Teologi pada setiap zaman menempatkan pikirannya sendiri pada Yesus: hal itu sesungguhnya merupakan cara bagaimana membuat Yesus hidup. Foto: Yoga For Modern Age

David G. Horrrell[*]

Penulis surat Ibrani nampaknya yakin bahwa Yesus tetap “sama, kemarin, hari ini dan selama-lamanya” (Ib.13:8). Gambaran tentang Yesus terus-menerus muncul dalam setiap generasi.

Gambaran-gambaran tersebut muncul berhubungan dengan agenda-agenda dan isyu-isyu yang sedang menjadi perhatian. Yesus disebut sebagai pelopor yang mengantisipasi ,dan dengan demikian, membenarkan  kepentingan-kepentingan dan komitmen-komitmen yang muncul pada masa sekarang.

Untuk sebagian orang, Yesus adalah pembebas, seumpama dengan seorang revolusioner sosialis yang merintis gerakan demi transformasi radikal dalam bidang sosial, ekonomi dan politik. Bagi yang lain Yesus adalah seorang pelopor gerakan feminis yang menyatakan dan mempraktekkan kesetaraan yang melampaui adat-istiadat dan perbedaan jender.

Masih banyak lagi contoh lain. Tentu saja, pribadi Yesus berada pada pusat teologi Kristen, dan karena itu adalah wajar bahwa para teolog dan etisis Kristen, pertama-tama akan mengacu kepada Yesus jika mereka mau mengajukan argumen berkaitan dengan keyakinan serta perilaku Kristiani.

Ketika sejumlah penulis Kristen ingin mengajukan argumentasi yang mendukung vegetarianisme – suatu contoh topik yang dekat dengan ekologi –  maka dapat dimengerti jika mereka mengacu kepada pribadi Yesus, dengan mengajukan bahwa dalam hidup-Nya Yesus mempraktekkan vegetarianisme etis.

Mereka mengatakan bahwa tidak ditemukan fakta dalam Injil bahwa Yesus makan daging. Suatu kekecualian mungkin dalam perjamuan Paskah, tetapi itu pun tak pasti. Andrew Linsey mengatakan “tidak seluruhnya jelas bahwa Yesus makan daging dalam perjamuan Paskah” (Linzsey, 1994: 132).

Linzsey mengatakan bahwa Yesus makan ikan (sejumlah penulis bahkan lebih jauh mengatakan bahwa Yesus yang vegetarian secara salah digambarkan seolah-olah makan ikan sebagaimana ada dalam Injil Sinoptik) dan hal tersebut membutuhkan tanggapan lebih jauh (pp.132.134).

Menurut  Linzsey, “sesewaktu dapat dibenarkan mengambil ikan untuk dimakan ketika sungguh membutuhkan … kebutuhan mendesak demi mempertahankan hidup, sebagaimana terjadi pada Yesus sendiri” (pp.134-5). Lebih jauh lagi, dalam Injil Yesus juga menidentifikasikan dirinya dengan binatang (p.135).

Stephen Webb menemukan cukup bukti untuk menyebut Yesus sebagai “pencinta binatang: (Webb, 2001:137), yang dapat dikelompokkan ke dalam “vegetarian bebas” yang tidak makan daging jika hal itu selaras dengan pelayannya, tetapi tidak terikat pada pilihan diet seperti itu” (pp. 134-135).

Mengacu kepada kategori-kategori yang disampaikan pada bab 1, dapat disimpulkan bahwa beberapa interpretasi tersebut merupakan contoh dari cara membaca Injil untuk menemukan sesuatu.

Dengan lain perkataan, kendati apa yang digambarkan tentang Yesus sebelumnya, tidak menampilkan hal-hal tersebut, namun interpretasi baru memperlihatkan bahwa Yesus mendukung dan sejalan dengan komitmen orang-orang Kristen masa kini, apakah sebagai liberasionis, feminis, vegetarian, atau apa saja.

Yesus Pelopor Pejuang Lingkungan

Tidaklah mengherankan, bahwa para penulis eko-teologis berpaling kepada gambaran tentang Yesus dalam Injil, dan menemukan bahwa Yesus merupakan model bagi kepedulian pada lingkungan dan ciptaan Allah.

Melawan tuduhan negative dari Lynn White dan yang lainnya, bahwa tradisi Kristen mendorong agresivitas manusia dalam menguasai dan mengeksploitasi alam, pendekatan ekoteologis menunjukkan gambaran positif yang ditemukan dalam KS, khususnya dalam Injil.

