KRISIS SPIRITUAL DAN DEGRADASI LINGKUNGAN MENURUT SEYYED HOSSEIN NASR

0
1185

Oleh: Yohanes Wahyu Prasetyo OFM

1. PENGANTAR

Seyyed Hossein Nasr merupakan filsuf dan cendekiawan Muslim. Nasr melihat persoalan lingkungan pada tataran spiritual, agama, dan filosofis. Ia menumbuhkan dan mengembangkan pandangan dunia tradisional mengenai alam berdasarkan kebijaksanaan abadi (eternal wisdom). Menurut Nasr, krisis ekologi dewasa ini merupakan krisis spiritual manusia modern (spiritual crisis of modern humans). Pandangan dunia modern melekat pada pendekatan sekuler terhadap alam, di mana tidak ada tempat untuk sesuatu yang bersifat spiritual. Padahal pengetahuan spiritual membuka jalan menuju kesadaran dan keterikatan mendalam dengan alam, memotivasi manusia untuk mengantisipasi degradasi lingkungan.

Pendidikan tradisional yang mencakup pengajaran spiritual semakin samar dan menghilang. Hal ini mengakibatkan perasaan spiritual (spiritual feelings) terhadap alam tidak lagi mewarnai kehidupan masyarakat. Jika tidak ada perasaan spiritual, maka manusia tidak akan ada niat dan upaya untuk mengejawantahkan kelestarian lingkungan (the sustainability of the environment). Selain itu, persoalan spiritualitas dalam kaitannya dengan lingkungan belum tereksplorasi di dunia akademik. Berhadapan dengan situasi dan kondisi tersebut, Nasr mengintegrasikan spiritualitas agama dengan alam dan menunjukkan potensi korelasi antara degradasi lingkungan dan krisis spiritual.

Nasr mempunyai latar belakang pendidikan bidang sains, filsafat, dan sejarah modern. Meskipun demikian, ia lebih tertarik menangani persoalan terkini berdasarkan sudut pandang tradisional dan wawasan spiritual. Sehingga tidak mengherankan apabila Nasr mengklaim dirinya sebagai seorang tradisionalis. Nasr mengkritik humanisme sekuler, ilmu mekanistik, dan cara pandang antroposentris terhadap alam.

2. HIDUP DAN KARYA-KARYA SEYYED HOSSEIN NASR

Seyyed Hossein Nasr lahir pada 7 April 1933 di Taheran. Nasr lahir delapan tahun setelah pemerintahan pendiri dinasti Pahlavi, Reza Shah, yang kebijakannya sebagian besar dirancang untuk membawa Iran ke dunia modern. Ayah Nasr, Seyyed Valiallah, lahir pada 1871. Tetapi ia baru menikah pada usia enam puluh tahun dan Nasr merupakan anak pertama dari kedua putranya. Perlu diketahui bahwa kata “Seyyed” merujuk pada garis keturunan Nabi (Prophet). Valiallah merupakan kepala administrator kementerian pendidikan periode Qajar sampai Pahlavi. Ia juga terlibat dalam transformasi sistem pendidikan modern.

Orang tua Nasr mempunyai cara pandang tradisional dan sangat hati-hati ketika menanamkan budaya Persia serta Islam ke dalam dirinya. Sejak usia dini, ia menghafal puisi Hāfiz, Rūmī, dan Sa’dī. Ayah Nasr sangat mencintai budaya tradisional Persia, profesor di Universitas Teheran, dan tokoh terkemuka di lembaga pendidikan. Pada usia sepuluh tahun, Nasr bertemu dengan sejumlah ulama terkemuka dan mendengarkan diskursus mereka di rumahnya. Sehingga tidak mengherankan apabila pada usia tersebut ia sudah membaca buku-buku filsafat Barat dan diskusi dengan ayahnya mengenai persoalan filosofis serta teologis.

Ketika berusia tiga belas tahun, ayahnya mengalami luka akibat kecelakaan dan tidak akan pulih. Selanjutnya, pada 1945 Nasr dikirim ke Amerika dan menempuh pendidikan di Peddie School New Jersey. Nasr menunjukkan bakat luar biasa dalam bidang matematika dan sains. Paddie School berharap supaya Nasr melanjutkan pendidikan di Princeton, tetapi ia memilih menempuh studi di MIT untuk mendalami fisika. Nasr meyakini bahwa kemungkinan untuk memperoleh pengetahuan mengenai sifat segala sesuatu (nature of things) ditentukan oleh pikirannya sendiri. Tetapi ia memiliki prediksi mengenai kejutan yang akan diterimanya terkait sifat sebenarnya dari subjek yang dipilihnya untuk dipelajari.

Pada 1950, Nasr pindah ke Boston dan ayahnya meninggal empat tahun sebelumnya. Ketika menjalani pendidikan di MIT, ia mengalami krisis intelektual dan spiritual. Hal ini membuat Nasr memutuskan untuk meninggalkan bidang studi yang dipilihnya. Selanjutnya ia mendengarkan sejumlah ceramah Bertrand Russell dan sampai pada kesimpulan bahwa tidak ada kemungkinan realisme ontologis (ontological realism) dalam ranah fisika. Sejak saat itu Nasr melengkapi studi ilmiahnya dengan sejumlah mata kuliah humaniora. Dalam bidang humaniora, ia dipengaruhi oleh Giorgio di Santillana (filsuf Italia). Pada waktu itu Giorgio di Santillana mengajarkan pemikiran Dante dan René Guénon kepada Nasr. Selain itu, melalui perpustakaan Coomaraswamy, Nasr mengenal pemikiran Ananda Coomaraswamy dan Frithjof Schuon. Ia lulus dari MIT pada 1954 dan mempunyai bekal yang sangat memadai mengenai kebijaksanaan tradisional (traditional wisdom).

Nasr pergi ke Harvard dan pada 1956 menerima gelar MA dalam bidang geologi serta geofisika. Kemudian ia menekuni sejarah sains dan studi Islam bersama George Sarton, Harry Wolfson, Bernard Cohen, dan H.A.R. Gibb. Setelah menyelesaikan disertasi doktoral, Nasr melakukan perjalanan ke Eropa dan bertemu dengan Schuon serta Titus Burckhardt. Selanjutnya, pada musim gugur (1958), Nasr kembali ke Iran untuk belajar kebijaksanaan tradisional. Pada 1963, ia diangkat menjadi profesor di Universitas Teheran. Selama dua puluh satu tahun tinggal di Iran, Nasr sangat produktif. Menerbitkan sejumlah buku dalam bahasa Inggris dan Persia. Selain itu, ia mengajar dan ingin membangkitkan pendidikan tradisional dalam konteks universitas modern. Pada 1968, Nasr diangkat menjadi dekan fakultas sastra dan menjadi wakil rektor bidang akademik. Kemudian pada 1972, ia menjadi rektor Aryamehr University.

