Mengatasi Ketidakpedulian dan Memenangkan Perdamaian

(Pesan Paus Fransiskus untuk Hari Perdamaian Dunia

0
3692
Paus Fransiskus (www.google.co.id)

Dalam rangka merayakan Hari Perdamaian Dunia yang jatuh pada 1 Januari setiap tahun, Paus Fransiskus, pada tahun 2016 ini, menyampaikan pesannya kepada umat manusia di bawah tema: Mengatasi Ketidakpedulian dan Memenangkan Perdamaian. Dalam pesannya, Paus mengakui bahwa realitas kehidupan saat ini menunjukkan kepada kita ketimpangan dalam berbagai segi kehidupan antara lain peperangan dan terorisme, penindasan terhadap agama dan etnis, serta penyalahgunaan kekuasaan.

Di balik peristiwa-peristiwa tersebut, Paus mengajak kita untuk selalu berharap kepada Tuhan sebagai sang sumber pengharapan. Melalui peristiwa-peristiwa seperti itu, demikian Paus Fransiskus, kekuatan kita diuji. Kita ditantang untuk menunjukkan solidaritas dan melawan keegoisan, mengatasi apatisme dan ketidakpedulian kita untuk menghadapi krisis yang terjadi dalam kehidupan setiap hari.

Mempertahankan Alasan Kita Berharap

Dalam pesannya, Paus Fransiskus menyebutkan beberapa peristiwa yang terjadi selama tahun 2015. Tercakup dalam daftar itu, pentingnya kepedulian dan upaya menemukan cara baru menghadapi perubahan iklim, peringatan 50 tahun konsili vatikan II dan peringatan tahun belas kasih (kerahiman). Konsili Vatikan II pun telah menghasilkan dua dokumen penting dalam Gereja yaitu Nostra aetate dan Gaudium et Spes. Kedua dokumen itu berbicara secara tegas tentang sikap gereja yang terbuka dan solider kepada dunia. Dalam Nostra Aetate, Gereja mengatakan keterbukaannya kepada dunia melalui dialog kepada umat non-kristen.

Sedangkan melalui Gaudium et Spes, yang didasarkan pada pengakuan bahwa sukacita dan pengharapan, kesediaan dan pederitaan orang zaman ini, khususnya mereka yang miskin dan menderita, adalah sukacita dan pengharapan, kesedihan dan penderitaan orang-orang Kristen juga, Gereja menawarkan dialog kepada seluruh umat manusia untuk menangani masalah dunia saat ini, sebagai bentuk solidaritas, hormat dan kasih sayang terhadap sesama.

Sejalan dengan itu, dengan memperingati tahun belas kasih, Paus Fransiskus juga mengajak Gereja untuk berdoa dan bekerja sehingga setiap orang Kristen mempunyai kerendahan hati dan berbelas kasih kepada orang kecil dan sederhana. Karena itu, beliau mengharapkan kita untuk belajar “memaafkan dan memberi”; untuk menjadi lebih terbuka kepada kehidupan mereka yang terpinggirkan dan melawan ketidakpedulian yang mencegah kita untuk menemukan hal-hal yang baru.

Paus asal Argentina ini juga menambahkan bahwa ada banyak alasan yang baik untuk membangun tindak bersama dalam solidaritas dan untuk menunjukkan kepedulian terhadap orang miskin dan sederhana. Kita mempunyai tanggung jawab bersama yang berakar pada panggilan dasar kita untuk membangun persaudaraan, serta martabat pribadi yang diberikan Allah yang menciptakan manusia menurut gambar dan rupa-Nya.

Sebagai makhluk yang diberkati dengan martabat yang tak dapat dicabut, kita berhubungan dengan saudara-saudara kita, untuk siapa kita bertanggung jawab, dan dengan siapa kita bertindak dalam solidaritas. Apabila kita tidak memiliki kesadaran ini maka kita dapat dikatakan kurang manusiawi. Untuk itu, Bapa Suci menegaskan bahwa kita harus membawa keyakinan-keyakinan itu untuk mengatasi ketidakpedulian dan memenangkan perdamaian.

