Sano tak berbeda dengan tahun sebelumnya, jalan berbatu, aspal terkelupas, di bebrapa temapt lobang menganga berisi genangan air  )***

Sdr. Johny dohut OFM.

TINGGALKAN BALASAN

Please enter your comment!
Please enter your name here