Nasr meninggalkan Iran pada Januari 1979 dan menempati posisi sebagai profesor tamu di University of Utah. Kemudian sejak 1984, ia menjadi profesor di George Washington University. Sesaat sebelum meninggalkan Iran, Nasr diminta untuk memberikan ceramah mengenai Natural Theology di Gifford Lectures Skotlandia. Gifford Lectures dimulai sejak 1888 dan melibatkan filsuf serta ilmuwan terkenal seperti Werner Heisenberg, William James, Albert Schweitzer, Paul Tillich, Arnold Toynbee, dan Alfred North Whitehead. Dalam perjalanan waktu, ia menulis buku Knowledge and the Sacred. Buku tersebut disebut Nasr sebagai karya filosofisnya yang paling penting dan mempunyai dampak luas.

Sebagian besar karya-karya Nasr menerapkan perspektif alam pikiran Islam tradisional, secara khusus ajaran para filsuf dan sufi Muslim. Studinya mengenai kosmologi Islam, sains, psikologi, dan spiritualitas menawarkan sikap interpretatif. Tiga buku Nasr dalam bahasa Inggris diterbitkan Harvard University Press dan dipandang sebagai studi Islam yang orisinal yaitu An Introduction to Islamic Cosmological Doctrines, Three Muslim Sages, dan Science and Civilization in Islam. Dukungannya terhadap Schuon dan Burckhardt dalam ketiga buku tersebut membawa sekolah tradisionalis menjadi perhatian para akademisi. Nasr membawa perspektif baru ke dalam arus utama kajian Islam dan memperjelas perspektif tradisionalis. Dalam Knowledge and the Sacred, ia mengemukakan pernyataannya yang komprehensif mengenai sesuatu yang terkandung dalam tradisi.

Pergeseran penekanan dalam karya-karya Nasr dapat diamati dengan mempelajari buku-buku yang ditulisnya. Karya-karya Nasr sebelum Knowledge and the Sacred menawarkan cara pandang tradisionalis mengenai pemikiran dan budaya Islam. Dalam The Encounter of Man and Nature, Nasr mengasimilasi sejarah pemikiran Barat, kelahiran dunia modern, studi agama, dan krisis lingkungan. Sejak datang ke Amerika, ia melanjutkan kajiannya mengenai studi Islam dan tradisi. Upaya tersebut dimaksudkan untuk mengungkap kekayaan filsafat Islam dan menghasilkan karya berjudul Philosophy from Its Origin to the Present: Philosophy in the Land of Prophecy. Meskipun demikian, Nasr mempunyai kecenderungan membawa pendekatan tradisionalis ke khalayak yang lebih luas. Hal ini tercermin di dalam berbagai kuliah umum yang disampaikannya dan kedua bukunya, yaitu The Need for a Sacred Science (1993) dan Religion and the Order of Nature (1996).

3. KRISIS LINGKUNGAN

Kehidupan masyarakat dewasa ini diwarnai krisis lingkungan (environmental crisis), mulai dari polusi udara di Kairo dan Teheran, erosi perbukitan Yaman, dan penggundulan hutan di sejumlah wilayah Malaysia serta Bangladesh. Dapat dikatakan bahwa persoalan lingkungan terjadi di banyak tempat yang mencakup pusat kota dan juga pedesaan. Menurut Nasr, jika mempelajari situasi dan kondisi tersebut secara dangkal, maka kita dapat mengajukan klaim bahwa pandangan Islam mengenai alam tidak berbeda dengan cara pandang Barat modern yang pertama kali mendorong krisis lingkungan. Tetapi apabila ditelaah secara serius, pandangan Islam mengenai lingkungan sangat berbeda dengan cara pandang Barat. Cara pandang Islam tersebut tersembunyi karena gempuran peradaban Barat sejak abad XVIII dan hancurnya peradaban Islam.

Realitas menunjukkan bahwa dunia Islam tidak sepenuhnya Islami, banyak kebohongan Islam tersembunyi di balik ide dan praktik budaya. Ilmu pengetahuan ilmiah dan teknologi Barat ditiru oleh umat Islam selama satu setengah abad yang lalu. Sebagaimana dikatakan Nasr, sikap Islam terhadap lingkungan tidak lebih nyata daripada penganut Buddha di Jepang dan Tao di Cina. Hal ini terjadi karena serangan dari negara-negara sekuler yang memuja kekuasaan dan dominasi terhadap alam. Teknologi digunakan sebagai sarana menundukkan alam tanpa menyadari pentingnya keseimbangan alam (the equilibrium of nature). Selain itu, sains dan teknologi Barat tersebar di seluruh dunia dan melampaui ilmu-ilmu sakral (sacred sciences) peradaban non-Barat.

Nasr menegaskan bahwa Islam harus mengedepankan kekuatan agama dan spiritual. Karena pandangan Islam mengenai alam dan lingkungan masih berakar kuat di dalam akal budi serta jiwa pemeluknya, terutama di daerah yang kurang modern dan sejumlah daerah yang mempunyai sikap yang lebih mendalam terhadap alam. Bertahannya cara pandang tradisional mengenai alam tersebut dapat dilihat sebagai penolakan masyarakat Islam menyerah pada dikte teknologi. Meskipun para pemimpin dunia telah berupaya sedemikian rupa untuk memperkenalkan teknologi Barat. Sehingga cara pandang tradisional penting untuk melakukan pertimbangan global dalam kaitannya dengan persoalan lingkungan.

4. KEARIFAN TRADISIONAL

Istilah tradisi (tradition) merujuk pada seperangkat kepercayaan, adat-istiadat, sikap perilaku, dan narasi yang ditransmisikan dari suatu generasi ke generasi berikutnya. Melalui proses berkelanjutan, tradisi menghubungkan masa lalu dengan masa kini. Seperti cermin, tradisi mencerminkan perbendaharaan pengetahuan mengenai masa lalu yang penting dan mengingatkan generasi sekarang tentangnya. Tradisi merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari peradaban manusia (human civilization). Sepanjang sejarah manusia, tradisi dinilai sebagai sumber pedoman dan gagasan yang mendukung kemajuan manusia. Tetapi sejak zaman Pencerahan Eropa (European Enlightment) abad XVII-XVIII, tradisi dipandang bertentangan dengan modernitas dan pemikiran progresif. Memang benar bahwa pengalaman dan pengetahuan tradisional tidak dapat mendukung kenyamanan manusia (human comfort), karena berfokus pada keseimbangan cara hidup (balancing way of life).

