Oleh: Yohanes Wahyu Prasetyo OFM

Menurut Alan Haworth, terdapat dua gagasan yang menjadi ciri komunitarianisme. Pertama, elemen fundamental masyarakat adalah sejumlah komunitas yang menyusunnya. Kedua, dalam menilai suatu lembaga, praktik, dan kebijakan, yang diperhitungkan adalah pengaruhnya terhadap komunitas, menyebabkan berkembang atau gagal. Kedua gagasan tersebut dapat dideteksi dalam retorika kontemporer. Terutama retorika yang disampaikan oleh orang-orang yang tidak ingin disebut humanis. Misalnya, pidato Rowan Williams, uskup agung Canterbury.

Menurut Williams, semua komunitas agama mengetahui bahwa ikatan yang menyatukan komunitas sangat kompleks. Hal ini memungkinkan komunitas agama memahami pentingnya bagaimana dan mengapa monarki penting bagi kehidupan Inggris Raya. Selain itu, komitmen kapada doktrin Kristen berarti harus bermurah hati, menjalankan tanggung jawab demi kebaikan komunitas nasional. Iman Kristen memberitahu supaya menjauhi sikap superioritas dan keberpihakan kepada kelompok tertentu. Sehingga iman Kristen yang kuat harus menjadi jaminan untuk kesejahteraan semua orang.

Argumen Williams memusatkan perhatian pada relasi antara komunitas iman (faith community) dan komunitas nasional (national community). Sebagaimana dikatakan Alan Haworth, Williams mengemukakan tiga asumsi. Pertama, di Inggris Raya terdapat keragaman komunitas beragama. Kedua, Gereja Kristen sebagai komunitas iman terbesar dan paling lama di Inggris harus murah hati serta menjalankan tanggung jawab. Ketiga, sikap murah hati dan menjalankan tanggung jawab pada dasarnya menguntungkan komunitas.

Penekanan pada pentingnya komunitas iman dapat ditemukan misalnya dalam serangan terhadap sekuler militan (militant secularist) oleh Baroness Warsi. Pada waktu itu Warsi menjabat sebagai Minister for Faith and Communities Inggris. Menurut Warsi, sekuler militan mempunyai asumsi bahwa untuk mengakomodasi orang-orang dari latar belakang lain, yang bersangkutan harus menjadi kurang religius (less religious) atau kurang Kristen (less Christian). Sehingga iman berada pada ranah privat atau pribadi.

Komunitarianisme sebagaimana dikatakan Alan Haworth berbeda dari posisi filosofis yang diambil Michael Sandel dan Alasdair MacIntyre. Sandel mengritik liberalisme yang terlalu individualis. Karena manusia tidak dapat menganggap dirinya mandiri. Bahkan hidup manusia tidak dapat dipisahkan dari anggota keluarga, komunitas, dan bangsa. Sedangkan MacIntyre menuduh liberalisme dan emotivisme kekurangan identitas sosial.

Terdapat perbedaan antara pendekatan sekuler yang diadvokasi kaum humanis dan komunitarianisme. Perbedaan tersebut bersifat ontologi. Kebijakan dan praktik dinilai berdasarkan pengaruhnya terhadap perkembangan serta kesejahteraan pribadi manusia. Misalnya, penekanan humanisme pada otonomi moral individu dan keyakinan bahwa hidup manusia mempunyai makna. Sedangkan dalam komunitarianisme, unit sosial disebut sebagai entitas kolektif atau komunitas.

Menurut Alan Haworth, tidak ada kontradiksi antara humanisme dan sosialisme. Bagi seorang sosialis humanis, nilai solidaritas dan persaudaraan terletak pada komunitas, tempat di mana kebajikan dipraktikkan. Komunitarianisme mendefinisikan pribadi manusia dan membedakan setiap orang dari yang lain. Bentuk komunitarianisme yang secara filosofis canggih membuat identitas pribadi manusia eksplisit. Alan Haworth menolak komunitarianisme yang mendukung sekularisme humanis. Karena tidak tepat apabila identitas pribadi manusia didefinisikan.

Alan Haworth membedakan antara humanisme dan komunitarianisme terkait bagaimana perubahan harus dikelola. Humanisme mendukung pemerintahan sekuler, di mana prinsip hukum, rancangan kelembagaan, dan praktik sehari-hari mengambil sikap netral. Humanisme mengakui bahwa masyarakat modern sangat beragam dan dalam prinsip sekularitas tidak ada agama yang boleh memberikan pengaruh yang tidak semestinya pada lembaga atau pembentukan kebijakan. Sedangkan komunitarianisme menekankan bahwa perubahan kebijakan harus didasarkan pada negosiasi antarkomunitas yang berbeda.

Sumber Bacaan:

Haworth, Alan. “Humanism and the Political Order.” Dalam Andrew Capson dan A.C. Grayling. The Wiley Blackwell Handbook of Humanism. Chichester: John Wiley & Sons, 2015, hlm. 255-279.

TINGGALKAN BALASAN

Please enter your comment!
Please enter your name here