Sdr. Papin OFM

Sejatinya, membicarakan tema korupsi berkaitan erat dengan tingkah laku manusia yang tidak jujur, mencuri, menyalahgunakan wewenang, dan menilep uang rakyat untuk kepentingan pribadi atau kelompok. Akan tetapi sekarang ini, orang sering mengaitkan pembicaraan tentang korupsi dengan hewan, yakni tikus.

Berbagai bentuk pemberitaan media saat ini seringkali menampilkan tikus sebagai ‘maskot’ kejahatan korupsi. Kemudian, muncul pertanyaan: kenapa tikus dijadikan sebagai ‘maskot’ koruptor? Wong yang berbuat jahat manusia, kok hewan ikut-ikutan jadi ‘korban’ pencemaran nama baik? Apa salah tikus?

Bagi sebagian orang, pertanyaan semacam itu murahan. Tetapi, bagi sebagian lainnya pertanyaan-pertanyaan seperti itu justru menjadi inspirasi untuk menghasilkan karya yang mahal. Pertanyaan-pertanyaan semacam itulah yang menginspirasi Sdr. Asep, OFM bersama Sdr. Darmin, OFM untuk mengemas teater yang diberi nama ‘Tikus-tikus Nusantara’.

Malan ini, Kamis 25/8, pada acara penutupan pertemuan INFO-JPIC Indonesia, para frater OFM mencoba menjawab pertanyaan-pertanyaan sederhana di atas. Menurut Sdr. Damianus Asep Cahyno OFM, yang bersama Sdr. Darmin Mbula menyutradarai teater ini, “Tikus-tikus Nusantara hendak menyentil budaya politik korupsi sebagai akar perusak alam semesta sebagai taman eden. Korupsi turut menghancurkan kehidupan mahluk di bumi.”

Melalui teater ini juga, demikian Sdr. Asep cahyono,  ingin disampaikagala mahlukn suatu optimisme akan penyelamatan bumi dan se. “Belumlah terlambat untuk menyelamatkan Bumi sebagai rumah kita bersama. Krisis yang melanda di mana mana menumbukan kesadaran untuk menjaga bumi. Dibutuhkan tindakan moral-spiritual untuk mengharmonisasikan kembali alam semesta, menjalin kembali persaudaraan multikultrual dan universal. Di sinilah kita membutuhkan sosok yang berani dan membawa perubahan.”

 

Tikus Sawah Menjadi Tikus Nusantara

Terlukis dalam tampilan teater yang diangkat dari cerita rakyat Manggarai itu, konon tikus adalah sahabat dan penolong manusia. Tikus dalam bahasa Manggarai disebut lawo yang (konon) terbentuk dari dua kata: lami woja Lami artinya menjaga dan woja artinya padi.  Jadi, tikus memiliki peran dalam menjaga padi di ladang para petani. Pada waktu itulah bangsa manusia dan bangsa tikus hidup berdampingan dalam damai. Tikus menyandang peran ‘menjaga padi’ entah di ladang atau  juga sawah.

Malang segera datang ketika manusia mengusik keharmonisan itu dengan memburu tikus untuk dijadikan lauk pauk. Bangsa tikus yang merasa dirugikan karena tindakan manusia itu berbalik menyerang manusia dengan memakan segala hasil bumi manusia. Sejak saat itu, manusia dan tikus bermusuhan.

Kini, permusuhan itu terlihat makin  nyata dengan berkembangnya pandangan yang seolah menyudutkan tikus. Para koruptor yang rakus, serakah, dan munafik disamakan dengan sifat tikus yang rakus, menjijikkan, kotor, dan bahkan menjadi sumber penyakit.

Tikus-tikus itu pun keluar dari ladang dan sawah, melewati got-got, melebarkan jangkauan pengrusakan. Mereka segera mengenakan dasi dan menjangkau ruang-ruang di gedung mewah untuk kerja kantoran. Wartawan, yang malam itu diperankan Sdr, Yeri OFM,  membaca fenomen ini dan membuat liputan tentang tikus-tikus kantor.

Suatu sentilan kecil untuk k korupsi. Kejahatan luar biasa yang mewabah di negeri kita. Ia sudah menjadi penyakit yang menyerang seluruh sendi kehidupan bangsa. Seharusnya manusia sadar, penyakit korupsi itu tidak lagi identik dengan sifat-sifat tikus di luar sana, tetapi telah menjadi penyakit manusia di kedalaman dirinnya yang makin dangkal dan busuk. Masih pantaskah kita menyalahkan tikus?

Ketua INFO-JPIC Indonesia periode 2014-2016, Sdr. Mike Peruhe OFM, memberi apresiasi luar biasa untuk pementasan ini. Tikus-tikus Nusantara, kata Sdr Mike, mengungkapkan dengan bernas keresahan, kegelisahan, dan harapan peserta INFO-JPIC Indonesia ketika mengadakan pertemuan sepekan dengan tema “Memberantas Korupsi: Tanggung Jawab demi Keadilan dan Iman.

“Para frater ini menangkap dengan baik apa yang kita bicarakan dalam sepekan ini. Mereka menampilkannya dengan sangat menarik. Singkar namun sarat makna!” tegas Sdr. Mike.

Nasib tikus-tikus di bumi nusantara ini terlanjur sanjung sebagai binatang korupsi atau hewan koruptor. Sifat koruptor disamakan dengan sifat tikus yang konon tidak pernah puas.

Tikus pandai melacak apa yang tersembunyi dan membongkarnya untuk dinikmati. Ia kadang belajar bagaimana harus selamat dari incaran kucing. Koruptor melakukan yang sebaliknya. Ia pandai menyembunyikan apa yang enak untuk dinikmati sendiri. Ia melakukan segalanya untuk menyembunyikan hasil curian dengan sikap yang bagai tikus yang gentar disergap kucing. Namun tikus-tikus Nusantara rupanya tahu bagaimana caranya menjinakkan kucing. Bencana moral bangsa pun kian akut.

Koruptor pandai berkelit, bernegosiasi, dan bersembunyi. Bencana Tikus-tikus Nusantara hanya dapat dihentikan oleh orang-orang yang berhati nurani cerah, berbudi bening, dan bersahaja. Merekalah yang dibutuhkan dalam menegakkan hukum, mewujudkan keadilan, perdamaian dan keutuhan ciptaan. Adakah anda dan saya bagian dari mereka itu?

            Sdr. Alders Jangkar OFM

TINGGALKAN BALASAN

Please enter your comment!
Please enter your name here

2 × 2 =