Menurut Nasr, tradisi bukanlah kebiasaan atau transmisi ide dari suatu generasi ke generasi berikutnya, melainkan seperangkat prinsip yang telah turun dari Langit dan manifestasi Yang Ilahi (Divine). Selain itu, ia melihat tradisi sebagai prinsip dan kebenaran yang mencakup asal-usul bersama dengan manifestasinya yang beragam. Dengan kata lain, tradisi bukanlah mitologi yang ketinggalan zaman, melainkan berakar pada sifat Realitas (rooted in the nature of Reality). Sehingga tradisi merupakan suatu kesinambungan hidup yang mengusung ilmu mengenai Realitas Tertinggi (the science of Ultimate Reality). Meskipun Nasr tidak pernah membandingkan tradisi dengan Wahyu, ia meyakini bahwa tradisi direfleksikan dan dimanifestasikan oleh Wahyu.

Sebagaimana dikemukakan Nasr, nilai kearifan tradisional sangat besar, tidak dapat diremehkan oleh ilmu-ilmu profan atau sekuler yang hanya berurusan dengan bayangan realitas (the shadow of reality). Karena ilmu-ilmu tersebut tidak dapat menangkap yang benar-benar nyata di luar penampilan yang hanya relatif nyata. Sedangkan ilmu tradisional dapat melampaui penampakan realitas yang terlihat dan rasional serta dapat merasakan Realitas Yang Mutlak (Absolutely Real) atau Realitas Tertinggi (Ultimate Reality). Karena diyakinkan dan dicerahkan tradisi kebijaksanaan, Nasr mendasarkan pemikiran dan karya-karyanya pada tradisi, meskipun ia mempunyai latar belakang pendidikan sains modern.

Nasr menekankan kearifan tradisional dan makna metafisik alam dalam kaitannya dengan kelestarian lingkungan. Menurut Nasr, pandangan dunia tradisional mengenai alam didasarkan pada pemahaman metafisik, di mana manusia dipandang terhubung dengan Tuhan dan alam. Berbeda dengan pemahaman modern, kearifan tradisional menghadirkan manusia sebagai pemilik dunia (owner of the world) dan mengingatkan bahwa mereka hanyalah bagian dari alam serta harus menjaganya. Sementara pandangan dunia modern melihat alam sebagai mesin, pandangan dunia tradisional menganggap alam sebagai tubuh yang hidup (living body). Ketika manusia menyadari bahwa mereka tidak asing dengan tatanan alam, mereka tidak akan melakukan aktivitas yang dapat mempengaruhi sistem alam. Nasr mengingatkan bahwa doktrin metafisik murni mengenai alam dapat menghidupkan kembali konsepsi spiritual mengenai alam.

Nasr melihat manusia modern terputus dari kontemplasi spiritual kehidupan dan pengalaman mereka. Ia menyebutnya sebagai krisis spiritual manusia modern. Terkait hal ini, pandangan dunia spiritual pada agama-agama tradisional dapat menyelamatkan manusia dari krisis tersebut. Meskipun tradisi agama dunia secara eksternal berbeda satu sama lain, agama-agama tersebut dapat bekerja sama dan meningkatkan sistem nilai tradisional serta perasaan spiritual ketika berhadapan dengan alam. Sehingga setiap tradisi agama dan budaya dunia mempunyai peran serta tanggung jawab untuk memungkinkan kelestarian alam. Jika manusia ingin menyelamatkan diri dari bencana lingkungan (environmental catastrophe), maka mereka harus memulihkan relasi mereka yang rusak dengan Tuhan dan alam.

Tradisi agama dan budaya Timur seperti Islam, Hindu, Buddha, Taoisme, Konghucu, dan Kekristenan Timur merupakan sumber yang berguna untuk merevitalisasi keintiman relasi antara manusia dan alam. Sebagaimana dikatakan Nasr, tradisi-tradisi Timur membawa signifikansi metafisik dan membantu tradisi-tradisi Barat menjadi lebih dekat dengan alam. Nasr berharap supaya orang-orang Kristen menghidupkan kembali tradisi metafisik dalam Kekristenan, karena Kekristenan Barat telah kehilangan tradisi tersebut. Terkait hal ini, Islam dapat menawarkan bantuan kepada Kekristenan Barat, karena Islam berasal dari akar Abrahamik yang sama (the same Abrahamic roots).

Berhadapan dengan krisis ekologi dewasa ini, Nasr menunjukkan pentingnya berakar pada pemahaman spiritual dan filosofis mengenai relasi manusia dengan alam. Mengupayakan keterikatan spiritual yang lebih dalam dengan lingkungan alam. Hal ini dapat ditemukan dalam ilmu pengetahuan dan agama tradisional (traditional sciences and religions). Menggunakan cara-cara tradisional untuk memahami lingkungan dan mempromosikan pemahaman kosmologis tradisional mengenai alam yang hampir hilang serta digantikan cara pandang modern.

5. ILMU SAKRAL DAN ILMU TRADISIONAL

Istilah ilmu sakral (sacred science) berasal dari kata Latin scientia sacra. Nasr menghubungkan istilah tersebut dengan pengetahuan metafisik dan penerapannya pada alam. Karena metafisika berkaitan dengan Prinsip Ilahi (Divine Principles) yang merupakan sumber dan dasar pengetahuan. Pengetahuan tersebut berada di pusat eksistensi manusia dan juga di jantung semua agama. Hal ini bukan pengetahuan duniawi, melainkan pengetahuan tertinggi (supreme knowledge) dan bersifat sakral. Oleh karena itu, hanya dapat dicapai oleh intelek sejati (the true intellect) dengan perenungan spiritual yang mendalam. Perlu diketahui bahwa pengetahuan tersebut berasal dari Realitas Tertinggi atau Keesaan Tertinggi. Nasr menyebut ilmu sakral tersebut sebagai ilmu Yang Nyata (the science of the Real). Dengan kata lain, kebijaksanaanlah yang menyiratkan pengetahuan tertinggi mengenai realitas, di mana landasan metafisik ilmu sakral adalah Tuhan dan dunia ruh (God and the world of the spirit).

Ilmu modern didasarkan pada rasionalitas dan tidak ada hubungannya dengan spiritualitas. Sehingga ilmuwan modern tidak berbicara mengenai sifat sakral alam dan ruh yang tidak terlihat di luar semua komponen alam. Nasr menyebut sains modern sebagai sains profran atau sains sekuler, karena pemahaman ilmiah (scientific understanding) mengabaikan kontemplasi dan perasaan spiritual. Ilmu sakral dimaksudkan Nasr untuk menghadapi krisis ekologi. Jika alam dirasakan sakral dalam pemahaman yang lebih mendalam, manusia dapat menunjukkan rasa hormat terhadap alam dan mengutamakan perlindungan terhadap alam.

