Oleh: Yohanes Wahyu Prasetyo OFM

Merujuk pada Mat 5:28, Yohanes Paulus II menekankan pentingnya memahami “cara memandang” yang berasal dari nafsu. Perlu diketahui bahwa Sir 23:17-22 menggambarkan keadaan jiwa manusia yang didominasi oleh nafsu. Nafsu bagaikan api (fire) yang berkobar di dalam diri manusia. Api tersebut menyerang indera, menggairahkan tubuh, dan menguasai hati.

Menurut Yohanes Paulus II, nafsu mencekik suara hati dan rasa tanggung jawab manusia di hadapan Allah. Terkait hal ini, nafsu membawa kegelisahan pada tubuh dan indera. Oleh karena itu, pada tataran tertentu nafsu dapat disebut sebagai kecenderungan untuk memuaskan indera dan tubuh (the senses and the body).

Nafsu tidak menjangkau sumber kedamaian internal, hanya menyentuh tataran eksternal pribadi manusia. Jika manusia terobsesi memuaskan indera dan tubuh, maka ia tidak akan menemukan kedamaian dalam dirinya. Dapat dikatakan bahwa manusia yang diliputi dan memuja nafsu tidak lagi memerhatikan suara hati (the voice of conscience).

Yohanes Paulus II meyakini bahwa “pandangan” mengungkapkan apa yang ada di dalam hati (a look expresses what is in the heart). Ketika manusia memandang yang lain dengan penuh nafsu, ia menghentikan nilai dan makna perkawinan serta prokreasi. Dengan kata lain, nafsu memudarkan relasi antara laki-laki dan perempuan yang dipanggil untuk membangun persatuan dalam tubuh (Kej 2:24). Karena perkawinan pada hakikatnya merupakan panggilan sakramental (sacramental call) dan dicirikan kebebasan pemberian diri dari laki-laki serta perempuan.

Sebagaimana dikatakan Yohanes Paulus II, ketika Yesus berbicara mengenai seorang laki-laki yang terlihat penuh nafsu, Ia tidak hanya menunjukkan dimensi intensionalitas memandang (looking) atau pengetahuan (knowledge). Tetapi juga dimensi psikologis dan eksistensial manusia. Hal ini memerlihatkan pola relasi di mana laki-laki menempatkan diri sebagai subjek dan perempuan dijadikan objek. Oleh karena itu, nafsu sebagaimana dilukiskan dalam Mat 5:27-28 merupakan tindakan interior murni (purely interior act), tersembunyi di dalam hati.

Terkait perzinahan di dalam hati, perempuan dijadikan objek kepuasan kebutuhan seksual. Hal ini menyebabkan hilangnya kebebasan pemberian diri yang merupakan nilai dan makna perkawinan. Padahal keberadaan laki-laki dan perempuan sebagai pribadi dimaksudkan untuk membangun relasi timbal balik. Relasi timbal balik antara maskulinitas dan feminitas.

Nafsu menghilangkan nilai dan makna pribadi dari persekutuan serta karakteristik laki-laki serta perempuan. Karena dalam Kej 2:24 dikatakan, sebab itu seorang laki-laki akan meninggalkan ayahnya dan ibunya dan bersatu dengan istrinya, sehingga keduanya menjadi satu daging. Akhirnya, nafsu menunjukkan dimensi utilitarian, menggunakan yang lain untuk memuaskan kebutuhannya sendiri.

Sumber Bacaan:

Paul II, John. Theology of the Body: The Redemption of the Body and Sacramentality of Marriage. Libreria Editrice Vaticana: Vatican, 2005.

2 KOMENTAR

TINGGALKAN BALASAN

Please enter your comment!
Please enter your name here