Pengantar

            Ketiadakadilan, kemiskinan, dan marginalisasi terhadap bagitu banyak orang dan kelompok tertentu saat ini, termasuk di Indonesia, membutuhkan refleksi, diskusi, tanggapan dan tindakan konkret bagi upaya pembebasan dari persoalan-persoalan tersebut. Gereja Katolik tentu saja juga dipanggil untuk mengambil bagian dari perjuangan pembebasan itu. Panggilan itu tidak hanya bersandar pada keprihatinan atas kelaparan, penderitaan dan kemiskinan begitu banyak orang, termasuk orang Katolik sendiri, melainkan sebagai bagian integral dari penghayatan iman akan Allah yang mewahyukan diri-Nya sebagai Allah yang Mahakasih, Pembebas dan peduli dengan mereka yang miskin, sakit dan tertindas.

Teologi Pembebasan sebagai model dan cara merefleksikan, cara membahasakan dan menghadirkan Allah dan iman Kristiani, mau memberikan penekanan pada aspek emansipasi dan pembebasan yang terkandung dalam iman Kristiani tersebut. Bagi teologi pembebasan, iman akan Allah harus memilki relevansi bagi perjuangan pembebasan mereka yang tersingkir dan tertindas. Mengimani dan mewartakan Allah yang membebaskan dan dekat dengan orang miskin dan tertindas sebagaimana nampak dalam diri Yesus Kristus, harus bermuara pada perjuangan pembebasan mereka yang miskin, lapar dan tertindas. Semoga Teologi Pembebasan memberikan sumbangan yang sangat berharga bagi Perjuangan Keadilan, Perdamaian dan Keutuhan Ciptaan yang beberapa tahun terakhir ini menjadi cara baru kehadiran dan pewartaan Gereja.

 

Lahirnya Teologi Pembebasan

Pada akhir tahun 1950 sejumlah imam dari Amerika Latin dikirim ke Eropa untuk melakukan studi teologi. Teologi di Eropa saat itu sedang dalam masa transisi. Di samping beberapa teolog yang masih mempertahankan posisi teologi yang konservatif, beberapa teolog seperti Teilhard de Chardin dan Karl Rahner mencoba mengeksplorasi hubungan antara modernitas dan iman kristiani. Pandangan kedua teolog ini kemudian mendapat dukungan kuat dalam Konsili Vatikan II.  Gustavo Gutierrez (Peru) dan Juan Luis Segundo (Uruguay) berminat dengan gerakan teologi tersebut. Di sana mereka menemukan dialog antara teologi dengan teori-teori sosial. Hal itulah yang membuat para teolog Amerika Latin itu mulai mempelajari Marx dan freud, juga Agustinus dan Thomas Aquinas. Mereka kemudian pulang ke Amerika Latin dengan membawa gagasan-gagasan teologis tersebut dan mulai melakukan dialog dengan teori sosiologi, psikologi, ekonomi dan politik. Di kemudian hari, usaha mereka ini dianggap sangat sejalan dengan amanat Konsili Vatikan II yang menyerukan pentingnya pembaharuan dalam Gereja Katolik untuk memberi perhatian pada komitmen sosial.

Apa yang harus dilakukan oleh para teolog ini setelah kembali dari Eropa adalah bagaimana mereka harus menerjemahkan gagasan teologis yang mereka pelajari di Eropa dalam konteks mereka di Amerika Latin. Pada tahun 1960-an, Eropa berada dalam kondisi sosial-ekonomi yang stabil, sementara di belahan bumi yang lain, termasuk Amerika Latin berada kondisi dehumanisasi akibat kemiskinan dan kekerasan ekonomi dan politis. Dalam situasi seperti itu, bagaimana orang berbicara tentang Allah tatkala ribuan orang terpuruk dalam saituasi yang sungguh tidak manusiawi lagi akibat eksploitasi dan represi ekonomi dan politik?

Tahun 1968, para Uskup Amerika Latin berkumpul untuk mengadakan pertemuan di Medellin (Kolombia) dalam rangka membangun strategi pastoral untuk mengimplementasikan amanat Konsili Vatikan II dalam konteks Amerika Latin.  Dalam pertemuan itu, Gutierrez dan Segundo dipercayakan untuk menyiapkan dokumen yang berisi baik pandangan teologis maupun struktur sosio-politik Amerika. Tidak lama setelah pertemuan Medellin itu, Gustavo Gutierrez mempublikasikan karyanya yang berjudul: Teologi Pembebasan, yang mana di dalamnya ditegaskan komitmen umat Kristiani demi pembebasan kaum miskin dan tertindas.  Judul buku ini kemudian dipilih menjadi nama gerakan teologi dan pastoral dalam Gereja global.