Nasr menyebut ilmu-ilmu tradisional (traditional sciences) sebagai ilmu yang bermanfaat. Ilmu tradisional tidak murni berdasarkan prinsip-prinsip metafisika sebagai ilmu sakral. Tetapi tidak seperti ilmu-ilmu modern (modern sciences), ilmu tradisional dipisahkan dari tatanan prinsip metafisika. Perlu diketahui bahwa ilmu tradisional bertumbuh dan berkembang sebelum abad XVII. Nasr membedakan ilmu tradisional dari pengetahuan sosial, yuridis, dan teologis masa silam. Terkait hal ini, ilmu tradisional dapat dibandingkan dengan okultisme (occultism), karena hubungannya yang dalam dengan dimensi esoterik, tetapi tidak boleh disebut sebagai takhayul. Ilmu tradisional dikembangkan oleh orang bijak yang memiliki kapasitas spiritual dan intelektual.

Ilmu tradisional bukanlah ilmu yang sepenuhnya sakral. Namun karena dikaitkan dengan spekulasi manusia, ilmu tradisional memiliki relasi dengan ilmu sakral. Menurut nasr, terdapat perbedaan mendasar antara ilmu tradisional dan ilmu modern. Ilmu tradisional pada dasarnya sakral, sedangkan ilmu modern itu profan. Ilmu modern dicirikan oleh manusia modern yang kehilangan rasa kesakralannya. Sedangkan dalam ilmu tradisional, dunia fisik (physical world) dipandang sebagai realitas terendah. Terkait hal ini, dunia spiritual (spiritual world) dipandang sebagai realitas tertinggi. Perlu diketahui bahwa dalam ilmu modern dunia fisik dipandang sebagai domain realitas tertinggi dan tidak ada nilai yang diberikan kepada dunia spiritual.

Ilmu tradisional meyakini dunia berasal dari Yang Ilahi, sedangkan ilmu modern berbicara mengenai asal-usul materialistik dunia fisik. Ilmu tradisional berbicara mengenai kesempurnaan surgawi manusia (the paradisal perfection of human) dengan bantuang Sang Pencipta, sedangkan ilmu modern berbicara mengenai evolusi spesies manusia (the evolution of the human species). Dalam ilmu tradisional, manusia dilihat sebagai suatu totalitas tubuh, pikiran, jiwa, dan ruh yang mencakup kebutuhan fisik, mental, dan spiritual. Sedangkan dalam ilmu modern, hanya tubuh fisik manusia yang dipertimbangkan. Berdasarkan pembedaan tersebut, Nasr menegaskan bahwa ilmu tradisional lebih relevan untuk mengatasi krisis ekologi. Karena mempromosikan pandangan partisipatif, mempunyai visi holitik dan pemahaman yang lebih mendalam mengenai relasi manusia dengan alam.

6. PERASAAN SPIRITUAL DAN SPIRITUALITAS AGAMA

Menurut Nasr, manusia lupa bahwa mereka adalah bagian yang tidak terpisahkan dari alam, di mana manusia merupakan mikrokosmos dan alam merupakan makrokosmos. Berdasarkan pendidikan modern (modern education), dalam tatanan dunia dan sistem sosial tidak ada ruang untuk membicarakan nilai spiritualitas (value of spirituality). Spritualitas dianggap sebagai takhayul, sehingga tercipta kekosongan dalam pikiran manusia. Sebagaimana dikatakan Nasr, manusia terdiri dari tubuh material (material body) dan pikiran spiritual (spiritual mind). Tubuh berurusan dengan urusan duniawi, sedangkan pikiran terhubung dengan emosi dan romantisme. Manusia tidak akan pernah lengkap ketika menolak bagian esensial dari pembentukan eksistensinya sendiri. Bahkan manusia tidak dapat merasakan kedamaian dengan kemakmuran ekonomi dan kekuatan militer yang tidak terbatas apabila pikiran spiritualnya tidak bebas dari kekacauan.

Manusia modern ingin bahagia dengan substansinya yang tampak, tetapi mereka gagal merasakan kedamaian dalam hati. Karena mereka tidak menyadari bahwa kebahagiaan adalah sesuatu yang relatif yang kebanyakan berhubungan dengan pikiran daripada kemakmuran ekonomi (economic prosperity). Menurut Nasr, perdamaian tidak tercapai sampai manusia sungguh-sungguh memelihara perdamaian dengan alam. Oleh karena itu, harus dilakukan reformasi dalam pemikiran manusia terkait hubungannya dengan alam. Nasr mengusulkan untuk mengembangkan perasaan spiritual yang dapat memotivasi manusia melakukan perubahan substansial kegiatan ekonomi dan kompetisi praktik kekuasaan antarbangsa. Tanpa keterikatan spiritual yang mendalam dengan alam, manusia akan melakukan aktivitas dangkal yang cenderung merusak alam. Jika manusia tidak mempunyai perasaan spiritual ketika berhadapan dengan alam, maka krisis ekologi terus berlanjut.

Spiritualitas agama (religious spirituality) mengedepankan perasaan spiritual (spiritual feeling) terhadap lingkungan dan manusia modern harus kembali kepadanya. Terkait hal ini, setiap tradisi agama memberikan kewajiban untuk mengejawantahkan kontemplasi spiritual. Pada tataran tertentu indikasi tekstual Kitab Suci agama tidak dapat dipahami tanpa adanya pemikiran spiritual yang mendalam. Para pendiri agama adalah orang-orang spiritual yang juga menekankan pentingnya spiritualitas. Karena tanpa spiritualitas, agama tidak dapat bekerja dan para penganutnya tidak dapat mencapai jalan serta cara pandang spiritual. Menurut Nasr, jika manusia ingin mengatasi krisis ekologi secara efektif, maka perasaan spiritual keagamaan terhadap alam harus dipromosikan.

Sebagaimana diyakini Nasr, ikatan antara yang sakral dan yang profan, ruh dan alam, Sang Pencipta dan ciptaan dimungkinkan melalui spiritualitas keagamaan, spiritualitas yang berbicara mengenai kesatuan tertinggi dari segala sesuatu (the ultimate unity of all things). Ajaran spiritual agama memotivasi manusia untuk menciptakan pendekatan partisipatif dan kooperatif terhadap alam. Karena terdapat hubungan yang tidak terpisahkan antara manusia dengan ciptaan lainnya. Kesadaran tersebut dapat mencegah manusia mengeksploitasi lingkungan alam, di mana manusia mempunyai hasrat untuk mengejar kekayaan.

Manusia modern telah meninggalkan prinsip fundamental cara pandang agama yang dalam tradisi Tiongkok Kuno berupa Tao, Hindu berupa rita, Buddha berupa dharma, Yunani Kuno berupa nomos, dan Islam berupa sharī’ah. Terkait hal ini, prinsip dasar agama yang sama dimanifestasikan dalam nama yang berbeda pada setiap tradisi agama. Tetapi nama yang berbeda tersebut mengungkapkan realitas yang sama, yaitu tatanan atau hukum yang dengannya segala sesuatu diatur. Perlu diketahui bahwa cara pandang agama menunjukkan hubungan mendalam antara manusia dan alam dalam hal mengikuti hukum yang sama.

