Baca Juga:
Gagasan I. Kant Mengenai Rasio Murni, Praktis, dan Daya Pertimbangan

Oleh: Yohanes Wahyu Prasetyo OFM Abad XVIII disebut periode pencerahan (aufklarung) dengan semboyan beranilah berpikir KLIK UNTUK LANJUT MEMBACA

Oleh: Yohanes Wahyu Prasetyo OFM

Berdasarkan studi ilmiah, sejumlah klaim religius atau agama terbukti salah. Terkait hal ini, terdapat tiga contoh yang akan dikemukakan. Pertama, Young Earth Creationism (YEC) meyakini dan menegaskan bahwa alam semesta diciptakan Allah pada enam ribu tahun yang lalu. Keyakinan dan penegasan tersebut didasarkan pada sumber-sumber alkitabiah (biblical sources). Namun, keyakinan dan penegasan YEC dinilai tidak tepat.

Pada abad tujuh belas, Uskup James Ussher melakukan studi yang didasarkan pada Kitab Suci Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru. Uskup James Ussher menyimpulkan bahwa penciptaan terjadi pada malam sebelum tanggal 23 Oktober 4004 SM. Selain itu, YEC dibantah secara empiris oleh ilmu kosmologi, geologi, dan arkeologi.

Kedua, an earth-centred universe. Kosmologi mendominasi alam pikiran awal abad tujuh belas dan memeroleh dukungan dari Gereja Katolik. Terkait hal ini, kosmologi yang didukung Gereja Katolik meyakini bahwa bumi yang dikelilingi matahari merupakan pusat alam semesta.

Pandangan tersebut didasarkan pada Kitab Suci, yaitu Mazmur 96:10 dan Yosua 10:12-13. Perlu diketahui bahwa Galileo menolak dan menyatakan bahwa pandangan kosmologi dan Gereja Katolik salah. Karena bukan matahari yang mengelilingi bumi, melainkan bumi yang mengelilingi matahari.

Ketiga, the power of prayer. Banyak orang meyakini kekuatan doa. Misalnya, kekuatan doa mampu menyembuhkan seseorang ketika menderita sakit. Namun, studi ilmiah terkait doa menunjukkan bahwa keyakinan tersebut tidak tepat. Selain itu, doa tidak memberikan pengaruh apapun bagi seseorang yang menderita sakit.

Selain ketiga contoh sebagaimana diuraikan di atas, teori evolusi Darwin membuat Gereja Katolik gugup. Karena gagasan Darwin tidak selaras atau bertentangan dengan narasi penciptaan dalam kitab Kejadian. Kitab Kejadian menunjukkan bahwa Allah menciptakan segala sesuatu dari ketiadaan (creatio ex nihilo).

Sumber Bacaan:

Law, Stephen. “Science, Reason, and Scepticism.” Dalam Andrew Capson dan A.C. Grayling (editor). The Wiley Blackwell Handbook of Humanism. Chichester: John Wiley & Sons, 2015, hlm. 55-71.

Baca Juga:
Fundamentalisme Agama dan Sains

Oleh: Yohanes Wahyu Prasetyo OFM Pertumbuhan dan perkembangan sains seringkali dipandang sebagai prestasi luar biasa KLIK UNTUK LANJUT MEMBACA

TINGGALKAN BALASAN

Please enter your comment!
Please enter your name here