Bagi Gutierrez, kemiskinan dan ketidakadilan yang diderita oleh begitu banyak orang di dunia merupakan skandal yang tidak bisa dibiarkan terus terjadi. Kendati dia mengakui peran dimensi rohani atau spiritual bagi perjuangan pembebasan, ia menyadari betapa pentingnya sistem sosial bagi terjaminnya martabat anak-anak Allah. Kemiskinan, ketidakadilan, dan penindasan sungguh mengaburkan dan bahkan merusak nilai dan keindahan martabat manusia. Jika umat kristiani percaya akan inkarnasi Allah yang nampak dalam dunia, mereka mestinya harus berbuat sesuatu demi perjuangan kemanusiaan; jika tidak demikian, iman mereka akan Allah sama sekali tidak berfaedah.  Pertanyaan yang muncul kemudian adalah bagaimana mereka yang tidak berdaya dan tertindas itu mendapat tempat dalam komunitas Kristiani? Apa yang telah dilakukan oleh Gereja institusional dengan Ajaran Sosial Gerejanya, dan yang dikatakan Kitab Suci kepada mereka? Apakah komunitas Kristiani dalam dunia yang sedang berkembang mau mendengarkan dan menanggapi jeritan-jeritan mereka? Dalam waktu yang sangat singkat tulisan Guttierrez dibaca dan mendapat sambutan yang sangat luar biasa di bagian dunia yang lain, teristimewa di wilayah-wilayah yang senasib dengan situasi Amerika Latin. Itulah sebabnya Gutierrez disebut sebagai bapa Teologi Pembebasan.

 

Konsern dan Karakteristik Teologi Pembebasan

Keprihatinan dasar yang membidani lahirnya teologi pembebasan adalah realitas kemiskinan, penindasan dan ketidakadilan yang melanda dunia. Kemajuan dunia industri hanya mengutungkan segelintir orang kaya di belahan bumi utara; sedangkan orang-orang di dunia selatan (negara-negara dunia ketiga) tetap berada dalam kemiskinan yang memprihatinkan. Akar dari semua itu adalah sistem ekonomi dan politik yang mengeksploitasi sebagian besar umat manusia demi privilege sebagian kecil orang kaya dan berkuasa.

Fase pertama teologi pembebasan (sekitar tahun 70-an) memberikan tekanan khusus pada hubungan antara iman dan isu sosial-ekonomi. Yang pertama-tama dilakukan ialah mencari penyebab situasi yang dihadapi. Menurut para teolog pembebasan, sistem ekonomi kapitalislah yang menyebabkan penderitaan masyarakat. Itu sebabnya mereka mempelajari dengan serius perihal kapitalisme tersebut. Dalam menilai dan mengkritisi kapitalisme, mereka merasa bahwa teori sosial Marxsisme sangat mumpuni untuk melakukan itu. Setelah melewati penelitian dan studi yang mendalam mereka menyadari bahwa studi ekonomi dan sosiologi membantu untuk mengatahui bagaimana masyarakat berjalan dan bekerja. Namun, tidak mampu memberikan penjelasan yang fundamental dan menyeluruh perihal kemiskinan dan penindasan yang terjadi di belahan Dunia Ketiga. Bagi mereka, penjelasan yang lebih fundamental dan yang lebih dikenal dan mendalam harus ditemukan dalam teologi, yakni dalam paham tentang realitas dosa. Kemiskinan dan penindasan bukan hanya karena situasi sosial dan ekonomi tetapi karena dosa. Penderitaan warga dunia ketiga merupakan akibat dosa dari orang-orang kaya dunia pertama (negara kaya dan maju).  Bagi negara-negara maju dan kaya, alam dan manusia dari dunia ketiga hanyalah sumber materi dan tenaga kerja yang murah.