Bentuk-bentuk Ketidakpedulian

Paus Fransiskus kemudian menyoroti berbagai bentuk ketidakpedulian dalam masyarakat. Pertama, ketidakpedulian kepada Allah, yang pada giliranya, menyebabkan ketidakpedulian terhadap sesama dan lingkungan. Keyakinan ini membuat orang merasa cukup dengan dirinya sehingga menjadi apatis terhadap segala peristiwa yang terjadi di sekitarnya. Orang berpikir bahwa dirinya merupakan sumber dari segala sesuatu. Dia merasa cukup dengan dirinya sendiri, dengan tidak hanya mencari pengganti Tuhan tetapi lebih dari itu, ia ingin hidup tanpa Tuhan. Sebagai konsekuensinya, orang tersebut tidak mempunyai tanggung jawab terhadap orang lain. Keadaan seperti ini akan menghasilkan ketidakadilan dan ketimpangan sosial yang mengarah kepada konflik dan kekerasan. Demikian juga, pencemaran lingkungan muncul dari perilaku tersebut dan pada gilirannya menimbulkan situasi baru yaitu ketidakamanan dan ketegangan di tingkat internasional.

Paus juga membahas apa yang disebut sebagai “ketidakpedulian rahmat” seperti yang terlihat pada peristiwa Kain yang membunuh saudaranya Abel. Melalui Peristiwa itu, paus menunjukkan bagaimana persaudaraan itu dikhianati sejak awal mula. Kain dan Abel bersaudara. Mereka lahir dari Rahim yang sama dengan martabat yang sama dan diciptakan menurut gambar dan rupa Allah.

Tetapi hubungan mereka sebagai saudara menjadi hancur karena kedengkian. Kain menjadi tidak peduli dengan saudaranya. Namun Allah tidak tinggal diam karena darah Habel mempunyai nilai yang sangat berharga di mata-Nya dan Allah meminta kain memberikan penjelasan tentang peristiwa itu. Dari sini kita dapat melihat intervensi Allah yang tidak hanya mengamati hidup kita tetapi dia sendiri mengambil bagian dalam kehidupan umat manusia.

Dengan cara yang sama, melalui Yesus, Allah menjelma menjadi manusia. Dia mengambil bagian dalam kehidupan manusia dan menunjukkan solidaritas dengan manusia dalam segala hal, kecuali dalam hal dosa. Dia tidak hanya peduli kepada manusia tetapi juga kepada seluruh makhluk ciptaan. Dia juga menyentuh kehidupan masyarakat, ia berbicara kepada mereka, membantu mereka dan menunjukkan kebaikan kepada mereka yang membutuhkan.

Dengan peristiwa-peristiwa yang memperlihatkan belas kasih Allah yang melampau segala sesuatu, Paus Fransiskus mengajak kita untuk membantu meringankan penderitaan orang-orang yang ada di sekitar kita. Sebab Kita dipanggil untuk berbelas kasih dan bersolidaritas dalam hubungan dengan sesama serta dituntut untuk menerima kehadiran orang lain sebagai rahmat Allah. Karena itu, paus sekali lagi menegaskan bahwa kita harus membangun budaya solidaritas untuk mengatasi ketidakpedulian.

Solidaritas itu dimulai dari keluarga yang merupakan tempat pertama, di mana cinta, persaudaraan, dan kepedulian terhadap sesama diwujudkan dan dikembangkan. Di samping itu, Paus Fransiskus juga berbicara tentang peran guru. Dia menegaskan bahwa para pendidik harus sadar bahwa tanggung jawab mereka mencakup juga aspek moral, spiritual dan kehidupan sosial dengan nilai-nilai kebebasan, saling menghormati, dan solidaritas.

Di akhir surat tersebut, Paus Fransiskus mengajak semua orang untuk terlibat aktif mewujudkan kepedulian kepada orang yang menderita. Dalam nada yang sama kita pun diajak untuk peduli terhadap saudara-saudara kita yang lain dengan mulai dari hal-hal kecil, misalnya saling tegur sapa, menemukan hal-hal yang positif yang ada pada saudara-saudara, teman, dan keluarga kita. Oleh karena itu, marilah kita membangun kehidupan bersama dengan semangat belas kasih Allah supaya kehadiran kita dapat memberikan efek positif bagi kehidupan orang lain yang ada di sekitar kita.

Sdr. Albertus Dino, OFM, Biarawan Fransiskan, Tinggal di Jakarta

TINGGALKAN BALASAN

Please enter your comment!
Please enter your name here

nine − 9 =