Pada hari Minggu ini, Gereja katolik sejagat memasuki Minggu adven pertama yang secara sederhana diartikan sebagai titik awal proses penantian kedatangan Yesus. Minggu pertama adven menghadirkan pengharapan dan sukacita bagi manusia karena inisiatif Allah mengunjungi umatNya. Adven sebagai sebuah masa penantian kedatangan penyelamat merupakan pengharapan besar yang akan menjawab seluruh kerinduan terdalam hati manusia. Ungu yang menjadi corak khas warna liturgi sepanjang masa adven menampilkan suasana penyesalan dan pertobatan pribadi insan beriman kristiani. Lantas, Minggu adven pertama yang berlangsung hari ini juga mengawali tahun liturgi yang baru. Menarik bahwa Minggu ini menjadi momen berharga bagi murid Kristus untuk berbenah diri dalam seluruh dimensi kehidupan pribadinya sebagai anak Allah. Kesempatan ini ditempatkan seperti titik pijak mulai mengevaluasi, mengoreksi atau menimbang kembali seluruh dinamika kehidupan harian manusia, entah yang baik maupun sebaliknya.

Minggu Pertama Adven: Awal Kita Menanti

Masa adven yang dirayakan pada Minggu pertama ini menyuguhkan bacaan-bacaan suci yang menarik. Dalam bacaan pertama (Yeremia 33:14-16), nabi Yeremia menyampaikan janji Tuhan dalam rangka pemulihan keadilan bagi Yerusalem dan Yehuda. Bahwa, “Pada waktu itu, Aku akan menumbuhkan Tunas keadilan bagi Daud”. Janji itu akan terpenuhi melalui keturunan Raja Daud. Kendati umat Israel telah membangkang dan melawan Allah, Tuhan tidak akan pernah meninggalkannya. Allah tetap memberikan keadilan bagi umatNya. Kata tunas keadilan itu menjadi kunci pembebasan bangsa Israel dari segala bentuk belenggu dan penindasan. Melalui sabda nabi Yeremia, Allah membuka jalan supaya Israel berbalik kepadaNya. Janji demikian secara sempurna terpenuhi dalam diri PutraNya yang terkasih. Ia yang datang adalah kasih. Maka, kisah dalam bacaan kedua (1 Tesalonika 3:14, 4:2), menampilkan rasul Paulus berseru untuk meneruskan kasih itu. Kepada umat di Tesalonika Paulus mengharapkan agar meradikalkan (bersungguh-sungguh) kembali kasih Allah seperti yang sudah mereka terima. Janji Allah yang telah dinubuatkan oleh para nabi terdahulu dalam Yesus keturunan raja Daud tidak boleh berhenti menjadi konsumsi “diriku saja”, melainkan mesti mengalir keluar bagi kebaikan bersama yang lain dengan berlaku kasih.

Maka, sebagai bentuk persiapan datangnya janji Allah, umat beriman diajak oleh Paulus (umat di Tesalonika) agar hidup tak bercacat dan kudus di hadapan Allah dan Bapa kita pada waktu kedatangan Yesus. Ajakan Paulus demikian menjadi poin penting dalam memaknai masa adven yang pertama. Hidup tak bercacat adalah hidup yang berkenan di hati Allah yaitu dalam kasih satu sama lain. Lantas sabda Paulus itu merupakan bentuk ungkapan untuk memaknai kata berjaga-jaga sebagaimana yang disabdakan Yesus dalam bacaan Injil (Lukas 21:25-28, 34-36). Antisipasi kedatangan akhir zaman tidak boleh dilihat sebagai kejadian yang jauh di sana, tetapi sebuah peristiwa yang dekat di sini dengan kehidupan sekarang. Maka, kenyataan itu menuntut tanggapan atau aksi nyata dari pihak manusia yang mesti berkenan kepada Allah. Gambaran akhir zaman yang ditampilkan  berciri apokaliptik. Tanda-tanda akhir zaman itu sebagai tanda kedatangan anak manusia yang penuh kemuliaan. Jadi, sabda Yesus mengetengahkan bukan hanya waspada terhadap tanda-tanda alam, tetapi pentingnya menghayati hidup yang tidak terjerat oleh pesta pora dan kepentingan duniawi. Yesus meminta manusia untuk selalu berjaga-jaga.