Nasr mengimbau manusia modern untuk menyadari pandangan agama tradisional mengenai alam. Selain itu, jika manusia ingin mempertahankan tatanan fundamentalnya, maka mereka harus memahami bahwa eksistensinya merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari alam, ciptaan Tuhan, dan tunduk terhadap hukum-hukum sebagaimana ditetapkan oleh Tuhan. Dalam cara pandang agama, alam tidak dipandang sebagai sesuatu yang asing, tetapi sebagai organisme hidup. Bahkan agama menghubungkan malaikat, ruh, dan jiwa dengan alam. Ketika manusia mengejawantahkan cara pandang agama, mereka tidak akan jatuh ke dalam pendekatan mekanistik-materialistik terhadap alam.

7. MENGUBAH CARA PANDANG SAINTIFIK MODERN TERHADAP ALAM

Menurut Nasr, cara pandang saintifik modern merupakan fenomena yang mengakibatkan krisis ekologi, di mana manusia dijadikan ukuran segala sesuatu (the measure of all things). Cara pandang tersebut berasal dari humanisme sekuler era renaisans. Perlu diketahui bahwa cara pandang saintifik modern bersifat antroposentris dan menyingkirkan cara pandang teosentris, biosentris, dan ekosentris. Terkait hal ini, manusia layak menempati posisi Tuhan dan menjadi pusat segala sesuatu. Tuhan digantikan oleh manusia dan alam tunduk kepada mereka. Hal ini nampak dalam pemanfaatan teknologi dan eksperimen ilmiah yang tidak memperhatikan kepentingan alam. Teknologi menjadi pembunuh alam apabila digunakan tanpa memikirkan dampak buruknya terhadap alam. Teknologi yang digunakan secara tidak bertanggung jawab mengakibatkan tumbuhan dan hewan mati, air, udara, dan tanah tercemah, pemanasan global semakin parah, dan lapisan ozon menipis. Situasi dan kondisi tersebut akhirnya menimbulkan perubahan iklim dan krisis ekologi.

Cara pandang saintifik modern hanya mempertimbangkan kesejahteraan manusia dan mengabaikan kesejahteraan ciptaan lainnya. Cara pandang tersebut dapat dilihat dalam gaya hidup orang-orang modern yang diwarnai konsumerisme, egois dan ingin menghancurkan dunia (destroy the world). Oleh karena itu, cara pandang saintifik modern harus diubah untuk melindungi lingkungan dari kehancuran yang lebih lanjut. Terkait hal ini, Nasr mengkritik ilmuwan modern yang menjauhkan kosmologi dari makna aslinya. Karena mereka tidak mengartikulasikan realitas fenomenal dengan wacana metafisik. Sebagaimana dikemukakan Nasr, kosmologi adalah ilmu yang membahas semua tatanan realitas alam dengan pemahaman metafisika yang lebih dalam.

Berhadapan dengan persoalan tersebut, Nasr mengusulkan supaya menghubungkan Wahyu dan doktrin metafisik dalam analisis ilmiah mengenai alam serta semua realitas fisik lainnya. Nasr menyebutnya sebagai kosmologi sakral (sacred cosmology), di mana dunia fisik diyakini berasal dari dunia spiritual dan ditopang olehnya. Dunia fisik tidak dapat eksis secara independen tanpa dunia spiritual, sedangkan dunia spiritual diasosiasikan dengan Realitas Ilahi. Dalam kosmologi sakral, manusia dipandang sebagai mediator antara dunia fisik dan dunia spiritual. Jiwa manusia tidak lain adalah bejana Ilahi (the vessel of the Divine). Ketika ilmuwan sekuler menghapus Wahyu dari kosmologi, ia kehilangan karakter kesakralannya dan memberi izin manusia untuk mengeksploitasi alam.

Nasr menekankan pemahaman bumi dan kosmos dari perspektif metafisik tradisional. Karena studi tentang tatanan alam dalam berbagai agama menunjukkan kekayaan Alam Ilahi (Divine Nature) yang tidak terbatas. Sebagaimana dikemukakan Nasr, semua agama menghubungkan keteraturan alam dengan keteraturan diri manusia dan membayangkan kedua tatanan tersebut sebagai jejak Realitas Ilahi. Terkait hal ini, mempelajari metafisika penting untuk pemahaman yang lebih dalam tentang sifat asli makhluk. Dengan menempatkan agama, filsafat, dan sains dalam satu landasan, metafisika membahas sejumlah persoalan nyata dalam kaitannya dengan hal-hal yang tidak terlihat. Nasr memasukkan Yudaisme, Kristen, Hindu, Buddha, Konfusianisme, Taoisme, Jainisme, dan Shintoisme dalam dasar-dasar spiritual serta etika alam. Pemahaman agama dan budaya tersebut dapat menantang monopoli cara pandang saintifik modern terhadap kosmos.

8. FILSAFAT PERENIAL SEYYED HOSSEIN NASR

Nasr adalah kritikus filsafat materialistik atau sekuler yang mengabaikan dunia spiritual. Filsafat materialistik atau sekuler harus bertanggung jawab, karena menumbuhkan dan mengembangkan pandangan dunia tanpa ruh, mengilhami manusia untuk memperlakukan alam sebagai tubuh anorganik (inorganic body). Berhadapan dengan sikap filosofis destruktif tersebut, Nasr berbicara mengenai filsafat perenial (perennial philosophy). Filsafat perenial mencakup dasar spiritual dan material secara seimbang serta memungkinkan relasi di antara keduanya. Selain itu, filsafat perenial terkait dengan dasar spiritual benda, jiwa, dunia, dan alam semesta, membangun pendekatan spiritual terhadap dunia serta lingkungan. Nasr menghargai para filsuf perenial seperti Frithjof Schuon (1907-1998), Ananda Coomaraswamy (1877-1947), dan René Guénon (1886-1951) terkait diskursus mereka mengenai dunia spiritual. Nasr menganalisis pemikiran mereka dalam konteks persoalan lingkungan dan menyarankan penerapan filsafat perenial untuk menggeser paradigma saintifik modern ke cara pandang dunia tradisional mengenai alam.