Karena pertimbangan di atas maka untuk memberi jalan keluar atas situasi ketidakadilan yang kian masif dan terstruktur tidak cukup hanya dari segi ekonomi maupun politik. Yang sangat dibutuhkan adalah perubahan atau pertobatan batin. Menurut para teolog pembebasan, hidup kristiani yang radikal (radix), seperti yang ditunjukkan oleh Kristus sendiri sebagai kepala Gereja, mampu melawan kemiskinan, penindasan dan ketidakadilan di dunia. Individualisme dan materialisme dalam dunia berkembang merupakan manifestasi dosa yang menyebabkan ketidakadilan, kemiskinan dan penderitaan. Pada saat yang sama, mereka mengajak orang miskin dan tertindas untuk tidak diam, melainkan berani bersuara demi keadilan. Dengan demikian, konsern atau perhatian para teolog pembebasan ialah memformulasikan sebuah penjelasan tentang iman Kristiani yang memberi tempat pada pengalaman, jeritan dan harapan orang miskin dan tertindas.

Demi perubahan dan perwujudan keadilan, para teolog pembebasan menekankan pentingnya praksis (praxis). Praksis yang dimaksudkan di sini tentu saja praksis pembebasan (liberative praxis). Hal itu merupakan hal utama yang harus dilakukan oleh umat kristiani. Praksis pembebasan itu sendiri mengalir dari pemahaman akan identitas komunitas Kristiani, yaitu mereka yang mengimani dan mengikuti Yesus Yesus dalam mewartakan Kerajaan Allah. Mereka ada bukan hanya demi diri mereka sendiri, melainkan juga demi orang lain, terutama mereka yang miskin, lemah dan menderita. Hal itu dapat diwujudkan melalui perjuangan demi keadilan dan kebebasan.

Praksis merupakan ungkapan komitmen umat kristiani terhadap dunia dan juga terhadap iman akan kekuatan Injil untuk mentransformasi hidup dalam sebuah cara yang positif dan konstruktif. Hal itulah yang mencirikhaskan komunitas kristiani dari aktifis dan gerakan sosial maupun politik. Bagi umat Kristiani, tujuan utama pembebasan harus mencakupi baik keselamatan yang berciri material maupun spiritual; baik pembebasan dari kemiskian dan penderitaan maupun pembebasan dari dosa. Para teolog pembebasan menegaskan bahwa kita tidak boleh memandang hina dan menganggap remeh orang miskin dan melihat mereka sebagai kaum yang lemah dan tak berdaya. Orang miskin memilki kekuatan yang khas dan unik; seperti yang dikatakan oleh Gustavo Gutierrez: “dunia berkembang menyebabkan orang menjadi miskin dan menjadi orang yang percaya. Meraka saling percaya satu sama lain dan percaya pada Allah yang memberi hidup. Itulah kekuatan mereka yang sangat dashyat” Inilah yang sering disebut oleh Gutierrez sebagai “The Power of the poor in history.”

Dalam membangun teologi mereka, para teologi pembebasan tentu saja bersandar dan bersumber pada Kitab Suci sebagai sumber wahyu dan iman. Dalam Kitab Suci mereka menemukan pewahuan Allah sebagi Penyelamat sekaligus sebagai Pembebas. Allah membebaskan bangsa Isreal dari Perbudakan; Allah dalam diri Yesus Kristus memperlihatkan keberpihakan kepada mereka yang sakit, miskin, lemah dan tersingkirkan. Kitab Suci mewartakan Allah yang sungguh-sungguh hadir dalam sejarah dan pergulatan manusia. Allah itu hadir di gunung Sinai, dengan memberi hukum sebagai petunjuk dan pedoman hidup umat-Nya; Ia juga hadir dalam diri Yesus, Sang Emanuel, Allah yang menyertai manusia. Namun Allah juga hadir dalam diri orang miskin dan tertindas, dan tentu saja dalam diri semua orang yang berkehendak baik.

Para teolog pembebasan memahami Kitab Suci sebagai sumber pewahyuan yang terus-menerus berlangsung, ketimbang sebagai sekeder kumpulan teks-teks kuno. Peristiwa pembebasan bangsa Israel terus menerus dihadirkan dan diwartakan. Kitab Suci bagi orang Kristiani harus selalu membantu mereka untuk memahami iman mereka dalam setiap konteks dunia di mana mereka hidup dan hadir. Dengan memperbincangkan dan merenungkan Kitab Suci, hendaknya mereka selalu sadar bahwa perjuangan mereka demi keadilan merupakan bagian dari rencana Allah untuk segenap ciptaan-Nya. Selanjutnya, Kitab Suci merupakan sarana kunci untuk membangkitkan kesadaran umat kristiani dan membantu mereka untuk bertindak secara baik dan benar dalam masyarakat.

