Kesadaran Ekologis dalam Perspektif Santo Fransiskus Assisi

0
1050

Oleh: Yohanes Wahyu Prasetyo OFM

Santo Fransiskus Assisi mempunyai kesadaran ekologis (ecological consciousness) yang sangat mendalam. Hal ini nampak melalui pengalaman mistiknya ketika berhadapan dengan alam (nature). Santo Fransiskus memandang adanya keterkaitan (interconnectedness) dan ketergantungan (interdependence) di alam. Dalam perjalanan hidupnya, ia menunjukkan sikap moral dengan merawat alam.

Narasi kehidupan Santo Fransiskus mempengaruhi etika zaman modern (modern-day ethics) di tengah fenomena krisis ekologi. Meskipun narasinya mengarah kepada fantasi (fantastical), nilai kesadaran ekologis Santo Fransiskus dapat dipertahankan dan relevan sampai saat ini. Ia menginspirasi mengenai pentingnya memberikan hormat, pengakuan, dan kasih terhadap alam.

Nilai dan Makna Narasi

Kehidupan manusia tidak bisa dilepaskan dari narasi atau cerita (stories). Dalam sejarah evolusi, pikiran naratif (narrative minds) bertumbuh dan berkembang sedemikian rupa. Pada umumnya orang lebih menyukai narasi daripada harus belajar matematika dan fisika. Karena belajar matematika dan fisika membutuhkan usaha keras dan melelahkan. Sehingga tidak mengherankan apabila narasi ikut serta membentuk kehidupan manusia.

Narasi diperlukan untuk menggambarkan kehidupan orang-orang hebat dan sejarah yang dianggap penting. Terkait hal ini, narasi mengandung nilai dan makna sejarah serta moral. Namun, narasi berfluktuasi di antara fakta (fact) dan fiksi (fiction). Meskipun demikian, bukan hanya narasi yang benar secara faktual (factually true) yang memiliki makna. Karena fiksi, puisi, dan metafora juga memberikan nilai-nilai sosial (societal values).

Santo Fransiskus dinarasikan sebagai orang yang hidup pada periode Abad Pertengahan. Ia menjadikan Yesus sebagai model inspiratif (inspiring model) dalam hidupnya. Meskipun Santo Fransiskus bukan ahli ekologi (ecologists) dan pada waktu itu belum ditandai krisis ekologi (ecological crisis), narasi kehidupannya memiliki pengaruh dalam upaya memungkinkan keutuhan ciptaan serta kesadaran ekologi modern. Ia dijuluki sebagai Kristus Kedua (Second Christ), meniru dan mengikuti Kristus secara harfiah (literally).

Santo Fransiskus dipandang para pengikutnya sebagai pribadi ideal. Ia menjangkau dan hidup bersama orang-orang miskin. Selain itu, Santo Fransiskus dikenal sebagai pribadi yang dekat dengan alam. Bahkan ia mampu berbicara dengan air, api, udara, tanah, tumbuhan, dan hewan. Memandang berbagai macam elemen alam tersebut sebagai keluarga. Dengan kata lain, ia sangat mengagumi keindahan ciptaan Allah (the beauty of God’s creation).

Siapa Itu Santo Fransiskus?

Narasi kehidupan Santo Fransiskus didokumentasikan secara komprehensif oleh Thomas Celano dan Bonaventura. Mereka menulis riwayat hidup Santo Fransiskus tidak lama setelah kematiannya. Hal ini merupakan tugas berat, karena mereka harus merekonstruksi kehidupan Santo Fransiskus yang sangat kompleks.

Santo Fransiskus lahir pada 1181 di kota Assisi, Umbria, Italia. Ia berasal dari keluarga kaya. Ayahnya bernama Pietro Bernardone, pedagang tekstil dan sering ke Prancis dalam rangka mengembangkan bisnisnya. Sebagai masyarakat kelas borjuis, Santo Fransiskus menikmati kehidupan duniawi. Cita-cita menjadi bangsawan feodal (feudal nobleman) dan bergerak dalam bidang militer (the military) tidak membawa ketenangan serta kenyamanan dalam hidupnya.

