KONSEP TRINITAS DALAM PANDANGAN TERTULIANUS

0
275

Oleh: Guido Ganggus OFM

Sebuah pemikiran baru lahir tentu tidak terlepas dari konteks-konteks di mana seseorang hidup. Konteks-konteks tersebut akan sangat memengaruhi pola pikir seseorang ketika menyusun pemikiran-pemikiran tertentu. Demikian juga, Tertulianus sangat dipengaruhi oleh situasi yang terjadi pada masa hidupnya. Semua konteks yang dimaksud telah dibahas pada bab II. Oleh karena itu, dalam bab III ini, akan diulas beberapa pokok pemikiran Tertulianus tentang Allah Tritunggal untuk menjawab dan meluruskan ajaran kekristenan dari berbagai macam pengaruh bidah, khususnya bidah Monarkianisme. Tertulianus melakukan pembelaan dalam sebuah buku terkenal berjudul “Against Praxeas”.

1. Trinitas: Satu Kesatuan Sempurna Allah

1.1 Kesatuan dalam Trinitas

Sejak awal, Tertulianus tidak sependapat dengan bidah Monarkianisme. Tertulianus menyebut bidah Monarkianisme seperti iblis yang dengan berbagai cara datang menyaingi dan menolak kebenaran.[1] Salah satu cara yang dilakukan oleh bidah Monarkianisme untuk mendukung ajarannya adalah menggunakan kutipan ayat Kitab Suci.[2] Monarkianisme menyatakan bahwa Allah hanya satu pribadi; Dia adalah Pencipta dan Mahakuasa yang menguasai segala sesuatu baik di surga maupun di bumi. Menurut Tertulianus, Monarkianisme yang diajarkan oleh Praxeas  menempatkan hanya satu pribadi saja yang bertindak dalam sejarah keselamatan.[3] Dia adalah Bapa. Bahwa pada suatu hari Bapa sendiri yang datang kepada seorang perawan (dalam bentuk Roh) yang kemudian dikandung (mengenakan daging) dan dilahirkan ke dunia. Dia adalah Yesus Kristus yang datang untuk menebus dosa manusia melalui sengsara, derita, serta wafat-Nya di salib. Kesatuan yang dimaksudkan oleh Monarkianisme jelas menolak ketigaan dalam Allah. Tertulianus menyebut Praxeas yang datang ke Roma melakukan pelayanan yang sesat dengan ajarannya yang menyalibkan Bapa.[4] Bapa Mahakuasa dalam pandangan Praxeas telah disalahartikan dengan konsep menyatukan (satu pribadi) Bapa, Putra, dan Roh Kudus.

Berbeda dengan konsep Monarkianisme Praxeas, Tertulianus menekankan hanya pada satu Allah (in one God) dengan tiga pribadi.[5] Ketigaan dalam Allah harus dipahami dengan (mengikuti) pengaturan pada diri Allah sendiri atau lazim disebut ‘oikonomia’.[6] Ekonomi Allah menyiratkan pemahaman bahwa Allah memiliki struktur internal dalam diri-Nya.[7] Allah tetap satu, tetapi dalam struktur internal terdapat Allah Bapa dan Putra sebagai Firman yang telah datang dari Dia (bdk. Yoh. 1:3). Putra adalah utusan Bapa yang diutus ke dunia melalui seorang perawan, Dia adalah Manusia dan Tuhan, Putra manusia dan Putra Allah yang disebut sebagai Yesus Kristus (bdk. Mat. 1:16-25). Berdasarkan kesaksian Kitab Suci, Dia yang menderita, wafat, dan dimakamkan. Kemudian “dibangkitkan oleh Bapa pada hari ketiga”, naik ke surga, dan akan datang kembali untuk menghakimi kehidupan dan kematian (1 Kor. 15:3-4). Sesuai dengan janji-Nya, Ia akan mengutus “seorang penolong yang lain” kepada semua orang-orang percaya pada Bapa, Putra, dan Roh Kudus (Yoh. 14:16-17).

Dalam struktur internal, Allah tetap memiliki kesatuan sempurna dengan yang lain. Ketiga pribadi menyatu melalui kesatuan substansi (unity of nature) tanpa mengesampingkan misteri ekonomi (the mystery of the economy).[8] Dalam hal ini, tanpa terlepas dari misteri ekonomi, Allah Bapa, Allah Putra dan Allah Roh Kudus yang berbeda menyatu di dalam satu substansi. Kesatuan substansi Allah terdistribusi ke dalam tiga pribadi, yaitu pribadi Allah Bapa, pribadi Yesus Kristus dan pribadi Roh Kudus. Walaupun terdistribusi ke dalam tiga pribadi, substansi mereka tidak terpisah tetapi tetap satu karena tetap ada satu Allah. Tetapi bagi sejarah keselamatan, terdapat perbedaan yang bersisi tiga dari kesatuan itu.[9] Ekonomi Allah mengatur ketigaan pada diri-Nya. Dalam hal ini, Tertulianus menulis: “Ekonomi ini mengatur kesatuan dalam Trinitas, menata ketigaan yaitu Bapa, Putra, dan Roh Kudus, bagaimana pun bukan dalam kondisi, tetapi dalam derajat, bukan dalam substansi, tapi dalam bentuk, bukan dalam kuasa, tetapi dalam aspek.”[10]

Melalui kutipan di atas, dapat ditengarai Allah memiliki satu substansi, satu kenyataan atau kondisi, dan satu kekuasaan karena hanya ada satu Allah yang dari-Nya memiliki derajat, bentuk, dan aspek yang menyata dalam nama Bapa, Putra, dan Roh Kudus. Derajat, bentuk, dan rupa atau aspek adalah hal yang menjadi pembeda antara ketiga pribadi tersebut. Bapa, Putra, dan Roh Kudus merupakan pribadi yang sejak semula memiliki kesatuan kekal dan perbedaan satu sama lain. Ketiga entitas merupakan subjek yang terbagi, tidak terpisah.

Dengan demikian, beriman kepada Allah Tritunggal berarti mengimani seluruh kenyataan yang ada pada-Nya sebagai satu kesatuan yaitu, tiga pribadi (dalam pengertian tiga tingkatan, tiga bentuk dan tiga aspek) Allah. Penerimaan akan kenyataan tersebut mengandaikan penerimaan Allah dalam seluruh ekonomi-Nya (pengaturan di dalam diri-Nya sendiri). Ekonomi Allah[11] pada diri-Nya adalah pengaturan Trinitas yang terbagi ke dalam beberapa rupa dengan segala keunikan masing-masing. Mereka berproses dan berasal dari diri mereka sendiri tanpa suatu pertentangan akan kuasa yang dimiliki dalam keallahan.

1.2 Monarki Ilahi (Pemerintahan Tunggal Allah)

Tertulianus mengakui pemerintahan tunggal Allah. Bagaimana monarki kemudian dipahami pada kenyataan Allah tiga pribadi?. Monarki menurut Tertulianus berarti pemerintahan oleh satu pribadi, tetapi monarki dalam konteks Trinitas tidak dipahami sebagai milik satu pribadi.[12] Terjemahan literer dari kata monarki tidak bisa disandingkan pada Trinitas jika memahaminya seperti konsep Monarkianisme. Konsep monarki perlu melangkah lebih jauh (melebihi makna aslinya) ketika dihubungkan dengan konsep Allah Tritunggal sebab ketiga pribadi memiliki relasi yang akrab satu sama lain dan tidak terpisah. Maka, ketika konsep pemerintahan tunggal diterapkan pada Trinitas, berarti ketiga pribadi turut serta di dalam pemerintahan tunggal Allah. Pemerintahan tunggal tidak dimonopoli oleh seorang pribadi saja, namun terbuka bagi semua.

