Sebuah rumah sakit umum mesti di relokasi, kuburan dalam bahaya akan hanyut dan jutaan penduduk berjuang mengatasi kelaparan dan kekeringan menurut laporan terbaru yang dirilis oleh Caritas Australia.
Laporan dengan judul, ‘Hungry for Justice, Thirsty for Change – State of the Environment for Oceania’ dihasilkan oleh Caritas Australia dalam kerjasama dengan Caritas Aotearo dan Caritas Tonga.
Caritas adalah lembaga internasional dan bidang pengembang dari Gereja Katolik dan merupakan salah satu jaringan kemanusiaan terbesar di dunia.
Dokumen yang berisi laporan ini merupakan pengalaman nyata di Kepulauan Pasifik yang berjuang sebagai akibat dari perubahan iklim.
Paus Fransiskus tahun lalu mengumumkan ensiklik tentang ekologi humanis, Laudato Si (“Terpujilah Engkau”) mengenai Menjaga Rumah Kita Bersama, merupakan momen yang tepat bagi Gereja Katolik.
Ini merupakan undangan bagi komunitas global untuk mengindahkan “Tangisan bumi dan tangisan orang miskin”.
Tahun ini juga merupakan tahun Yubileum Kerahiman yang dideklarasikan Paus Fransiskus, di mana Gereja dipanggil untuk menyadari apa yang dapat dilakukan untuk menjangkau sesama yang membutuhkan.
Kita menanggapi Kristus yang bersabda dalam Injil Matius 25: “Ketika Aku lapar, kamu memberi aku makan; haus dan kamu memberi Aku minum.”
Lebih dari dua belas bulan terakhir, Pasifik – sebuah wilayah yang terkenal dengan kelimpahan makanan dan air – telah ditimpa berbagai macam bencana besar yang berkaitan dengan iklim, perubahan besar akibat El Nino. Hal ini mengakibatkan kira-kira lima juta masyarakat di 13 negara, mengalami kekurangan makanan dan air, kekurangan gizi, dan di beberapa kasus ekstrim, mengakibatkan kematian.
“Di negara saya, Kiribati, perubahan iklim sangat mengancam kehidupan kami. Kami mengalami kekurangan makanan dan air dan permukaan air laut yang semakin naik – sebuah realitas di mana anak-anak kami akan meninggalkan negerinya,” Kata Duta besar, Maria Tiimon, dalam laporannya.
Meningkatnya permukaan air laut dan erosi pantai, telah mengakibatkan rumah sakit umum di kepulauan Solomon mendesak untuk direlokasi, sebuah proyek yang kira-kira membutuhkan biaya sebesar 100 juta dolar Amerika. Pada empat kesempatan berbeda pasien, termasuk yang sakit kritis, ibu dan bay, telah dievakuasi setelah rumah sakit digenangi air.
Dalam menanggapi peristiwa ini, komunitas-komunitas lintas Pasifik menunjukkan ketahanan yang luar biasa dan para pemimpin di 14 negara lintas Oceania meratifikasi kesepakatan bersama tahun 2015 di Paris. Caritas Australia menerima pengumuman pemerintah Australia yang baru saja mengumumkan bahwa akan meratifikasi kesepakatan Paris di akhir tahun dan mengajak warga negara untuk menghentikan penggunaan bahan bakar fosil.
“Australia mesti menghormati kesepakatan yang dibuat di Paris dan mematok target emisi dalam hubungan dengan membatasi peningkatan temperatur global menjadi di bawah 1,5 derajat celcius.” Ungkap, Paul O’Callaghan, Pemimpin Umum Caritas.
Caritas juga diundang pemerintahan untuk mengumpulkan dana yang disediakan untuk negara-negara Pasifik yang sangat rentan dengan perubahan iklim ini.
“Negara-negara lintas Oceania adalah termasuk yang sangat dipengaruhi oleh perubahan iklim meskipun mereka minimal berkontribusi juga di dalamnya. Australia perlu berkontribusi untuk secara adil memberikan dana untuk mendukung negara-negara yang rentan untuk beradaptasi dengan perubahan iklim, melebihi dan di atas budget yang ada.
“Sebagai karya dunia untuk mengatasi masalah krisis perubahan iklim yang semakin kritis menuntut agar suara-suara dari Kepulauan pasifik harus terus menerus didengar.” Caritas diajak berbicara di hadapan publik Australia berkaitan dengan solidaritas dengan sesama di daerah Pasifik.
Redaksi.
Sumber: Caritas Internasional.
















