Jakarta, JPIC OFM Indonesia – Esoterika Forum Spiritualitas bekerja sama dengan JPIC OFM Indonesia, Serumpun Bakung, Nurcholish Madjid Society, dan JC Studio mengadakan perayaan Natal antar iman yang bertajuk tausiah natal (13/01/2024) dengan narasumber dari JPIC OFM Indonesia, Romo Frumensius Gions OFM dan Ibu Nisa Alwis dari Serumpun Bakung. Perayaan Natal ini  menampilkan paduan suara bapak-bapak GKI Bintaro, tarian nusantara  dari Komunitas Serumpun Bakung dan puisi-puisi bernuansa natal yang dibawakan oleh sastrawan Indonesia Ahmad Gaus dan Monica Anggi JR.

Perayaan natal ini diadakan sebagai usaha bersama menghidupkan nilai-nilai keberagaman antar agama di Indonesia. Dalam pidato sambutan, Denny JA mengungkapkan bahwa “Merayakan Natal tidak mesti menjadi Kristen”. Denny mengingatkan, perayaan natal yang dihayati oleh umat Kristiani bukan hanya sebagai kekayaan agama Kristen saja, namun juga kekayaan kultural yang bisa dinikmati bersama oleh agama-agama lainnya.

Lebih lanjut, perayaan natal ini berpuncak pada Tausiah natal dengan moderator Budhy  Munawar Rachman menghadirkan pembicara utama Romo Frumensius Gions, OFM dan Ibu Nisa Alwis. Romo Frumens dalam presentasinya mengedepankan tiga paradigma dalam membangun hubungan yang harmonis di antara umat beragama dengan salah satunya merayakan perayaan agama lain, yaitu eksklusif, inklusif dan pluralis. Paradigma ini menjadi sangat relevan dengan kegiatan natal antar iman karena telah memberi pengaruh dalam hidup antar agama. Dalam waktu yang cukup lama umat beragama terikat dengan pandangan eksklusivisme, namun sekarang umat beragama mulai menerima inklusivisme dan terutama kebijakan-kebijakan agama dalam pemerintahan Indonesia. Terlepas dari tiga paradigma tersebut Romo Frumens menekankan dialog sebagai akar yang kemudian menciptakan tiga paradigma di atas.

“Dialog adalah penanda bahwa kita adalah manusia. Oleh karena itu manusia adalah spesies dari Homo Sapiens yang memiliki akal. Dan karena memiliki akal ada kebutuhan internal untuk yang namanya berkomunikasi”, ungkap Romo Frumens.

“Manusia adalah makhluk dialogis, jadi makhluk yang bisa hidup bersama karena ada pertemuan kata-kata, karena ada pertemuan gagasan dalam kekristenan”, lanjut Romo Frumens.

Ia hendak mengedepankan bagaimana kekatolikkan menekan dialog dalam posisi yang lebih khusus lagi, yakni peristiwa Allah menjadi manusia, sehingga itulah yang disebut logos menjadi atau nyata dalam Yesus Kristus. Proses ini dialogisnya adalah Inkarnasi. Istilah kebudayaannya adalah natal. Proses ini mengisyaratkan dialog Allah dan manusia, dalam istilah kekatolikan lebih spesifik lagi disebut relasi Wahyu dan Iman.

Di sisi Ibu Nisa Alwis menyampaikan sharingnya mengenai hidup beragama di Indonesia. Ia mengungkapkan “Manusia memang makhluk yang senang merayakan”.

“Sesukses apa hidup kita secara ekonomi, status sosial, secara kedudukan politik, dan lain sebagainya. Apalah daya, apalah gunanya, kalau kita tidak bahagia”, ungkap Ibu Nisa.

Beliau menampilkan bagaimana perayaan manusia itu justru memberikan dampak positif bagi kehidupan sosial masyarakat dan kehidupan ekonomi. Perayaan natal misalnya, membuat para penjual aksesoris natal seperti lampu-lampu natal, pohon natal mengalami sukacita natal melalui hasil menjual barang dagangannya. Atau misalnya dalam perayaan Idul Fitri, umat Kristen merayakannya dengan mengucapkan selamat bagi umat yang beragama Muslim. Karenanya, perayaan umat manusia adalah momentum semua umat beragama untuk bisa merayakan perayaan agama lainnya. Perayaan agama menjadi sarana untuk membangun rasa toleransi di antara umat beragama.

Sapardi Joko Darmono, dalam karyanya “Surat Dari Dan Untuk Pemimpin”, menyampaikan cita-cita bangsa Indonesia.

“Percayalah, tidak ada cara lain untuk memajukan bangsa ini kecuali dengan merayakan keberagaman”, Sapardi Joko Darmono.

TINGGALKAN BALASAN

Please enter your comment!
Please enter your name here