Keterbukaan antara Bapa, Putra, dan Roh kudus menjadikan mereka membawahi kekuasaan dan pemerintahan secara sama. Bapa sudah memiliki seorang Putra sebagai agents lain yang bersatu dengan Dia (Bapa). Bagi Tertulianus, ketika pemerintahan dipegang oleh salah satu pribadi, maka akan menimbulkan sisi individualisme yang bertentangan dengan sifat Allah.[13] Sisi individualisme akan menciptakan ketidakharmonisan dalam komunikasi yang intens dengan pribadi (agents) lain sehingga berdampak pada komunikasi yang terjalin hanya kepada diri sendiri. Tertulianus menegaskan bahwa tidak ada kekuasaan yang hanya dimiliki oleh satu orang saja dalam kaitannya dengan tiga Pribadi.[14] Kekuasaan atau pemerintahan tentu menjadi milik yang lain yang dekat dengan-Nya yaitu Putra. Maka kekuasaan itu pun tidak akan terbagi selain kepada Putra. Kekuasaan (tetap satu) dimiliki oleh Bapa dan Putra yang merupakan pemilik monarki (kerajaan tunggal).

Putra dan Roh Kudus yang memiliki tempat kedua dan ketiga bersatu dengan Bapa dalam esensi-Nya. Mereka secara alami adalah anggota dari substansi Bapa sendiri, janji kasih-Nya, alat-alat kekuasaan-Nya. Tertulianus menggambarkan relasi antara Bapa dan Putra tidak membahayakan monarki Allah karena  bukan oleh pembagian (division) yang satu berbeda dari yang lain tetapi karena pembedaan (distinction).[15] Putra akan mewakili Bapa melakukan kehendak Bapa dan menerima kekuasaan dari Bapa, tetapi Putra juga yang telah menerima kekuasaan itu kemudian harus mengembalikan seluruh yang Ia terima kepada Bapa. Begitu pula segala sesuatu tunduk kepada Putra dan Putra tunduk kepada Bapa. Dari sini tampak jelas sistem monarki dalam keallahan; keberadaan anak merupakan penggenapan, bukan pertentangan dalam monarki Allah. Monarki dalam Allah tidak bisa dilepaskan dari ekonomi Allah sendiri. Bagi Tertulianus hanya pemikiran sesat yang akan menolak monarki pada Trinitas sebab sebenarnya satu-satunya aturan pemerintahan tunggal membutuhkan agen yang lain (agents).[16]

1.3 Kesatuan Bapa, Putra, dan Roh Kudus

Kesatuan Bapa, Putra, dan Roh Kudus tidak hanya dalam struktur internal atau ekonomi-Nya, tetapi menyejarah dalam sejarah keselamatan. Karya yang dilakukan tidak hanya melibatkan satu pribadi, tetapi kesatuan partisipasi seluruh pribadi. Putra yang berasal dari substansi Bapa akan mewakili Bapa melakukan segala kehendak Bapa. Begitu pula berkaitan dengan derajat ketiga dalam keallahan yaitu Roh kudus. Roh Kudus tidak berasal dari sumber lain selain dari Bapa melalui Putra. Ketiga pribadi ilahi menyatu dalam karya yang dilakukan (bdk. Yoh. 15:26). Roh Kudus hadir guna menyertai ciptaan. Allah telah demikian seperti itu (sesuai kehendak-Nya, Allah memiliki beberapa nama demi sejarah keselamatan) adanya dengan kekhasan dalam diri-Nya.[17] Roh Kudus berperan dalam menuntun semua orang kepada kebenaran seperti yang diajarkan oleh Putra dari Bapa.

Ketiga-Nya selalu menempati kebersamaan dan keberbedaan. Roh Kudus berbeda dari Bapa dan Putra untuk keberadaan Pribadi mereka, tetapi tetap satu dan tidak terpisahkan.[18] Roh Kudus disebutkan oleh Yesus sebagai penghibur yang akan datang menemani manusia setelah Ia naik ke surga. Dia disebut sebagai “penghibur yang lain” yang datang sebagai pribadi untuk memuliakan Yesus dan akan mewartakan kembali apa yang telah diwartakan oleh Yesus (Yoh. 14:16). Jadi, segala sesuatu yang dimiliki oleh Bapa dimiliki oleh Putra dan itulah yang diwartakan oleh Roh Kudus. Hubungan Bapa di dalam Anak dan Anak di dalam Roh menunjukkan kesatuan yang unik tak terpisah dan berbeda dengan yang lain.

Bapa, Putra, dan Roh Kudus yang memiliki derajat berbeda, namun tetap dalam kondisi stabil pada Diri-Nya.[19] Artinya bahwa Bapa, Putra, dan Roh Kudus hadir sesuai dengan ke-ada-an. Misalnya, melalui kenyataan Putra harus memulihkan seluruhnya kepada Bapa; Dia akan menyerahkan kerajaan kepada Allah Bapa (bdk. 1 Kor. 15:24-25). Ketika semua hal harus ditundukkan kepada Putra, maka Putra juga akan tunduk kepada Bapa yang meletakkan “segala sesuatu di bawah-Nya, supaya Allah menjadi semua di dalam semua” (1 Kor. 15:27-28).[20] Mereka ada sesuai dengan kekhasan mereka tanpa keluar dari apa yang menjadi ciri khas ketiga Pribadi. Ketiganya selalu bersama, saling mengisi dan mendukung dalam melakukan karya-karya Allah. Kalau merenungkan secara sepintas, tampak bahwa ketiga pribadi menunjukkan suatu model di mana mereka saling mendiami, saling bersekutu, dan saling melayani. Melalui hal ini, Allah Tritunggal adalah Allah yang sangat misterius karena memiliki kejamakan tanpa pertentangan, memiliki kuasa tanpa saling berrebut, serta berlaku setia satu terhadap yang lain.

Kuasa yang satu dalam Allah Tritunggal dikuasai oleh Putra. Kuasa yang dipegang oleh Putra bukan kuasa atas kehendak sendiri melainkan mewakili kehendak ketiga pribadi. Dapat dilihat, walaupun kerajaan dikendalikan oleh Putra, Dia bukan halangan bagi keberadaan monarki Ilahi. Putra masih dalam keadaan-Nya sendiri dan dengan cara-Nya sendiri akan memulihkan segalanya kepada Bapa oleh Putra.[21] Bapa dan Putra tetap dalam keadaan atau kondisinya masing-masing. Bapa mengakui Anak dan Anak mengakui Bapa. Putra dan Roh Kudus tetap sebagai pelaku kegiatan Ilahi.[22] Karena pelaku kegiatan Ilahi, mereka harus berpribadi dan bertindak dangan ciri-ciri personal.

2. Keberadaan Putra dalam Trinitas

2.1 Putra Berasal dari Bapa

Bapa dan Putra merupakan dua pribadi berbeda, tetapi tetap sebagai satu kesatuan dengan kedudukan yang sama sebagai Allah. Penyebutan nama Bapa tidak dapat dipisahkan dari nama-nama pribadi lain yang saling menopang dalam struktur internal- Nya. Keberadaan pribadi lain (sang Putra) secara lahiriah dapat diketahui melalui Kitab Kejadian sebagai langkah awal untuk memahami identitas-Nya. Dalam Kitab Kejadian digambarkan bahwa “pada mulanya Allah menjadikan bagi diri-Nya seorang Putra” dan Tertulianus melihat ayat ini sering dipakai oleh umat beriman awal untuk menunjukkan identitas Putra pada awal mula.[23] Melalui Kitab ini, identitas Putra secara jelas dihubungkan dengan Bapa sebagai awal mula kehadiran Putra. Putra menjadi pribadi yang dijadikan oleh Bapa melalui suatu proses ilahi (Divine procceded).[24] Proses ilahi merupakan cara Allah dari kekal untuk menyingkapkan kepada manusia keallahan yang imanen dan keallahan yang hadir dalam realitas hidup manusia (ekonomi).