Sean McDonagh misalnya menulis: “Teologi Kristen mengenai lingkungan hidup mesti belajar banyak dari sikap hormat yang diperlihatkan Yesus terhadap dunia ciptaan.

Dalam Perjanjian Baru tidak ditemukan sikap boros pada masyarakat, yang merusak dunia ciptaan dan menghasilkan tumpukan sampah yang tidak dapat terurai … para murid Yesus diminta untuk menjalani hidup hemat di dunia … Yesus menunjukkan kedekatan dan keakraban dengan pelbagai jenis ciptaan Allah serta proses-proses yang ada dalam alam.

Ia sama sekali tidak terdorong oleh sikap menguasai dan mengontrol dunia ciptaan. Dia lebih memperlihatkan sikap hormat dan kontemplatif terhadap ciptaan. Injil mengatakan bahwa alam memainkan peran penting dalam hidup Yesus” (Bdk. Sean McDonagh, 1990, 158; juga Sean McDonagh 1994:140).

McDonagh kemudian menambahkan bahwa Yesus menjalani masa “formasi” di “padang gurun”, dan secara teratur berangkat ke bukit untuk berdoa” dan menyampaikan ajaran-Nya “dengan mengacu kepada bunga bakung (Lk.12:27), burung di udara (Mt.6:26) dan serigala (Lk.9:58)” (hlm. 158-159).

Para penulis lain menyampaikan bahan-bahan yang sama, dengan mengutip Yesus yang mengajarkan tentang perhatian Allah kepada burung-burung (Mt.6:26; 10:29; Lk.12:6,24), serta bunga (Mt.6:28) atau mengutip pelbagai perumpamaan Yesus yang mengangkat alam dan pertanian (Mt.13; Mk.4:1-20.26-32; Yoh.15:1-8). Hal-hal yang disampaikan Yesus dalam ajaran-Nya menunjukkan bahwa Allah memelihara ciptaan dan memperlihatkan kepekaan Yesus pada ciptaan (Cooper 1990:172.219; Northcott 1996:224-225; Hill 1998:80-82).

Para penulis ekoteologis nampaknya memberi perhatian pada teks-teks favorit atau penting dalam Injil. Hal ini memperlihatkan bahwa hanya sedikit materi yang jelas-jelas memiliki relevansi ekologis dalam Injil: Yesus tidak berbicara, sekurang-kurangnya tidak eksplisit,  tentang hubungan manusia dengan ciptaan atau tentang tanggungjawab manusia terhadap binatang, tanaman atau bumi pada umumnya.

James Jones telah mencoba mengacu kepada  teks-teks yang dengan jelas menyebutkan ciptaan (2003). Dia mengacu kepada teks-teks yang berbicara tentang peran Putera Manusia. Beberapa dari teks-teks itu mengacu kepada bumi, misalnya Mt.8:26: Yesus berkuasa atas bumi.

Menurut Jones bumi merupakan medan misi Yesus, serta mengandung tanda tentang komitmen Yesus (dan Allah) kepada bumi, sekarang dan di masa depan. (hlm.20). Jones juga mengacu kepada sejumlah binatang yang disebut dalam Injil, dan seperti McDonagh, hal itu menunjukkan bahwa Yesus menghidupi suatu kehidupan yang berhubungan dengan alam, makhluk ciptaan dan tanah.

Itulah sebabnya pemikiran Jones menampilkan gambaran tentang alam dan jenis-jenis ciptaan Allah (hlm.5). Singkatnya, misi dan ajaran Yesus bukan tentang bagaimana manusia melarikan diri dari alam menuju ke surge, tetapi sebaliknya justru memadukan sorga dan bumi, sebagaimana disampaikan dalam doa yang diajarkan-Nya: “Jadilah kehendak-Mu di atas bumi seperti di dalam sorga” (Mt. 6:10) Putera Manusia, Yesus,adalah tokoh sentral untuk membumikan surga dan mensurgakan bumi (hlm.60).

Catatan Kritis : Menjadikan Yesus sesuai Gambaran kita.

Gagasan-gagasan tentang Yesus, sebagai pembebas, pelopor feminis, vegetarian atau pelopor peduli lingkungan, merupakan upaya untuk menampilkan gagasan tentang Yesus, siapa Dia sesungguhnya,  berdasarkan sumber-sumber KS.