8.1 Manusia Pontifikal   

Nasr menyajikan konsep manusia pontifikal (pontifical human) untuk melawan manusia modern. Istilah manusia pontifikal dimaksudkan Nasr untuk memahami manusia dalam perspektif tradisional, spiritual dan religius. Kualitas terpenting manusia pontifikal adalah membuat jembatan antara bumi dan Langit. Oleh karena itu, manusia pontifikal tunduk pada Langit dan berhati-hati ketika menghadapi lingkungan alam. Manusia pontifikal memainkan peran sebagai wakil Tuhan di bumi (representative of God on earth), dalam Islam disebut khalīfat Allāh fī’lard. Manusia harus menjaga alam sebagai hamba Tuhan (‘abd Allāh). Jika manusia hanya menjadi khalīfat Allāh dan tidak menjadi hamba Allah yang rendah hati, maka mereka akan jatuh ke dalam kesombongan. Sehingga keunggulan dan kerendahan hati manusia harus diibangi dengan kesadaran bahwa mereka khalīfat Allāh (wakil Tuhan) serta ‘abd Allāh (hamba Tuhan).

Nasr menggambarkan manusia modern sebagai manusia promethean (promethean human). Manusia promethean mengingkari keberadaan Tuhan dan tidak beragama. Mereka bersifat egois dan menjunjung tinggi keuntungan duniawi, meniadakan pemahaman mengenai agama serta menyebutnya sebagai takhayul. Menurut Nasr, cara pandang saintifik modern menciptakan manusia promethean. Oleh karena itu, Nasr mengkritik cara pandang saintifik modern yang membentuk mentalitas dalam pikiran manusia promethean.

8.2 Pola Relasi Hierarki

Nasr mengakui bahwa dalam relasi antara Tuhan, manusia, dan bumi terdapat hierarki. Relasi hierarkis tersebut nampak dalam semua tradisi agama dan budaya. Nasr melihat pola relasi hirarki sebagai aspek perenial dari semua filsafat dan agama tradisional. Tetapi para pecinta lingkungan sekuler menganggap relasi hierarkis berbahaya bagi etika lingkungan (environmental ethics). Dalam pola relasi hierarki manusia ditempatkan di samping Tuhan, sedangkan ciptaan lainnya dianggap hanya untuk kepentingan manusia.

Nasr menanggapi kritik mereka dengan menegaskan bahwa relasi hierarkis tidak memberikan izin kepada manusia untuk menganiaya lingkungan. Tidak memberi hak kepada manusia untuk menganggap ciptaan lainnya sebagai makhluk yang tidak berharga. Selain itu, manusia harus bertanggung jawab dengan menjaganya dan mempertanggungjawabkan tindakannya terhadap alam kepada Tuhan. Dengan demikian, manusia menempati posisi di antara Tuhan dan alam serta mempunyai tugas sebagai perpanjangan tangan Tuhan di bumi untuk melindungi serta merawat alam.

Menurut Nasr, pola relasi antara Tuhan, manusia, dan bumi memastikan sikap bertanggung jawab manusia terhadap ciptaan lainnya serta tidak dimaksudkan untuk mendukung pola relasi yang berpusat pada manusia. Terkait hal ini, cara pandang saintifik modern memisahkan Tuhan dari manusia, memisahkan manusia dari alam, dan menjadikan manusia sebagai ukuran segala sesuatu. Karena Tuhan bukanlah entitas penting dalam cara pandang saintifik modern. Manusia tidak bertanggung jawab kepada Tuhan atas tindakan yang dilakukannya. Hal ini menghalangi manusia untuk menjaga alam dan mendorong mereka hanya memikirkan manfaat duniawi.

Nasr menegaskan bahwa mentalitas tersebut merupakan suatu pendekatan antroposentris terhadap alam dan merupakan hasil dari cara pandang saintifik modern. Sebagaimana diyakini Nasr, agama tradisional berurusan dengan relasi segitiga (triangular relationship), relasi antara Tuhan, manusia, dan bumi. Sedangkan cara pandang saintifik modern hanya berurusan dengan relasi tunggal (single relationship), di mana manusia menjadi pusat dan ukuran segala sesuatu. Dengan demikian, pola relasi Tuhan, manusia, dan bumi tidak boleh disalahartikan oleh para pemerhati lingkungan sekuler.

8.3 Alam Sebagai Simbol Yang Ilahi

Berdasarkan cara pandang orang-orang religius dan spiritual, alam merupakan cerminan Wujud Ilahi (Divine Being) yang mereka sembah, tetapi dalam perpektif ilmu modern itu merupakan objek material. Ilmuwan modern melihat alam dengan mata materialistik (materialistic eyes), sedangkan orang-orang religius dan spiritual melihatnya dengan mata spiritual (spiritual eyes). Terdapat demarkasi di antara kedua kelompok tersebut dalam aspek melihat, mengamati, dan merenungkan alam. Di mata orang spiritual, setiap organisme alam mencerminkan Realitas Ilahi (Divine Reality). Dalam Al-Qur’an 3:190 dikatakan Verily! In the creation of the heavens and the earth, and in the alteration of night and day, there are indeed signs for men of understanding.

Menurut Nasr, jika alam merupakan cerminan Realitas Ilahi, maka tidak ada ruang untuk meremehkan unsur-unsur penyusun alam, bahkan apabila itu adalah unsur abiotik dari alam. Semua komponen alam diciptakan oleh Tuhan, sehingga manusia harus berhati-hati ketika mengambil segala sesuatu dari alam. Tidak menghormati alam berarti tidak menghormati Penciptanya. Oleh karena itu, orang-orang yang percaya kepada Tuhan tidak akan melakukan tindakan yang dapat menghancurkan simbol Yang Ilahi.

8.4 Kesatuan Eksistensi

Segala sesuatu diciptakan oleh Pencipta yang sama dan manusia mempunyai keterikatan yang mendalam dengan seluruh komponen alam. Sehingga manusia harus mempunyai pemahaman spiritual di mana mereka pada hakikatnya berada dalam kesatuan transenden Wujud (Being) dengan semua ciptaan Tuhan lainnya. Hal ini dapat memotivasi manusia untuk lebih toleran terhadap ciptaan lainnya dan mengakui eksistensi serta hak hidup mereka. Sebagaimana dikatakan Nasr, perenungan yang lebih dalam sangat penting untuk memulihkan relasi antara manusia dan alam. Tanpa pemahaman yang lebih dalam mengenai kesatuan eksistensi (the unity of existence), tidak ada inisiatif dari manusia untuk mengejawantahkan kelestarian lingkungan.

8.5 Cara Pandang Dunia Spiritual

Cara pandang modern dan post-modern tidak menawarkan relasi yang berkelanjutan dengan alam. Seperti Nasr, John B. Cobb menegaskan bahwa cara pandang saintifik modern tidak berpihak pada alam, tetapi mendominasi alam. Cara pandang dunia modern mengabaikan perasaan spiritual ketika berhadapan dengan ciptaan lainnya. Menurut Nasr, manusia modern dapat berbicara mengenai krisis lingkungan, tetapi mereka tidak merasakan keseimbangan ekologis dalam pikiran spiritual mereka. Mereka tidak mempunyai perasaan spiritual yang mendalam atau cinta lingkungan (love for the environment). Jika pandangan dunia spiritual mengenai alam dikembangkan dan diikuti di seluruh dunia, maka manusia dapat mengatasi krisis ekologi dewasa ini.