Tertulianus membahas identitas Putra dengan menekankan pada pengaturan Allah dalam diri-Nya sendiri (God’s arrangement itself), yaitu Dia menjadikan Putra sebelum dunia dijadikan (bdk. Yohanes 17:23-26).[25] Pada mulanya, Allah hidup sendirian (Dia ada pada diri-Nya sendiri) dalam alam semesta tanpa sesuatu pun yang terbentuk dan berwujud kecuali diri-Nya. Tidak ada sesuatu pun yang ada di luar Allah selain Allah sendiri. Tetapi pada saat yang sama, Dia sebenarnya tidak sendirian sebab Dia sudah memiliki pikiran atau rasio dalam diri-Nya (His reason). Tuhan adalah pribadi yang rasional, maka rasio adalah hal pertama pada diri-Nya yang menjadi asal segala sesuatu. Pikiran atau rasio yang adalah pikiran Allah sendiri yang kemudian dalam bahasa Yunani diterjemahkan sebagai “Logos” berarti “firman”, “perkataan” (speech). Sebelum menjadi Firman, Putra adalah rasio milik Allah yang sudah ada bersama Allah sebelum segala sesuatu diciptakan.

Dalam hal ini, Pikiran (reason) ditempatkan sebagai yang lebih awal (as the older) karena pikiran itu ada bersama-sama dengan Allah.  Allah sebagai pribadi yang rasional mengawalinya dengan rasio yang ada dalam Diri-Nya. Tertulianus tidak menekankan kata “Firman”, namun lebih menekankan rasio.[26] Tertulianus mengatakan demikian karena Firman tergantung dari rasio atau pikiran sebagai dasar. Artinya bahwa walaupun Allah tidak berfirman, Allah tetap memiliki pikiran atau rasio dalam diri-Nya sendiri. Melalui rasio, Dia memikirkan (silently meditating) dan mengatur (arranging) pada diri-Nya hal apa yang Ia sampaikan dalam kata-kata atau Firman.[27] Pada permenungan dan persekutuan-Nya, Allah bersekutu dengan rasio yang sudah ada sehingga Allah dan Rasio membuka pemahaman bahwa kisah penciptaan alam semesta bukan hanya Allah sendiri, tetapi beserta dengan Rasio-Nya.[28]

Untuk memahami hal tersebut, Tertulianus  menggunakan analogi pikiran manusia.[29] Ketika manusia berpikir, manusia bertemu hanya dengan dirinya sendiri (ia sendirian). Tetapi dalam proses berpikir, ia menggunakan kata-kata untuk mengungkapkan maksud dari pikiran tersebut. Dalam hal ini manusia sudah menggunakan rasionya. Ketika manusia mengungkapkan apa yang ada dalam pikirannya, ia menggunakan kata-kata. Apa pun yang dipikirkan, mutlak ada suatu yang terlintas yaitu “kata”. Dalam hal ini manusia berbicara dalam dan dengan pikirannya. Pikiran itu menjadi lawan bicara manusia dalam berpikir. Jadi, melalui pikiran itu, manusia ditemani oleh kata. Dalam arti tertentu, kata itu menjadi yang kedua di dalam diri manusia, yang melaluinya manusia mengucapkan pokok pikiran. Kata merupakan hal yang berbeda dari diri manusia. Oleh karena itu, berhubungan dengan kisah awal mula Allah tidak sendirian, namun Dia memiliki rasio yang melekat dalam diri-Nya yang menemani Dia dalam penciptaan. Allah menjadikan yang kedua dalam diri-Nya Firman itu.

2.2 Firman Tuhan adalah Kebijaksanaan-Nya

Rasio ditempatkan oleh Tertulianus sebagai yang pertama dalam Allah sebelum menyebut Firman. Firman adalah Rasio Allah. Oleh karena itu, Tertulianus menggunakan kata “Kebijaksaaan” (sofia, wisdom: Hikmat) untuk menyebut Firman Allah.[30] Firman adalah Kebijaksanaan-Nya yang berasal dari-Nya sejak kekal sebelum semesta dijadikan. Allah mengakui Kebijaksanaan-Nya menjadi penyebab segala sesuatu seperti yang direncanakan. Menurut Tertulianus, kata Kebijaksanaan Tuhan lebih tepat dari kata “Firman Tuhan” karena Tertulianus melihat Firman sebagai Rasio identik dengan Kebijaksanaan.[31] Kebijaksanaan tersebut sebagai pribadi kedua ditunjukkan dalam Kitab Suci (bdk. Ams. 8:22-25). Dalam Kitab Amsal, ditegaskan Allah menciptakan dan menjadikan Putra (teks menyebut ‘Aku’) dalam kebijaksanaan-Nya (His understanding).[32] Dalam Kitab Amsal, Hikmat mulai ditampilkan sebagai pribadi.[33]

Kebijaksanaan Allah adalah kecerdasan Ilahi yang lahir dari rencana Ilahi.[34] Kecerdasan Ilahi melampaui segala pemahaman dan logika manusia terutama memahami kelahiran Kebijaksanaan itu. Kebijaksanaan Allah adalah Kebijaksanaan-Nya sendiri. Allah pada diri-Nya merencanakan semua yang hendak dilakukan dalam kebersamaan dengan Kebijaksanaan. Kecerdasan yang dimaksud adalah Allah sudah ditemani oleh pikiran dan Kebijaksanaan dalam diri-Nya sebelum segala sesuatu terbentuk. Kebijaksanaan adalah yang dahulu dan menjadi milik-Nya, tidak dapat dipisahkan dari-Nya sebab hanya melalui Kebijaksanaan segala sesuatu diciptakan. Kebijaksanaan dilihat sebagai pancaran murni kemuliaan Yang Mahakuasa, pantulan cahaya kekal, dan gambaran kebaikan-Nya.

Akar kata “hikmat” sudah sering ditampilkan dalam Kitab Suci Perjanjian Lama.[35] Sebanyak 318 kali diucapkan yang sebagian besar ada dalam Kitab Kebijaksanaan. Karya keselamatan menyangkut Hikmat yang dipribadikan yang dikaitkan dengan kegiatan Ilahi seperti penciptaan, penyelenggaraan, dan penyelamatan. Dalam konteks Monoteisme, Hikmat dilihat sebagai sifat dan fungsi Ilahi. Hikmat digambarkan mendirikan rumah-Nya dan mengundang orang-orang sederhana untuk mengambil bagian dalam perjamuan pesta yang melambangkan ajaran serta keutamaan yang berasal dari Allah.[36]

Hubungan antara Hikmat dengan Allah diungkapkan dengan cara yang “diperanakkan” (bdk. Ams. 8:22). Hubungan ini ibarat suatu radiasi atau emanasi dari Allah sehingga disebut sebagai cerminan, gambaran, atau bayangan Allah.[37] Dengan bahasa yang istimewa, Kebijaksanaan digambarkan dalam peranan menciptakan dan memelihara. Ia juga yang mempertahankan dan mengarahkan dunia ciptaan. Singkatnya, Hikmat tak hanya hidup bersama Allah tetapi juga terus terlibat dalam seluruh karya Allah.