Jones misalnya menegaskan bahwa dia mencoba mengambil gambaran tentang Yesus dari teks KS kendati tidak eksplisit menulis tentang Yesus dan lingkungan atau ciptaan. McDonach menampilkan gambaran tentang Yesus dengan mengutip banyak teks Injil yang menggambarkan relasi Yesus dengan ciptaan.

Nampaklah bagaimana agenda-agenda dan keprihatinan kontemporer yang mendesak,  mempengaruhi bagaimana para penulis merumuskan pertanyaan dan menemukan jawabannya dalam Yesus.

Albert Schweitzer sudah menyampaikan kritiknya terhadap penulisan tentang hidup Yesus, yang dibuat mendahului studi sejarah, di mana para penulis menghadirkan Yesus menurut gambaran mereka sendiri, menaruh pandangan moral mereka sendiri yang seolah-olah  sudah diantisipasi dan disampaikan oleh Yesus. Schweitzer menulis:

“Teologi pada setiap zaman menempatkan pikirannya sendiri pada Yesus: hal itu sesungguhnya merupakan cara bagaimana membuat Yesus hidup. Tetapi hal itu bukan hanya terjadi pada setiap zaman, setiap pribadi pun menciptakan Yesus sesuai dengan karakternya sendiri. Tidak ada satu tulisan sejarah yang sedemikian menyingkapkan diri seseorang sebagaimana dalam tulisn tentang hidup Yesus. (Schweitzer 2000 (1913):6).

Karena itu tidaklah mengherankan bahwa Sean McDonagh, seorang environmentalis dan teolog, menemukan dalam diri Yesus suatu model pribadi yang melawan konsumsi berlebihan, dan menunjukkan cinta kontemplatif dan keprihatinan pada lingkungan; tidak mengherankan bahwa Webb, menemukan priabadi Yesus sebagai model vegetarian bagi orang-orang Kristen. Sejauh mana hal ini merupakan suatu persoalan, atau sesuatu yang mesti dihindari, akan kita dalami di sini.

Pertama, perlu secara singkat mendalami teks-teks yang memperlihatkan Yesus yang peduli pada ciptaan. Bagaimana mungkin, misalnya McDonagh,  tidak melihat kisah Yesus menenangkan gelombang (Mk.35-41), juga Yesus yang berjalan di atas air (Mk.6:48-50), memperbanyak roti (Mk.6:47-51), membangkitkan orang mati (Yoh 11:38-44), dst., sebagai kisah-kisah yang membantah apa yang dikatakannya bahwa Yesus tidak terdorong oleh keinginan untuk menguasai dan mengontrol alam? (1990:158).

Juga, sekurang-kurangnya dapat dipertanyakan, apakah babi-babi yang terjun ke danau dan mati (Mk. 5:11-13; Lk. 8:32-33) atau pohon ara yang menjadi kering (Mk. 11:12-14.20-21; Mt.21:18-20) menunjukkan bahwa pemerliharaan Allah atas ciptaan termaktub dalam pelayanan Yesus, sebagaimana dikatakan Tim Cooper (1990:218); apakah, teks-teks itu menuturkan apa yang dikatakan McDonagh bahwa Yesus memiliki sikap hormat dan kontemplatif terhadap ciptaan (1990:158); atau dengan pernyataan Michael Northcott bahwa Yesus hidup dalam relasi yang amat harmonis dengan ciptaan (1990:224).

Hal yang diterima umum, yang merupakan dasar gagasan Jones, adalah bahwa Yesus dalam ajaran-Nya mengacu kepada binatang, tanaman dan bumi. Namun hal itu tidak perlu diartikan bahwa Yesus mempromosikan pemeliharaan dan hormat pada ciptaan.

Yang utama dari gambaran-gambaran itu adalah bahwa Yesus hidup pada masa agraris pra-industri, dengan demikian gagasan pastoral dan pertanian seperti itu merupakan konteks dan isi dari kehidupan masyarakat setiap hari.

Seperti pada masa kita ini, pun, pesawat terbang dan pasar uang, demikian juga Yesus, dalam perumpamaan-Nya menyebut tentang menabur, memanen, kebun anggur, padang, burung dan bunga-bunga. Yang perlu diperhatikan adalah bahwa Yesus tidak pernah menarik implikasi dari gagasan-gagasan alami itu, seperti misalnya agar para murid memelihara bunga-bunga dan memperhatikan burung-burung dan alam sekitarnya.