8.6 Sistem Pertanian Tradisional

Nasr mengkritik sistem pertanian modern yang berbasis teknologi dan pupuk kimia. Karena sistem pertanian modern berbahaya bagi lingkungan, mengubah kualitas tanah dan merusak sistem ekologi dengan membunuh organisme biotik seperti cacing tanah serta serangga dengan menggunakan pestisida, herbisida, dan pupuk kimia di lahan pertanian. Bahan kimia tersebut secara bertahap masuk ke dalam tubuh manusia melalui konsumsi yang menyebabkan penyakit seperti kanker. Sistem pertanian modern menyediakan makanan yang cukup untuk memenuhi selera manusia, tetapi dalam jangka panjang itu beresiko terhadap kesehatan dan merusak lingkungan. Oleh karena itu, Nasr mendesak untuk menghidupkan kembali teknologi tradisional dalam mengelola lahan pertanian untuk menghasilkan makanan sehat dan ramah lingkungan.

8.7 Membangun Rumah Secara Tradisional

Nasr menganjurkan membangun rumah dan jalan menggunakan metode tradisional. Meskipun metode tersebut tidak sepenuhnya bebas dari kerusakan lingkungan, namun dampaknya lebih kecil terhadap lingkungan alam dibandingkan dengan metode modern. Nasr mengapresiasi rancangan desain bangunan Hasan Fathi (arsitek Mesir) yang memilih metode tradisional. Dalam pandangan Fathi, dengan menggunakan lumpur, batu bata, dan bahan tradisional lainnya, masih memungkinkan untuk membangun arsitektur yang luar biasa dengan memperhatikan kelestarian lingkungan. Tembok Besar Cina, Piramida Mesir, dan Kutub Minar Delhi merupakan contoh terbaik bangunan dengan metode tradisional.

8.8 Mengurangi Konsumsi

Nasr menganjurkan supaya manusia berhati-hati mengonsumsi produk modern. Sebelum mengonsumsi manusia harus berpikir apakah produk yang akan dikonsumsi membahayakan dirinya dan alam. Jika bahaya dari tindakan mengonsumsi lebih besar daripada manfaatnya, maka harus segera menghindarinya. Dengan kata lain, Nasr menghendaki konsumsi yang seimbang dan yang selaras dengan alam. Sangat tidak adil berpikir bahwa manusia berhak mengonsumsi segala sesuatu karena ketersediaan atau kemudahan akses atau ketertarikan terhadap makanan. Ketika pilihan diambil berdasarkan pertimbangan kepentingan ekologis, kelestarian alam dimungkinkan.

8.9 Mengontrol Keserakahan Manusia

Aktivitas manusia modern di tengah krisis lingkungan semakin tidak terkendali, mereka mengejar kekayaan ekonomi dan meningkatkan kekuatan militer. Hal ini merupakan akibat dari keserakahan manusia (human greediness), di mana mereka melupakan tanggung jawabnya terhadap lingkungan. Manusia nampak tidak dapat mengendalikan keserakahan dan menjadi budak keserakahan. Ilmu pengetahuan modern dan sistem ekonomi berbasis konsumerisme menjadi pemicu keserakahan yang mengakar di dalam pikiran manusia.

Sistem ekonomi berbasis pasar menciptakan kebutuhan palsu yang harus dipenuhi oleh manusia. Pada tataran tertentu sistem ekonomi modern memperlakukan manusia hanya sebagai pelanggan dan konsumen. Terkait hal ini, sistem ekonomi dewasa ini tidak memiliki dasar yang kuat untuk menurunkan keserakahan manusia atau mempertahankannya pada tingkat yang dapat ditoleransi. Demikian pula dengan ilmu pengetahuan dan teknologi modern terputus dari bimbingan moral atau etika. Jika keserakahan manusia tidak dikendalikan, maka kelestarian lingkungan tidak dimungkinkan. Berhadapan dengan persoalan tersebut, Nasr mengusulkan supaya manusia mengikuti jalan kearifan tradisional.

8.10 Ekonomi yang Bijaksana

Persoalan lingkungan mempunyai hubungan logis dengan kegiatan ekonomi. Karena aktivitas manusia di alam berkaitan dengan kesejahteraan dan manfaat duniawi. Sebelum abad XVII, manusia memelihara relasi yang mendalam dengan alam. Tetapi setelah abad XVII, semangat sekuler menjadi kriteria utama kegiatan ekonomi. Ekonom modern sekuler mengembangkan teori dan kebijakan ekonomi yang berkaitan dengan keuntungan duniawi saja. Dalam sistem ekonomi dan pasar dewasa ini, tidak ada pertimbangan keseimbangan ekologis (ecological equilibrium). Oleh karena itu, Nasr berbicara mengenai kegiatan ekonomi yang bijaksana di mana kelestarian alam dipertimbangkan bersama dengan produksi, distribusi, pemasaran, dan konsumsi. Nasr tidak percaya bahwa ekonom bijak itu dapat menyelamatkan lingkungan. Tetapi menurut Nasr, setidaknya kebijakan ekonomi mereka tidak menyiksa alam secara besar-besaran.

9. APRESIASI DAN KRITIK TERHADAP PEMIKIRAN SEYYED HOSSEIN NASR

9.1 Apresiasi

Terdapat tiga hal yang patut disampaikan untuk mengapresiasi pemikiran Nasr. Pertama, Nasr berupaya mengalihkan paradigma dari cara pandang saintifik modern ke dalam pandangan dunia tradisional (traditional world view). Mengambil inisiatif dan menggali kesakralan alam yang diabaikan oleh ilmu pengetahuan modern. Karena salah satu cara yang dipandang tepat oleh Nasr untuk mengatasi krisis ekologi dewasa ini yaitu melihat alam sebagai sesuatu yang sakral. Nasr mengkritisi dampak negatif dari cara pandang mekanistik-materialistik terhadap alam. Terkait hal ini, Nasr menawarkan pandangan dunia tradisional yang memungkinkan relasi harmonis antara Tuhan, manusia, dan bumi.

Kedua, Nasr melihat pentingnya melengserkan konsepsi humanistik, di mana manusia dipandang mempunyai wewenang penuh untuk menentukan nilai dan norma segala sesuatu. Sedangkan alam dipandang sekadar sarana pemuas kepentingan manusia. Upaya melengserkan konsepsi humanistik dimaksudkan supaya manusia menghormati dan mencintai alam. Karena alam mempunyai peranan besar dalam menopang eksistensi manusia, menyediakan segala sesuatu yang dibutuhkan manusia. Selain itu, manusia harus berjuang supaya tidak terasing dari alam.