2.3 Keberadaan Putra Nyata dalam Firman

Firman yang keluar dari mulut Allah bukan suatu kekosongan atau kehampaan. Firman yang ia sampaikan sungguh nyata melalui Firman itu sendiri. Dalam arti, Firman itu mengambil bentuknya dalam rupa dan model (appearance and vesture) suara dan ekspresi (sound and expression).[38] Firman yang keluar dari mulut Allah adalah pribadi lain yang memberikan bentuk pada ciptaan. Bagi Tertulianus, Kitab Kej. 1 memberikan pemahaman bahwa Firman lahir pada saat Allah berfirman dan firman itu benar-benar keluar dari Allah sendiri.[39] Firman yang keluar adalah yang pertama kali diciptakan (created) oleh-Nya sesuai rasio-Nya. Allah memperanakkan Dia supaya menjadi aktual atau nyata (begotten to actuality). Dia diperanakkan sebagai yang pertama (first begotten) secara nyata dari Allah dari kedalaman rahim (womb) pikiran Allah.

Keberadaan Putra dalam kisah penciptaan sudah jelas ada dan lahir melalui Firman Allah. Hal ini bukan berarti Putra sebelumnya tidak ada, tetapi melalui proses ilahi Firman tetap berasal dari rasio Ilahi yang kekal. Kisah penciptaan mulai menampilkan figur dalam Allah. Bapa telah memberikan pikiran-Nya yang baik serta hikmat kebijaksanaan-Nya. Putra sebagai pribadi yang berasal dari pribadi Bapa dijadikan untuk karya penciptaan. Hal ini hendak mengatakan bahwa segala sesuatu dijadikan melalui Putra dan tanpa Dia tidak ada suatu pun yang telah jadi dari segala yang telah dijadikan.[40] Sabda dan kebijaksanaan Allah dijadikan sebagai permulaan dalam seluruh karya Allah.

Firman sebagai asal segala sesuatu merupakan suatu substansi yang dibangun dari Roh, kebijaksanaan, dan Rasio yang menjadi Putra Allah.[41] Dia bersubstansi dan menjadi seorang pribadi kedua dari Allah untuk menjadi dua individu yaitu Bapa dan Putra. Kelahiran Putra tidak menjadikan Ia memiliki substansi tersendiri sehingga menjadi dua Allah, tetapi substansinya tetap bagian dari Bapa. Firman adalah Dia yang ditunjuk Allah.  Allah tentu bertubuh supaya bisa menciptakan hal materi. Setiap pribadi memiliki tubuh dalam bentuknya sendiri.[42] Namun apapun bentuknya, ketiga pribadi memiliki substansi dan bentuknya di dalam Allah tanpa terlepas dari substansi-Nya.

2.4 Bapa dan Putra Berbeda, Tetapi Tidak Terpisah

Putra sebagai satu-satunya yang diperanakkan oleh Bapa merupakan entitas yang tidak bisa dipisahkan satu sama lain. Secara pribadi, Bapa dan Putra memiliki sifat-sifat pribadi sendiri yang membedakannya dengan yang lain. Bapa adalah sumber segala sesuatu dan tidak diperanakkan  sedangkan Putra adalah satu-satunya yang diperanakkan dari Bapa. Putra yang diturunkan dari Bapa memiliki kesamaan dalam hal substansi (bukan dua substansi). Maka, Tertulianus berseberangan dengan istilah probole (prosesi), yaitu konsep proyeksi suatu hal dari yang lain sebagaimana yang dilakukan oleh Valentinus.[43] Valentinus membedakan dan memisahkan Putra dari pencipta dengan menempatkannya jauh dari pencipta. Ia tidak dapat mengenal atau menjangkau Bapa sehingga pada akhirnya Ia (aeon) jatuh dan pecah menjadi materi.[44] Putra ditempatkan oleh Valentinus begitu jauh dari Bapa karena Bapa itu suci dan tidak mengenal materi yang jahat.

Bagi Tertulianus, konsep emanasi Valentinus tidak bisa diterapkan pada Putra sebab Putra tidak dipisahkan dari Bapa.[45] Kalau merujuk pada Kitab Suci, justru hanya Putra sendiri yang mengenal Bapa. Putra mewartakan apa yang diperintahkan dan melaksanakan semua sesuai kehendak Bapa. Tindakan yang dilakukan oleh Putra merupakan cerminan tindakan Allah. Tidak ada tindakan yang dilakukan oleh Putra atas dasar kehendak pribadi semata, tetapi semua atas kehendak Allah.[46] Keberbedaan dan ketakterpisahan antara Bapa dan Putra merupakan bentuk yang paling khas dan paling nyata sebagai Allah yang tetap satu. Walaupun Putra datang ke dunia, Ia tidak memutuskan hubungan ilahi yang sudah terberikan sejak kekal dari Bapa-Nya. Sebaliknya, Putra tetap menjaga hubungan keilahian itu dengan selalu memberikan kesaksian tentang Ia dan Bapa yang telah mengutus-Nya. Kesaksian Putra akan Bapa menandakan suatu pemahaman yang menyeluruh Putra terhadap Bapa.

Pemahaman akan Bapa secara logis disebabkan karena Putra adalah proyeksi (yang keluar) dari Bapa, tanpa dipisahkan dari-Nya. Untuk  menyatakan hal ini Tertulianus menggunakan analogi Pohon, air sungai, dan sinar matahari.[47] Tertulianus menyebut pohon itu sebagai Putra (keturunan dari akarnya), sungai sebagai Putra (sungai mengalir dari mata air), dan sinar sebagai Putra (matahari sebagai sumber sinar). Dengan analogi ini, Tertulianus menegaskan bahwa setiap sumber asli (sumber pertama) adalah induknya, dan semua yang berasal dari sumber pertama adalah keturunan. Pohon itu tidak terputus dari akarnya, atau sungai dari sumber air, atau sinar dari matahari. Dengan demikian Putra sebagai Firman dan Bapa sebagaimana analogi yang digambarkan oleh Tertulianus berhubungan dan tidak terpisah dari hakikat-Nya.

Melalui ketiga analogi tersebut di atas, Tertulianus ingin menggambarkan Allah dan Firman-Nya, Bapa dan Putra-Nya, sebagai dua.[48] Untuk akar dan pohon adalah dua hal, tetapi secara korelatif bergabung; mata air dan sungai juga dua bentuk, tetapi tak terpisahkan; demikian juga matahari dan sinar adalah dua bentuk tetapi tetap saling berhubungan. Segala sesuatu yang berasal dari sesuatu yang lain harus menjadi yang kedua dari yang ia hasilkan, tanpa dipisahkan.[49] Jika ada yang kedua (pasti ada dua), dan jika ada yang ketiga (pasti ada tiga). Hal ini hendak mengatakan tentang Roh Kudus. Roh memang ketiga dari Bapa dan Putra; sama seperti buah pohon adalah ketiga dari akar, atau sebagai aliran keluar dari sungai adalah ketiga dari air mancur, atau sebagai puncak sinar adalah ketiga dari matahari.[50] Sifat-sifat Bapa turun mengalir melalui Putra hingga Roh Kudus. Ketiganya tidak merasa asing antara satu dengan yang lain karena mereka adalah satu dalam pengaturan atau ekonomi mereka sendiri.

Bagi Tertulianus, Bapa dan Putra sudah merupakan dua pribadi yang menyatu tetapi sekaligus terpisah.[51] Mereka terpisah bukan karena nama, tetapi karena faktanya yaitu, Bapa yang menyerahkan kerajaan dan anak yang menerimanya, demikian juga Ia yang memberikan kekuasaan dengan yang menerimanya. Oleh karena itu, keduanya harus merupakan dua keberadaan yang berbeda. Sebagai penegasan, Tertulianus mengutip ayat-ayat Kitab Suci dalam Yesaya 42:1, “Lihat itu hamba-Ku yang Kupegang,…”. Kutipan-kutipan Yesaya ini mau menunjukkan keteraturan perbedaan pribadi dalam Trinitas. Dengan konsep ini, Tritunggal tidak sama dengan satu pribadi dengan tiga modus, seperti yang disodorkan oleh Monarkianisme.