Selain bersumber pada Kitab Suci, para teolog pembebasan juga memahami betul akan peran tradisi Gereja. Tradisi merupakan kekuatan yang sangat efektif dan berdaya guna untuk memahami dan merasakan penderitaan dan sukacita, kegagalan dan kesuksesan komunitas kristiani dalam sepanjang sejarah dan konteksnya yang beragam.  Tradisi juga merupakan penghubung dan pemersatu umat Kristiani melalui simbol dan sejarah yang diwariskan kepada segenap umat dari zaman ke zaman. Mereka juga melihat dalam tradisi sebuah kekuatan pemberian diri yang nampak dalam aktivitas seni dan budaya. Ada sejumlah nyanyian yang terus-menerus diwariskan sebaai tradisi yang mengungkapkan penderitaan dan sukacita jaman lampau. Dalam komunitas-komunitas basis, orang miskin dan tertindas merayakan apa yang sering disebut sebagai ”underside of history”.

Secara fundamental, teologi pembebasan berkaitan dengan dua hal prinsipil berikut: Pertama, manujukkan atau mengedepankan relevansi teologis dari gerakan pembebasan. Pembebasan historis tidak pernah hanya berciri historis; sebab di dalamnya secara objektif terkandung rahmat atau dosa, meski terkandung pula riak-riak kepentingan para aktor dan ideologi yang mereka anut. Allah bekerja dalam setiap peristiwa hidup manusia, kendati pengalaman sulit dan derita sekalipun. Dalam konteksi ini, membaca kembali gagasan dan gerakan diam masa lalu dengan menggunakan paradigma teologis dan pembebasan amatlah penting. Dari pembacaan itu kemudian akan ditemukan relevansinya bagi perjuangan pembebasan saat ini atas mereka yang miskin dan tersingkirkan. Umat Kristiani yang dipanggil untuk menghadirkan Allah dalam sejarah hanya mungkin melaksanakan misinya itu, kalau mereka menempatkan iman dan teologi mereka demi proses emansipatoris yang menghasilkan humanisasi dan horizon kebebasan yang lebih besar. Gereja merupakan tempat di mana kesadaran akan emansipasi dan pembebasan itu dikembangkan. Perayaan-perayaan iman Gereja bukan hanya perayaan demi keselamatan Gereja sendiri, melainkan juga demi keselamatan dunia pada umumnya.

Kedua, teologi pembebasan mau menegaskan aspek pembebasan yang merupakan aspek penting yang diwartakan Injil, dalam hidup dan pewartaan Yesus dan dalam tradisi warisan Gereja. Iman hanya mungkin menyelamatkan sejauh diterjemahkan dalam praksis kasih; kasih yang tidak hanya berciri personal, tetapi juga berciri sosial dan struktural. Keselamtan tidak hanya nampak dalam gerakan pembebasan, melainkan juga dalam setiap pengungkapan pribadi seseorang dan juga saat ini harus berdimensi politis; sebab politik merupakan ranah di mana keputusan besar manusia harus diambil dan di sana harus menjadi tempat manusia melayani dan membela Allah. Para Uskup di Puebla dengan amat tepat menegaskan: “Pembebasan harus diwujudkan dalam sejarah, demi pembebasan kita dan juga pembebasan umat-umat kita; dan harus mencakupi setiap aspek kehidupan: sosial, politik, ekonomi, budaya, dan segenap sendi relasi manusia” (no.483) Dan Gereja mengecam mereka yang mereduksi iman hanya dalam ranah pribadi atau keluarga dan menyingkirkan iman yang berciri profesioanal, ekonomi, sosial dan politik; hal serupa juga yang mereka pahami tentang dosa, cinta, doa dan pengampunan” (no.515).

 

Sumber Bacaan

Cadorette Curt, Gablin Marie, dkk., Liberation Theology, Maryknoll, New York, 1992.

Gustavo Gutierrez, The God of Life, Maryknoll, New York, 1991.

______________, The Truth Shall Make You Free, Maryknoll, New York, 1990.

Lenardo Boff, Saint Francis: A Model for Human Liberation, Crossroad, New York, 1982.

Leonardo & Clodovis Boff, Salvation and Liberation: In Serach of a Balance Between Faith and Politics, Maryknoll, New York, 1979.

TINGGALKAN BALASAN

Please enter your comment!
Please enter your name here