Kepedulian dan Pertobatan Personal-Komunal

Sebagai umat beriman, kerapkali masa Adven dipahami sebagai kesempatan untuk mempersiapkan batin. Pemahaman ini tentu penting karena menyangkut persiapan personal. Namun, akan lebih baik bila kita juga mulai mengarahkan kepedulian ke dunia luar tempat kita berada. Dalam konteks ini, persiapan memasuki masa Adven perlu dikonfrontasikan dengan pertanyaan, Apa yang akan saya kerjakan sebagai wujud konkret persiapan dan buah pertobatan saya dalam menyambut kedatangan Tuhan?.

Masa adven ini mengajak semua orang untuk membaharui kembali aktivitas pribadi yang ramah terhadap kehidupan secara menyeluruh dan membaharui kemanusiaan yang adil dan beradap. Tindakan mambaharui terletak pada ikhtiar membangkitkan dorongan kemanusiaan yang ekologis yang berakar pada wujud nyata spiritualitas berjaga-jaga dalam masa penantian sebelum akhir zaman. Semangat ekologis harus bisa merasuk pola pikir manusia, sikap, serta tindakannya untuk merangsang kuatnya hubungan kasih persaudaraan dalam melestarikan kehidupan ciptaan. Rasul Paulus sudah mengajak umat di Tesalonika (bacaan II) untuk membumikan kata kasih. Semangat ekologis sebagai bentuk dari sikap berjaga-jaga yang diamanatkan oleh Yesus mesti menggerakkan, mendorong, memotivasi, menyemangati dan memberikan makna kepada kegiatan individu dalam persekutuan dengan semua yang mengelilingi kita.

Maka masalah krisis ekologi merupakan panggilan umat beriman untuk melakukan pertobatan ekologis. Masa adven adalah suatu masa penantian dan pertobatan. Dalam konteks krisis ekologi, seperti dalam ensiklik Laudato Si, pertobatan yang dimaksud adalah membiarkan seluruh buah perjumpaan mereka dengan Yesus Kristus berkembang dalam hubungan mereka dengan dunia di sekitar mereka. Dan bahwa menghayati panggilan untuk melindungi karya Allah adalah bagian penting dari kehidupan yang saleh, dan bukan sesuatu yang opsional atau aspek sekunder dalam pengalaman kristiani. Pertobatan ini menyiratkan kesadaran penuh kasih bahwa kita tidak terpisahkan dari makhluk lainnya, tapi dengan seluruh jagat raya tergabung dalam suatu persekutuan universal yang indah. Persekutuan yang terjalin dibangun dalam ikatan penuh kasih antara Bapa, kita, dan semua makhluk.

Pertobatan ini bermakna bahwa umat beriman menghayati panggilan untuk melindungi karya Allah. Melindungi karya Allah bukanlah suatu pilihan, melainkan keharusan. Sebagaimana yang dibahasakan dalam Laudato Si, hubungan yang sehat dengan dunia ciptaan merupakan salah satu dimensi pertobatan manusia yang utuh. Pertobatan dilakukan untuk mencapai rekonsiliasi yang penuh dengan dunia ciptaan: “Untuk mencapai rekonsiliasi ini, kita harus memeriksa hidup kita dan mengakui bagaimana kita telah membawa kerugian kepada ciptaan Allah melalui tindakan-tindakan kita dan kegagalan kita untuk bertindak.”

Masalah lingkungan adalah sesuatu yang kompleks. Dengan demikian, kesadaran untuk bertobat mesti menjadi kesadaran bersama. Kesadaran bersama akan sangat memberikan pengaruh besar bagi pemulihan kembali bumi yang sudah rusak. Semangat yang dikumpulkan dari setiap individu yang memiliki niat yang sama akan menjadi kekuatan besar yang efektif. Menggalang kekuatan besar dan mengajak orang yang memiliki kecintaan yang sama adalah solusi kontekstual. Pertobatan personal-komunal perlu menjadi kesadaran bersama untuk melahirkan tindakan yang ramah pada segala bentuk relasi kehidupan yang sudah keliru selama ini. Sikap pertobatan adalah sikap peduli menumbuhkan semangat perlindungan yang murah hati dan penuh kelembutan. Akhirnya, di awal Minggu adven ini, mari kita sebagai umat beriman mengungkapkan pertobatan yang sungguh-sungguh aplikatif, bukan hanya pertobatan teoretis. Semoga bacaan dalam Minggu ini dapat menggerakkan semua orang untuk membangkitkan persaudaraan mulia dengan seluruh ciptaan. Mari selalu berjaga-jaga sembari bersaksi dengan beraksi kini dan di sini. Pace e Bene.

TINGGALKAN BALASAN

Please enter your comment!
Please enter your name here