Ketika jatuh sakit (1210/1213), Santo Fransiskus sering pergi ke gua dan hutan. Menikmati keindahan alam sambil merenungkan tujuan hidupnya. Dalam permenungan tersebut, ia memutuskan untuk mengikuti Kristus. Kristus dilihatnya sebagai Pribadi yang senantiasa mengosongkan diri dan taat kepada Bapa. Sebagai pengikut Kristus, Santo Fransiskus menghayati gaya hidup orang miskin (the lifestyle of the poor) dan ingin menikahi Putri Kemiskinan (Lady Poverty).

Santo Fransiskus mengawali komitmen hidup dalam kemiskinan dengan memperbaiki Gereja di pinggiran Assisi. Meninggalkan kemewahan kota dan tinggal bersama orang kusta (lepers). Selain itu, di hadapan uskup Assisi, ia mengembalikan pakaian yang dikenakan kepada ayahnya. Selanjutnya, pada 1209/1210, Santo Fransiskus meminta persetujuan paus untuk hidup dalam kemiskinan (poverty), kesucian (chastity), dan ketaatan (obedience). Permintaan tersebut dikabulkan pada 1223.

Cara hidup tersebut diejawantahkannya dalam Ordo Pertama Fransiskan (First Order of Franciscans). Kemudian diikuti oleh Santa Klara dan orang-orang awam yang ingin ambil bagian dalam cara hidup Fransiskan (Franciscan lifestyle). Pada 1228, dua tahun setelah Santo Fransiskus meninggal, ia dikanonisasi oleh Paus Gregorius IX. Selanjutnya, pada 1979, Paus Yohanes Paulus II menetapkan Santo Fransiskus sebagai santo pelindung ekologi (the patron saint of ecology).

Santo Fransiskus sangat mencintai alam. Ia menilai alam sebagai buku Allah (God’s book). Alam mengkomunikasikan kekuatan, kasih, dan perhatian Allah terhadap manusia serta ciptaan lainnya. Pada tataran tersentu Santo Fransiskus memaknai alam sebagai sakramen Allah (sacrament of God’s). Karena ia menemukan Allah dalam segala sesuatu, termasuk dalam diri orang kusta dan cacing tanah. Sehingga tidak berlebihan apabila banyak orang menyebutnya sebagai mistikus alam.

Santo Fransiskus Membangun Kekerabatan Kosmik

Santo Fransiskus mempunyai kasih dan empati terhadap semua ciptaan. Hal ini memperlihatkan bahwa ia senantiasa berupaya membangun kekerabatan kosmik (cosmic kinship). Santo Fransiskus menyebut penghuni alam sebagai saudara dan saudari serta anggota keluarga Allah. Terdapat sejumlah tindakan yang dilakukannya dalam rangka mengejawantahkan kekerabatan kosmik.

Pertama, Santo Fransiskus merawat tanaman yang dibudidayakan dan tanaman liar. Karena ia meyakini nilai intrinsik ciptaan dan sampai pada kesadaran di mana tumbuhan serta hewan dirahmati Allah dengan akal budi. Oleh karena itu, Santo Fransiskus berkhotbah (preaching) di hadapan bunga, ladang jagung, kebun anggur, burung, dan ikan.

Kedua, ketika menjumpai cacing di tengah jalan, Santo Fransiskus mengambil dan meletakkannya di tempat yang aman serta nyaman, supaya tidak diinjak oleh orang-orang yang melewati jalan tersebut. Karena ia sadar bahwa cacing juga mempunyai hak (rights) yang berasal dari Allah. Selain itu, inkarnasi menyucikan semua kehidupan dan Allah menyatakan diri-Nya dalam seluruh ciptaan dengan pancaran Ilahi (Divine radiance).

Ketiga, Santo Fransiskus menyapa jangkrik (cicada) sebagai saudari dan memintanya menyanyikan puji-pujian kepada Allah. Selain itu, ia menyebut ikan sebagai saudara. Oleh karena itu, tepat apabila Santo Fransiskus disebut sebagai seorang mistik alam (nature mystic). Hanya orang yang dekat dengan Yang Maha Tinggi (Most High) dapat melakukan tindakan tersebut.

Keempat, pada waktu itu serigala mengganggu, mengancam, dan membunuh sejumlah penduduk Gubbio. Kemudian Santo Fransiskus bertemu dan membuat perjanjian dengan serigala. Serigala tidak boleh melakukan kejahatan. Sedangkan masyarakat akan memberi makan serigala tersebut. Sehingga menjadi jelas bahwa Santo Fransiskus mampu menghidupi moralitas atau tanggung jawab moral dan mengupayakan rekonsiliasi dengan alam.