Ketiga, Nasr mengingatkan manusia supaya kritis ketika berhadapan dengan sains modern dan saintisme. Selain itu, Nasr menekankan tindakan etis terhadap lingkungan alam. Menumbuhkan dan mengembangkan kepedulian terhadap alam serta kasih sayang terhadap hewan dan tumbuhan. Menjunjung tinggi makna spiritual alam dan mengupayakan hidup damai serta harmoni dengan ciptaan Tuhan lainnya. Karena segala sesuatu yang ada di dunia adalah milik Tuhan. Kehancuran satu bagian dari ciptaan akan mempengaruhi bagian lainnya. Akhirnya, harus ada upaya penyembuhan kelesuan spiritual manusia modern.

9.2 Kritik

Sebagaimana dikemukakan MD. Abu Sayem, para cendekiawan menilai bahwa Nasr tidak berusaha memperbaiki kondisi gaya hidup manusia modern. Nasr mengkritik dunia modern, tetapi tidak memberikan gambaran mengenai kehidupan yang lebih baik dan lebih nyaman daripada yang dewasa ini dihidupi oleh manusia modern. Mereka juga tidak puas dengan usulan Nasr untuk mereformasi kehidupan modern, karena ia menyarankan untuk meninggalkannya secara total. Manusia modern yang sudah terbiasa dengan gaya hidup masa kini dan Nasr mempromosikan usulan yang tidak praktis serta utopis.

Menurt para cendekiawan, Nasr tidak kompromi dengan visinya, tidak memberikan ruang kompromi antara pandangan dunia tradisional dan cara pandang saintifik modern mengenai alam. Para cendekiawan yang suka melihat moderasi dalam pemikiran kecewa ketika melihat Nasr tidak mengartikulasikan pendekatan moderat, lebih menekankan reformasi total pandangan dunia yang telah dianut oleh peradaban manusia selama ini. Jika saran Nasr dipertimbangkan untuk diterapkan, maka membutuhkan proses yang panjang.

Manusia modern secara individual bebas untuk menerima dan menolak keyakinan apa pun. Terkait hal ini, para cendekiawan melihat bahwa Nasr tidak meninggalkan ruang bagi orang-orang yang tidak beragama, ateis atau anti-agama. Orang-orang ateis atau anti-agama tidak akan mendukung inisiatif yang murni didasarkan pada agama. Jika ada kelompok manusia yang berpengaruh menolak bekerja sama untuk tujuan baik, maka akan sulit untuk mengimplementasikan proyek tersebut dalam rangka mengatasi krisis ekologi. Oleh karena itu, mereka melihat usulan Nasr sebagai pendekatan radikal. Bahkan pendekatan yang digunakan Nasr menciptakan benturan dalam kaitannya dengan kepentingan ekonomi dan sistem pemasaran. Nasr tidak memberikan saran praktis terkait kegiatan alternatif untuk mereformasi sistem keuangan dan pemasaran.

Nasr menggunakan narasi esoterik yang dalam (deep esoteric narrative), sehingga para cendekiawan muda kesulitan memahami deskripsi mistik yang dikemukakannya. Selain itu, usulan Nasr untuk kembali ke pandangan dunia tradisional mengenai alam dapat disalahpahami oleh para cendekiawan modern dan pendukung cara pandang saintifik modern. Mereka menganggap saran Nasr sebagai garis pemikiran yang terbelakang dan kuno, karena setiap saat dunia bergerak maju dan tidak pernah mundur. Sehingga mereka menilai imbauan yang disampaikan Nasr tidak logis.

Para cendekiawan telah memberikan analisis kritis terhadap pemikiran Nasr. Namun, analisis kritis yang mereka sampaikan gagal mereduksi signifikansi pemahaman filsafat lingkungan yang dikemukakan Nasr. Karena Nasr telah mencari akar filosofis dari krisis ekologi dewasa ini. Selain itu, Nasr berhasil mengungkap sejumlah penyebab yang melatarbelakangi terjadinya persoalan lingkungan. Para cendekiawan dapat berargumen bahwa pemahaman filosofis dan spiritual Nasr adalah tipe narasi ideal dengan wawasan filosofis yang lebih dalam. Tetapi dalam pertimbangan untuk mengubah pandangan dunia, Nasr berhasil menghubungkan persoalan krisis ekologi yang sangat dibutuhkan dengan perspektif iman dan tradisi spiritual dunia.

10. PENUTUP

Nasr mengaitkan krisis ekologi dengan krisis spiritual. Nasr juga mengusulkan filsafat perenial dan menyarankan untuk menghidupkan kembali pemahaman metafisik tradisional mengenai keintiman relasi antara manusia dan alam. Ketika menghubungkan kearifan tradisional dengan lingkungan, Nasr mencoba menumbuhkan sentimen positif yang mendukung keseimbangan ekologis. Meskipun demikian, masyarakat sekuler dan filsuf ateis mengkritik filsafat lingkungan Nasr sebagai visi terbelakang. Tetapi mereka tidak dapat sepenuhnya menyangkal pentingnya motivasi filosofis dan spiritual Nasr untuk mengatasi krisis ekologi dewasa ini. Nasr telah berupaya menunjukkan pandangan dunia tradisional mengenai alam sebagai pendukung kelestarian lingkungan. Nasr menekankan bagaimana ilmu tradisional dan spiritualitas agama yang disertai ilmu-ilmu sakral memungkinkan kelestarian lingkungan. Hal ini dapat diupayakan sebagai solusi jangka panjang untuk mengatasi degradasi lingkungan. Nasr menyarankan untuk melakukan pergeseran paradigma dari cara pandang saintifik modern menuju pandangan dunia tradisional.

 DAFTAR PUSTAKA

Chittick, William C. “Introduction.” Dalam William C. Chittick (editor). The Essential Seyyed Hossein Nasr. Bloomington: World Wisdom, 2007, hlm. ix-xiv.

Nasr, Seyyed Hossein. “Sacred Science and The Environmental Crisis: An Islamic Perspective.” Dalam Harfiyah Abdel Haleem (editor). Islam and The Environment. London: Ta-Ha Publishers Ltd, 1998, hlm. 118-137.

Sayem, MD Abu. “The Eco-Philosophy of Seyyed Hossein Nasr: Spiritual Crisis and Environmental Degradation.” Islamic Studies. Vol. 58, No. 2 (2019), hlm. 271-295.

Catatan: Tulisan ini pernah dimuat di dalam EDISI KHUSUS ECOPHILOSOPHY, Gita Sang Surya, Vol. 16, No.4 (Juli-Agustus 2021), hlm. 77-87.

TINGGALKAN BALASAN

Please enter your comment!
Please enter your name here