Dan, apa yang dikatakan Jones, memang jelas dan benar bahwa bumi merupakan arena di mana Putera Manusia menjalankan misi serta memperlihatkan kekuasaan-Nya. Fakta bahwa bumi adalah tempat Yesus hadir dan berkarya sama sekali tidak perlu menarik suatu kesimpulan khusus dari padanya.

Tentu saja, teks yang sering dikutip untuk menyatakan pemeliharaan Allah atas ciptaan dan bunga-bunga, adalah sbb:

“Karena itu Aku berkata kepadamu: janganlah kuatir akan hidupmu, akan apa yang hendak kamu makan atau minum, dan janganlah kuatir pula akan tubuhmu, akan apa yang hendak kamu pakai. Bukankah hidup itu lebih penting dari pada makanan dan tubuh itu lebih penting dari pada pakaian?

Pandanglah burung-burung di langit, yang tidak menabur dan tidak menuai dan tidak mengumpulkan bekal dalam lumbung, namun diberi makan oleh Bapamu yang di sorga. Bukankah kamu jauh melebihi burung-burung itu? Siapakah di antara kamu yang karena  kekuatirannya dapat menambah sehasta saja pada jalan hidupnya?

Dan mengapa kamu kuatir akan pakaian? Perhatikanlah bunga bakung di ladang, yang tumbuh tanpa bekerja dan tanpa memintal, namun Aku berkata kepadamu: Salomo dalam segala kemegahannya pun tidak berpakaian seindah salah satu dari bunga itu. Jadi jika demikian Allah mendandani rumput di ladang, yang hari ini ada dan esok dibuang ke dalam api, tidakkah Ia akan terlebih lagi mendandani kamu, hai orang-orang yang kurang percaya?: (Mt. 6:25-30; Lk.12:22-28).

Teks ini tentu saja melukiskan tentang pemeliharaan Allah atas seluruh ciptaan: Allah memberi makan kepada burung-burung dan pakaian kepada bunga-bunga. Tetapi ayat terakhir menegaskan bahwa teks ini berbicara tentang gagasan mengenai betapa tingginya nilai hidup manusia. Teks ini adalah teks antroposentris.

Lagi pula, keindahan bunga terjadi sebagai proses transisi vegetasi, hari ini ada di sini dan esok dibuang. Jadi, sesungguhnya fokus teks ini adalah tentang pemeliharaan Allah atas hidup manusia, untuk menanggapi kuatnya kecemasan manusia akan hidupnya.

Hal itu sesungguhnya menggambarkan situasi para murid, yang telah meninggalkan rumah dan keluarga, serta sandaran pokok hidup mereka, untuk mengikuti Yesus. Kelompok misionaris pengembara ini atau kelompok kharismatik perantau, sebagaimana dikatakan Gerd Theissen, dalam esai yang terbit di Jerman 1973, merupakan kelompok inti dari gerakan Kristiani. Theissen memberikan suatu kritik terhadap pemahaman anakronis dan romantik tentang teks ini.

Theissen menulis: “Kita tidak boleh membaca teks ini seolah-olah seperti jalan-jalan santai di sore hari Minggu bersama keluarga. Teks ini tidak berbicara tentang burung dan bunga-bunga, dan padang rumput hijau. Sebaliknya: apa yang disampaikan di sini adalah mengenai kehidupan yang keras dari kelompok kharismatik yang berkeliling, tanpa jaminan hidup, tanpa rumah dan naungan; orang-orang yang menyusuri desa-desa tanpa harta milik dan pekekrjaan” (Theissen 1993:39-40).

Karena itu, tampaknya apa yang terlihat relevan dari perkataan Yesus, sebagai dasar bagi tindakan dan ajaran berkaitan dengan teologi dan etika lingkungan hidup, nampaknya hanya sedikit. Gagasan tentang pemeliharaan Allah atas ciptaan sesungguhnya pun dapat muncul dari KS.

[*] David G. Horrell adalah pengajar Perjanjian Baru dan Direktur Pusat Studi Kitab Suci, pada Universitas EXETER. Inggris. Artikel ini adalah terjemahan dari bab 6 bukunya yang berjudul: The Bible and the Environment, 2010, yang dibagi menjadi dua bagian. Diterjemahkan oleh Sdr. Peter C. Aman OFM.

TINGGALKAN BALASAN

Please enter your comment!
Please enter your name here

fifteen + 14 =