Kelima, titik tertinggi kesadaran ekologis Santo Fransiskus terungkap dalam Canticle of the Creatures. Karya tersebut menginspirasi pemikir dan penyair besar seperti Dante Alighieri (1265-1321). Perlu diketahui bahwa karya tersebut ditulis pada 1225, satu tahun sebelum ia meninggal (1226). Selain itu, Canticle of the Creatures menunjukkan bahwa Santo Fransiskus mampu berdamai dengan Saudari Maut (Sister Death). Ia memulai dan mengakhiri karya tersebut dengan pujian kepada Allah Yang Maha Tinggi. Pujian dan terima kasih atas keindahan alam, organik dan non-organik.

Santo Fransiskus memuji Saudara Matahari (Brother Sun), karena cahaya dan kemegahannya mengingatkannya akan Allah. Saudari Bulan (Sister Moon) dan bintang-bintang menarik perhatian dengan kecantikannya. Saudara Angin (Brother Wind) menentukan cuaca dan Saudari Air (Sister Water) memberi rezeki bagi kehidupan. Saudara Api (Brother Fire) dipuji karena panasnya di malam hari dan Saudari Ibu Pertiwi (Sister Mother Earth) menghasilkan serta memelihara buah, tanaman, dan tumbuhan.

Bahkan Santo Fransiskus juga memuji mereka yang senantiasa memberikan maaf secara tulus kepada yang lain. Selanjutnya, Saudari Maut Badani (Sister Bodily Death) yang dengannya ia berdamai juga dipuji. Penghormatan Santo Fransiskus terhadap alam dicirikan oleh pola relasi Aku-Engkau (I-Thou), bukan Aku-Benda (I-It). Sehingga ia mampu melepaskan lidah bebatuan dan padang rumput, mengangkat suara mereka dalam kerukunan persaudaraan menyanyikan glory to God in the Highest and on earth peace.

Belajar dari Kesadaran Ekologis Santo Fransiskus

Santo Fransiskus tidak menawarkan wawasan ilmiah mengenai bagaimana (how) ekosistem bekerja. Tetapi ia menawarkan jawaban atas pertanyaan mengapa (why) harus menghormati alam. Dalam penyerahan total kepada Yesus, Santo Fransiskus tersentuh oleh kehadiran Sabda yang menjadi daging (the presence of the Word made flesh). Allah hadir dalam tatanan ciptaan dan mengikatnya menjadi satu jalinan kehidupan yang saling terhubung. Dengan kata lain, ia menawarkan deskripsi spiritual mengenai saling ketergantungan ekosistem.

Santo Fransiskus menyebut seluruh elemen alam sebagai saudara dan saudari. Ia memberikan nilai intrinsik dan membangkitkan gaya hidup penuh hormat ketika berhadapan dengan ciptaan. Oleh karena itu, personifikasi atas segala sesuatu merupakan konsekuensi logis dari pendirian imannya. Hal ini didorong oleh kasih dan empati terhadap semua ciptaan serta menghendaki suatu persekutuan hidup (communion of life) di dunia.

Kesadaran ekologis yang ditunjukkan Santo Fransiskus dapat diterjemahkan secara bermakna dan kreatif dalam konteks budaya kotemporer. Perlu diketahui bahwa salah satu persoalan kontemporer yaitu krisis ekologi (ecological crisis). Berhadapan dengan antroposentrisme yang mengakibatkan kerusakan lingkungan, ia memperlihatkan pentingnya penghormatan, kekerabatan, dan kasih terhadap komunitas kosmik.

Akhirnya, penting untuk memadukan kesadaran ekologis dan ilmu pengetahuan alam dalam upaya melestarikan alam. Agama dan ilmuwan alam harus menjadi mitra untuk menyelamatkan planet dari persoalan lingkungan. Sikap dan pengetahuan harus berjalan berdampingan untuk mewujudkan keutuhan ciptaan serta kehidupan yang berkelanjutan.

Sumber Bacaan:

Viviers, Hendrik. “The Second Christ, Saint Francis of Assisi, and Ecological Consciousness.” Verbum et Ecclesia. Vol. 35, No. 1 (2014), hlm. 1-9.

Catatan: Tulisan ini pernah dimuat dalam majalah Gita Sang Surya, Mei-Juni 2021, hlm. 47-49.

TINGGALKAN BALASAN

Please enter your comment!
Please enter your name here