3 Trinitas: Kepercayaan yang Satu pada Tiga Pribadi Berbeda

3.1 Tiga Pribadi Berbeda, Tetap Satu Allah

Dengan melihat semakin banyaknya aliran sesat, Tertulianus merasa perlu menegaskan iman kepercayaan yang benar mengenai Allah. Ia mengatakan dengan tegas bahwa Bapa, Putra, dan Roh tidak dapat dipisahkan satu sama lain.[52]  Bapa adalah (is) satu, yang lain adalah Putra (is), dan yang lain lagi adalah Roh. Mereka sungguh berbeda satu sama lain. Namun, pernyataan ini sering diartikan secara salah oleh setiap orang yang tidak terdidik (bidah) sebab melihat keragaman bukan sebagai kesatuan, tetapi sebagai pemisahan antara Bapa, dan Anak, dan Roh. Ketika menyatakan bahwa ketiga-Nya adalah sama (Monarkianisme), maka hal itu mengorbankan ekonomi Allah pada diri-Nya. Kesesatan Monarkianisme merusak tatanan keharmonisan dalam Allah yang sudah terjalin. Allah bagi kaum Monarkian dilihat sebagai keesaan yang mutlak tanpa mempertimbangkan ciri-ciri entitas yang sudah melekat dalam Allah.

Dalam kaitan dengan struktur internal Ilahi, Bapa adalah keseluruhan substansi, sedangkan Putra adalah derivasi dan bagian dari keseluruhan.[53] Hal ini terdapat dalam Kitab Suci yang menggambarkan Bapa lebih besar daripada Putra sehingga derajat Putra lebih rendah dari Bapa.[54] Jadi, Bapa adalah pribadi lain yang berbeda dari Anak; Bapa lebih besar daripada Anak; Bapa yang melahirkan adalah satu, dan Dia yang diperanakkan adalah yang lain; Bapa yang mengutus adalah satu, dan Dia yang diutus adalah yang lain. Bapa disebut sebagai Pribadi lain sebab ada pribadi lain selain Dia yang setara dengan Bapa. Selain Bapa dan Putra, terdapat Roh penghibur yang dijanjikan oleh Putra setelah kepergian-Nya (lih. Yoh. 14:16). Roh menjadi pribadi yang lain dari kedua-Nya. Namun mereka tetap dalam pengaturan pada diri-Nya. Roh yang dijanjikan itu menjadi yang ketiga, sebagaimana Putra menjadi yang kedua dalam Tritunggal (ekonomi-Nya).[55]

3.2 Bapa dan Putra: Pembeda Antara Kedua-Nya

Faktor pembeda antara Bapa dan Putra dilukiskan oleh Tertulianus melalui penyebutan nama “Bapa” dan “Putra”.[56] Bapa dan Putra merupakan dua hal yang saling memberikan pengaruh satu sama lain. Eksistensi Bapa sangat dipengaruhi oleh keberadaan Putra, demikian pun sebaliknya eksistensi Putra sangat dipengaruhi oleh eksistensi Bapa. Bapa tidak sesungguhnya menjadi Bapa tanpa Putra. Dengan kata lain, sesuatu harus memiliki sesuatu yang lain agar sesuatu itu menjadi sesuatu yang lain. Dalam hal ini Bapa harus memiliki anak agar Ia dapat disebut sebagai Bapa. Tanpa memiliki Putra, Bapa tidak dapat dikatakan sebagai Bapa. Identitas kebapaan menjadi jelas ketika ia memiliki sesuatu dalam diri-Nya yaitu Putra-Nya. Kehadiran Putra memberikan predikat Bapa kepada-Nya.

Konsep kepemilikan ini harus dipahami supaya tidak menjadi sesat seperti yang dikatakan oleh bidah Monarkianisme yang menjadikan Bapa, Putra, dan Roh Kudus merupakan penyebutan bagi satu pribadi.[57] Bapa tidak mungkin bisa sekaligus sebagai Putra karena tetap harus dua hal berbeda agar keduanya dapat saling melengkapi. Putra juga tidak bisa sekaligus menjadi Bapa karena dua keberadaan itu tidak akan bisa dimengerti dalam konteks tugas mereka. Bapa melahirkan Putra-Nya, sehingga Ia sungguh secara sempurna sebagai Bapa yang memelihara dan menuntun, dan juga Putra sungguh sebagai Putra karena dijadikan oleh Bapa sebelum segala sesuatu dijadikan. Putra adalah Pribadi kesayangan Bapa yang diutus untuk manusia dalam kerangka keselamatan. Putra dijadikan oleh Bapa dengan segala kelimpahan kuasa yang diterima-Nya.

Hubungan Bapa-Putra inilah yang memperjelas jawaban dari pertanyaan; Siapakah Bapa? dan Siapakah Putra? Bapa hanya dapat mengambil salah satu dari hubungan tersebut dalam waktu yang sama. Tidak mungkin Bapa sekaligus Putra. Jika Bapa dan Putra dijadikan sekaligus, maka hubungan itu akan menjadi tidak jelas, siapa yang mengasihi, siapa yang dikasihi, dll. Apalagi jika Bapa adalah keduanya, Bapa akan gagal menjadi yang lain sebab semuanya (Bapa-Putra) ada pada-Nya. Karena itu Bapa belum tentu disebut Bapa jika tidak memiliki Anak atau sebaliknya. Keberadaan yang berbeda tidak dapat dirangkap oleh satu orang saja, melainkan dibutuhkan seseorang yang lain, lain darinya. Keberadaan yang berbeda dari keallahan akan efektif dalam menjalin relasi dengan ciptaan.

Identitas Bapa dan Putra telah dinyatakan secara jelas dalam Kitab Suci. Bapa yang menjadikan Firman-Nya sebagai Anak bagi Diri-Nya.[58] Dengan hal ini, Bapa menyebutkan Anak-Nya sebagai Dia yang telah melanjutkan dari Bapa sendiri. Firman itu telah menjadi manusia dan bukan lagi menjadi diri-Nya pada diri-Nya sendiri. Putra sangat tergantung pada Bapa karena Putra tidak dapat berproses dari diri-Nya sendiri.  Dia yang telah mengutus dari diri-Nya  seorang Putra telah keluar dari diri-Nya. Firman yang keluar dari Allah tidak kekurangan apapun dalam diri-Nya karena tetap satu kesatuan substansi dengan Bapa. Tertulianus meyakini bahwa Allah bertindak menurut pengaturan-Nya sendiri dan Dia tidak mengatur apa pun dengan cara apa pun selain menurut pernyataan-Nya sendiri.[59]

3.3 Pluralitas dalam Trinitas

Kejamakan dalam kesatuan adalah suatu hal yang sulit diterima. Selain itu, sukar dipahami juga konsep Tritunggal dengan ketiga pribadi tanpa pertentangan di dalamnya. Dalam hal ini, Tritunggal susah dicerna oleh logika manusia yang terbatas. Pertanyaannya: Bagaimana mungkin kesatuan ini terjadi?. Bagi Tertulianus Allah sudah sedemikian seperti itu.[60] Allah memiliki segalanya dalam pengaturan pada diri-Nya. Ketiga pribadi turut serta dalam penciptaan segala sesuatu tanpa saling bersaing. Mereka selalu kompak dalam segalanya termasuk tugas penciptaan. Kitab Suci yang telah membenarkan hal demikian, tentang ketigaan yang menciptakan segala-Nya.

