Baca Juga:
Fundamentalisme Agama dan Sains

Oleh: Yohanes Wahyu Prasetyo OFM Pertumbuhan dan perkembangan sains seringkali dipandang sebagai prestasi luar biasa KLIK UNTUK LANJUT MEMBACA

Oleh: Yohanes Wahyu Prasetyo OFM

Menurut David Hume (1711-1776), sains mengungkapkan pertanyaan persoalan yang terjadi adalah. Sedangkan moralitas mengungkapkan pertanyaan yang seharusnya terjadi adalah. Namun, kita tidak dapat membenarkan kesimpulan yang seharusnya (ought) dengan menarik fakta adalah (is). Terkait hal ini, sains tidak akan mampu menjawab semua pertanyaan.

Partikel subatom dan planet pada dasarnya tidak teramati. Tetapi karena teori tentang subatom dan planet memiliki konsekuensi empiris (dapat diamati), maka keduanya dapat dikonfirmasi ataupun disangkal. Hal ini juga berlaku bagi agama. Jika Allah menjawab doa manusia, maka jawaban tersebut dapat diperiksa atau dibuktikan.

Para humanis mungkin tidak dapat menjawab semua pertanyaan besar tentang kehidupan. Oleh karena itu, para humanis tidak boleh mengesampingkan jawaban tertentu, termasuk agama. Dengan demikian, untuk mencapai kebenaran atau keyakinan sejati, agama, sains, dan akal budi harus berjalan beriringan.

Sumber Bacaan:

Law, Stephen. “Science, Reason, and Scepticism.” Dalam Andrew Capson dan A.C. Grayling (editor). The Wiley Blackwell Handbook of Humanism. Chichester: John Wiley & Sons, 2015, hlm. 55-71.

Baca Juga:
Sains, Akal Budi, dan Agama Sebagai Posisi Iman

Oleh: Yohanes Wahyu Prasetyo OFM Sains dan akal budi merupakan cara kerja yang dapat diandalkan KLIK UNTUK LANJUT MEMBACA

TINGGALKAN BALASAN

Please enter your comment!
Please enter your name here