Dalam hal kekompakakan ini, Tertulianus mengacu pada teks Kejadian (Kej. 1:26, 3:22). Kata “Kita” dalam teks Kejadian mengindikasikan kejamakan. Allah tidak mungkin menggunakan kata “Kita” jika Ia hanya satu. Dengan demikian, kata “Kita” menjadi acuan yang jelas untuk memahami bagaimana Tritunggal hadir dalam kisah penciptaan. Putra yang bersatu dengan Bapa dalam penciptaan segala sesuatu tidak berseberangan dengan kesatuan Allah.[61] Kata “Kita” menyiratkan pertanyaan dengan siapa Dia menciptakan manusia. Kata “Kita” menunjukkan Putra di satu sisi yang suatu hari mengenakan sifat manusia; dan Roh di sisi lain, yang menguduskan manusia. Dengan ini, Bapa bersabda dalam kesatuan Tritunggal seperti para pelayan dan saksi-Nya.

Dalam kesatuan Tritunggal, ketiga Pribadi saling berkomunikasi. Komunikasi ini juga membuktikan kejamakan. Allah menjadikan manusia menurut “gambar dan rupa” Allah (Kej. 1:26). Penggunaan kata “Kita” dalam sabda tersebut hendak menunjukkan bahwa manusia diciptakan menurut salah satu gambar atau rupa dari keallahan yaitu rupa Kristus. Sabda itu telah menyebabkan ciptaan-Nya (manusia) disebut sebagai gambar-Nya yang terbentuk dari tanah liat. Dengan demikian, manusia adalah kemiripan yang sempurna dari Allah.

Mereka yang mencipta adalah berbeda satu sama lain. Mereka berbeda atas dasar kepribadian, bukan dari Zat (substansi), dalam cara perbedaan, bukan pembagian. Tetapi meskipun memegang satu-satunya substansi dalam tiga hal yang berbeda, ketiganya tidak dapat dipisahkan antara satu pribadi dengan pribadi lainnya (Persons).[62] Bapa yang mengeluarkan Sabda berbeda dari Putra sebagai yang mengeksekusinya. Logikanya, Bapa tidak akan mengeluarkan Sabda jika Ia sedang melakukan pekerjaan itu sendirian. Tetapi kenyataan yang benar adalah Bapa mengeluarkan perintah tentu mengandaikan ada yang lain. Allah tidak akan bermaksud untuk memerintahkan diri-Nya sendiri jika Ia hanya satu; Ia pasti bekerja tanpa perintah apa pun, karena Ia tidak akan menunggu untuk memerintah diri-Nya.[63]

3.4 Putra (juga) adalah Allah

Kalau membaca sepintas Kitab Kejadian (kisah penciptaan), mungkin orang jatuh pada paham bahwa terdapat dua Allah; yang satu Allah yang bersabda dan yang lain menciptakan.[64] Allah yang bersabda memberikan perintah mengenai hal yang harus dilakukan, dan Allah yang lain mengeksekusi perintah. Tetapi menurut Tertulianus pemahaman seperti ini merupakan kekeliruan yang besar sebab memberikan gambaran Tuhan yang bertentangan dengan Kitab Suci.[65] Allah yang bersabda selalu satu dengan Firman yang diucapkan. Keduanya adalah Allah, Allah Bapa dan Firman Allah. Hal ini diperkuat dengan tulisan Kitab suci yang menegaskan predikat Allah bagi keduanya (bdk. Mzm. 45:7-8, Yes. 45:14-15 ).

Putra yang ada di dalam Bapa sejak awal mula harus dilihat dalam konteks Allah pada diri-Nya. Artinya bahwa sudah sejak awal Putra ditentukan untuk menjadi bagian dari Bapa yang memiliki rencana khusus untuk keselamatan manusia. Firman itu sungguh Allah karena sudah ada dan bersama Allah (bdk. Yoh. 1:1). Di sini keberadaan yang lain (Putra) ada dalam yang satu (Bapa)  sehingga bukan dua Allah. Namun dalam keallahan mereka berpribadi (dua) yaitu Bapa memberikan kekuasaan dan pada Putra kekuasaan diberikan.

Dengan demikian, anggapan lebih dari satu Allah tidak sesuai dengan sabda Kitab Suci. Bagi Tertulianus, keberadaan Tuhan Allah tidak demikian. Ekonomi ilahi yang memperkenalkan ketigaan menjadi dasar pijak untuk tidak jatuh pada bidah seperti Monarkianisme. Bagi Tertulianus, iman akan Allah Tritunggal tidak terlepas dari Ekonomi Allah sendiri (membutuhkan ekonomi).[66] Allah dalam diri-Nya memiliki tiga pribadi yang satu. Bapa, Putra, dan Roh Kudus benar-benar Allah yang esa. Putra hadir ke dunia tanpa melepaskan substansi dengan dua pribadi yang lain. Dia adalah manifestasi sempurna dari Allah. Dengan melihat ketigaan sebagai Allah, maka Tertulianus menyebutnya Allah Bapa, Allah Putra, dan Allah Roh Kudus (bdk. Rom. 1:1-7). Ini bukan Politeisme.

3.5 Roh Kudus sebagai Pribadi Ketiga  

Ketika mencoba mendalami eksistensi pribadi ketiga, Tertulianus berupaya menganalisis teks yang dikatakan Injil Yohanes 14:16.[67] Dalam teks tersebut, dikisahkan mengenai janji Yesus untuk meminta kepada Bapa mengirimkan ke bumi Penghibur lain (Paracletus) setelah kenaikan-Nya ke surga. Secara literer, Tertulianus melihat Roh tersebut sebagai entitas “lain” yang berbeda dari Bapa dan Putra.[68] Penyebutan Yesus tentang Roh Kudus menampilkan dengan jelas kejamakan Allah. Roh Kudus menjadi yang ketiga dalam Tritunggal dan berperan mewartakan semua hal yang telah diwartakan Putra sebagaimana yang Putra terima dari Bapa (bdk. Yoh. 16:14).

Teks Yohanes tersebut secara tersirat menggambarkan kesatuan hubungan antara ketiga entitas ilahi. Bagi Tertulianus, teks Yohanes melukiskan keterjalinan hubungan Bapa dalam Putra dan Putra dalam Paraclete yang menghasilkan tiga pribadi yang berbeda dari satu sama lain.[69] Melalui Injil Yohanes (bdk. Yoh. 16:1-15), ketiga entitas tersebut adalah satu; bukan satu pribadi. Kesatuan mereka jelas dalam kesatuan substansi. Putra dipilih Bapa dan diurapi oleh Roh Kudus sebagai pribadi yang akan turun ke dunia menjadi Putra Allah. Kehadiran Putra ke tengah dunia dalam ukuran waktu yang memang memiliki batas karena ada saatnya Putra akan kembali kepada Bapa.

Tertulianus menuliskan bahwa hakekat dari Roh Kudus adalah (a Patre per Filium) keluar dari Bapa melalui Putra.[70] Roh dilihat sebagai pribadi yang datang dari Allah dan Putra (a Deo et Filio). Roh Kudus dilihat sebagai cinta ilahi yang keluar dan berasal dari Bapa dan Putera. Roh merupakan komunikasi hikmat Allah, yang mengerjakan keselamatan yang berasal dari Bapa dan Putera. Keberadaan Roh bukanlah keberadaan yang substansif, di mana Roh memiliki substansi sendiri secara terpisah dari Bapa dan Putra, melainkan ketiga pribadi Allah Bapa, Putra dan Allah Roh Kudus tidak bisa dipisahkan satu dari yang lain. Mereka tetap memiliki tiga pribadi tetapi satu hakikat, satu Allah. Di bawah pengaruh spekulasi Logos, Tertulianus adalah orang pertama yang memahami Roh sebagai prolation dari Putra karena Putra adalah dari Bapa, dan oleh karena itu Roh juga tunduk kepada Putra.[71] Tertulianus mempertahankan konsep Bapa sebagai sumber utama dan Roh sebagai tingkat ketiga dalam keallahan. Bapa sebagai pribadi yang menjadi asal dari Putra dan Bapa juga sebagai asal dari Roh melalui Putra. Semua entitas lain mengalir dari Bapa melalui tingkat hubungan yang langsung, Bapa-Putra-Roh Kudus.

Dari uraian di atas, dapat dirangkum bahwa misteri Allah Trinitas melampaui segala logika manusia. Kemampuan manusia tidak dapat memahami suatu realitas yang kekal seperti Allah. Allah Tritunggal adalah Allah yang unik pada diri-Nya sendiri. Ia mampu berada dalam sistem-Nya sendiri tanpa merusak keesaan-Nya. Ketiga Pribadi Allah merupakan satu kesatuan yang utuh yang tidak bisa dilepaspisahkan satu sama lain. Mereka memiliki cara berada mereka sendiri dalam berinteraksi, berelasi, dan berkomunikasi. Ketiga pribadi sudah ada sejak kekal bahkan sebelum segala sesuatu ada.

[1] Bdk. seperti yang dipahami oleh Alexander Souter, Tertullian Against Praxeas, diedit oleh W. J. Sparrow Simpson dan W. K. Lowther Clarke (London: Richard Clay & Sons, 1920), hlm. 25-28.

[2] Philip Schaff, “Against Praxeas”, hlm. 1074.  Kaum Monarkian berpegang pada sabda Tuhan Perjanjian Lama;  “Aku adalah Tuhan, dan  tidak ada yang lain… ” (Yes. 45: 5). Dalam Perjanjian Baru, mereka berpegang pada percakapan Yesus dan Filipus; “Aku dan Bapa adalah satu” (Yoh.10:30) dan; “Barang siapa telah melihat Aku, ia melihat Bapa…” (Yoh. 14: 9-10). Lih. Alexander Souter, Tertullian Against Praxeas, hlm. 80.

[3] Sebagaimana yang dipahami oleh Alexander Souter, Tertullian Against Praxeas, hlm. 25.

[4] Pada masa itu, pengaruh Montanisme sudah terasa di Roma, sehingga Tertulianus menyebutkan bahwa Praxeas melakukan pelayanan ganda di Roma yaitu mengusir “Nubuat Baru” (Montanus) dan menyalibkan Bapa. Bdk. sebagaimana yang dipahami Alexander Souter, Tertullian Against Praxeas, hlm. 27.

[5] Sebagaimana yang dipahami oleh Alexander Souter, Tertullian Against Praxeas, hlm. 25.

[6] Doktrin Trinitas dan kesatuan-Nya kadang-kadang disebut Ekonomi Ilahi (divine economy) atau pembagian (dispensation) dalam relasi personal ketuhanan (Godhead). Bdk. Alexander Souter, Tertullian Against Praxeas, hlm. 28.

[7] Marian Hillar, From Logos to Trinity, hlm. 215.

[8] Sebagaimana yang dipahami oleh Alexander Souter, Tertullian Against Praxeas, hlm. 28.

[9] Bernhard Lohse, Pengantar Sejarah Dogma Kristen, hlm. 56.

[10] “This economy arranges unity in Trinity, regulating three, Father, Son and Spirit three, however, not in unchangeable condition, but in rank; not in substance, but in attitude; not in office, but in appearance”. Lih. seperti yang diterjemahkan oleh Alexander Souter, Tertullian Against Praxeas, hlm. 30.

[11] Untuk memahami ekonomi Ilahi, Tertulianus menyejajarkan dengan hukum Romawi. Hukum Romawi mengakui beberapa imperator, tetapi hanya satu imperium yaitu Negara. Negara diperintah dalam satu kekuatan yang tidak terbagi untuk seluruh wilayah kekuasaan. Namun satu kekuatan ini tidak dapat dilaksanakan oleh seorang individu dalam lingkungan yang luas, maka dipercayakan kepada masing-masing wilayah dengan imperatornya masing-masing. Pembagian wilayah bukan berarti pembagian kekuatan, tetapi tetap satu kekaisaran. Demikian pula melalui contoh ini, monarki Ilahi tidak terganggu dengan kehadiran pribadi lain (imperator-imperator). Lih. Yohannes Quasten, Patrology: The Ante-Nicene Literature After Irenaeus, hlm. 285.

[12] Seperti yang dipahami oleh Alexander Souter, Tertullian Against Praxeas, hlm. 32.

[13] Seperti yang dipahami oleh Alexander Souter, Tertullian Against Praxeas, hlm. 32. Ketika monarki Ilahi dipahami dikuasai oleh para Malaikat, akan tercipta banyak monarki yang saling berebut kuasa. Maka tidak bisa dikatakan sebagai pemerintahan yang satu sebab dikelola oleh ribuan kekuatan. Bdk. juga dengan Dan. 7:2, Mat. 26:53

[14] Seperti yang dipahami oleh Alexander Souter, Tertullian Against Praxeas, hlm. 32.

[15] Seperti yang dipahami oleh Yohannes Quasten, Patrology: The Ante-Nicene Literature After Irenaeus, hlm. 326.

[16] Seperti yang dipahami oleh Eric Osborn, Tertullian, First Theologian of the West, hlm. 124.

[17] Alexander Souter, Tertullian Against Praxeas, hlm. 34.

[18] Philip Schaff, “Against Praxeas”, hlm. 1085-1086.

[19] Alexander Souter, Tertullian Against Praxeas, hlm. 34.

[20] Alexander Souter, Tertullian Against Praxeas, hlm. 34.

[21] Philip Schaff, “Against Praxeas”, hlm. 1043-1044.

[22] Dalam O’Collins (The Tripersona of God) seperti yang dikutib oleh Adrianus Sunarko, Allah Tritunggal Adalah Kasih, hlm. 42.

[23] Dalam Kitab Kejadian Yahudi 1:1; “In the beginning God made for Himself a Son”. Lih. Alexander Souter, Tertullian Against Praxeas, hlm. 35-36.

[24] Philip Schaff, “Against Praxeas”, hlm. 1047.

[25] Sebagaimana yang dipahami oleh Alexander Souter, Tertullian Against Praxeas, hlm. 36. Philips Scaff juga memahami Tertulianus dengan mengatakan dispensasi (bukan pengaturan) pada Allah sendiri (dispensation/dispositio) yang berarti mutual relations in the Godhead. Bdk. Philip Schaff, “Against Praxeas”, hlm. 1047.

[26] Sebagaimana yang dipahami oleh Alexander Souter, Tertullian Against Praxeas, hlm. 36.

[27] Alexander Souter, Tertullian Against Praxeas, hlm. 36-37.

[28] Alexander Souter melihat bahwa manusia yang diciptakan seturut gambar dan rupa Allah (bdk. Kej. 1:26) merupakan cerminan dari rasio Ilahi. Manusia memiliki rasio dalam dirinya menjadikannya makhluk rasional, bukan hanya diciptakan seperti manusia pada dirinya sendiri, namun seperti pencipta yang rasional. Bdk. Alexander Souter, Tertullian Against Praxeas, hlm. 36.

[29]Sebagaimana yang dimengerti oleh Alexander Souter, Tertullian Against Praxeas, hlm. 37.

[30] Sebagaimana yang dimengerti oleh Alexander Souter, Tertullian Against Praxeas, hlm. 38.

[31] Sebagaimana yang dimengerti oleh Alexander Souter, Tertullian Against Praxeas, hlm. 38-39.

[32] Alexander Souter, Tertullian Against Praxeas, hlm. 38.

[33] Bdk. Ams. 1:20-33, 3:13-24, 4:5-9. Bdk. juga  Adrianus Sunarko, Allah Tritunggal Adalah Kasih, hlm. 43.

[34] Philip Schaff, “Against Praxeas”, hlm. 1049.

[35] Adrianus Sunarko, Allah Tritunggal Adalah Kasih, hlm. 42.

[36] Bdk. Ams.1:20-33, 3:13-24, 4:5-9, 8:1-9:6.

[37] Adrianus Sunarko, Allah Tritunggal Adalah Kasih, hlm. 46.

[38] Bdk. Kej. 1.

[39] Sebagaimana yang dimengerti oleh Alexander Souter, Tertullian Against Praxeas, hlm. 39.

[40] Lih. Yoh. 1:3

[41] Tertulianus dipengaruhi oleh pandangan Stoa yang mengatakan bahwa tidak ada yang dapat dibuat dari ketiadaan. Maka yang tidak bertubuh tidak akan bisa menghasilkan sesuatu hal yang bertubuh. Bdk. Marian Hillar, From Logos to Trinity, hlm. 225.

[42] Marian Hillar, From Logos to Trinity, hlm. 225.

[43] Seperti yang dipahami oleh Alexander Souter, Tertullian Against Praxeas, hlm. 43. Gnostisisme memiliki gagasan tentang Allah yang jauh dari materi. Antara Allah dan manusia mempunyai pengantara. Cara kerja sistem ini adalah emanasi, semakin jauh dari prinsip utama, semakin tidak sempurna materi itu. Valentinus merupakan seorang Gnostik Kristen. Gnostik Kristen mengajarkan bahwa Kristus merupakan suatu aeon yang turun dalam manusia Yesus agar Ia dapat mengajarkan jalan keselamatan kepada manusia. Kristus datang untuk membebaskan unsur ilahi dari materi melalui karya dan pewartaan Yesus. Lih. F. D. Wellem, Kamus Sejarah Gereja (Jakarta: BPK. Gunung Mulia, 2000), hlm. 78-79. Bdk. juga dengan Eddy Kristiyanto, Selilit Sang Nabi: Bisik-bisik Aliran Sesat (Yogyakarta: Kanisius, 2007), hlm. 39.

[44] Seperti yang dipahami oleh Alexander Souter, Tertullian Against Praxeas, hlm. 43.

[45] Seperti yang dipahami oleh Alexander Souter, Tertullian Against Praxeas, hlm. 43. Bagi Tertulianus, pemisahan yang dilakukan oleh Valentinus akan berpotensi mengarah pada pembentukan makhluk ilahi yang terpisah. Tertulianus mengusulkan untuk menggunakan istilah proyeksi dalam arti yang berbeda, bukan sebagai entitas yang terpisah, tetapi sebagai hasil yang tetap bersatu/bersekutu dengan sumbernya. Bdk. Marian Hillar, From Logos to Trinity, hlm. 226.

[46] Lih. Mat. 11:27, Yoh. 8:26, 38.

[47] Seperti yang dipahami oleh Alexander Souter, Tertullian Against Praxeas, hlm. 44.

[48] Sebagaimana yang dimengerti oleh Alexander Souter, Tertullian Against Praxeas, hlm. 44-45.

[49] Sebagaimana yang dimengerti oleh Alexander Souter, Tertullian Against Praxeas, hlm. 45.

[50] “Where, however, there is a second, there are two, and where there is a third, there are three. The Spirit is third with respect to God and the Son, even as the fruit from the shrub is third from the root, and the channel from the river is third from the source, and the point where the ray strikes something is third from the sun”. Lih. Seperti yang diterjemahkan oleh Alexander Souter, Tertullian Against Praxeas, hlm. 45.

[51] Seperti yang dipahami oleh Alexander Souter, Tertullian Against Praxeas, hlm. 34-35

[52] Seperti yang dipahami oleh Alexander Souter, Tertullian Against Praxeas, hlm. 46.

[53] “Kita telah diajarkan bahwa Dia (Logos) hasil dari Allah, dan dalam prosesi bahwa ia dihasilkan; sehingga ia adalah Anak Allah, dan disebut Tuhan dari kesatuan zat atau substansi dengan Allah. Bahkan ketika sinar dipancarkan dari matahari, sinar itu masih bagian dari matahari (massa orang tua); matahari masih akan berada di sinar, sebagian dari keseluruhan (portio ex summa). Tidak ada pembagian substansi, tetapi hanya perpanjangan…”. Bdk. Marian Hillar, From Logos to Trinity, hlm. 211-212.

[54] Bdk. Yoh. 14:28, Mzm. 8:6.

[55] Alexander Souter, Tertullian Against Praxeas, hlm. 47.

[56] Sebagaimana yang dipahami oleh Alexander Souter, Tertullian Against Praxeas, hlm. 47.

[57] Sebagaimana yang dipahami oleh Alexander Souter, Tertullian Against Praxeas, hlm. 47.

[58] Alexander Souter, Tertullian Against Praxeas, hlm. 50.

[59] Sebagaimana Tertulianus yang dimengerti oleh Alexander Souter, Tertullian Against Praxeas, hlm. 51.

[60] Seperti yang dipahami oleh Alexander Souter, Tertullian Against Praxeas, hlm. 46.

[61] Philip Schaff, “Against Praxeas”, hlm. 1072.

[62] Sebagaimana Tertulianus dalam pemahaman Alexander Souter, Tertullian Against Praxeas, hlm. 56.

[63] Sebagaimana Tertulianus dalam pemahaman Alexander Souter, Tertullian Against Praxeas, hlm. 57.

[64] Alexander Souter, Tertullian Against Praxeas, hlm. 57.

[65] Seperti yang dimengerti oleh Alexander Souter, Tertullian Against Praxeas, hlm. 45.

[66] Eric Osborn, Tertullian, First Theologian of the West, hlm. 121.

[67] Marian Hillar, From Logos to Trinity, hlm. 236.

[68] Marian Hillar, From Logos to Trinity, hlm. 236. Tertulianus melihat Roh itu keluar dari Bapa melalui Putra. Dia membuat analogi seperti akar, pohon, dan buah. Bdk. Seperti yang dipahami oleh Alexander Souter, Tertullian Against Praxeas, hlm. 34-35

[69] Seperti yang dipahami oleh Marian Hillar, From Logos to Trinity, hlm. 236.

[70] Sebagaimana yang dimengerti oleh Alexander Souter, Tertullian Against Praxeas, hlm. 43.

[71] Pada abad II, perhatian pada pribadi ketiga begitu kurang. Namun Tertulianus mulai mempertimbangkan entitas ketiga karena pengaruh agama kuno. Dalam konteks ini belum ada istilah persona. Namun Tertulianus juga secara samar menggambarkan pribadi ketiga. Tertulianus mengungkapkan, “Spiritus in sermone” (Adversus Praxean XII). Selain itu, Roh Kudus dibahas sebagai pribadi ketiga karena disebutkan dalam Alkitab. Tertulianus mengasumsikan bahwa Roh Kudus merupakan individu pneumatik surgawi sama seperti Putra. Lih. seperti dipahami oleh Marian Hillar, From Logos to Trinity, hlm. 236-237.

TINGGALKAN BALASAN

Please enter your comment!
Please enter your name here