Selasa Prapaskah III
“Tuhan, sampai berapa kali aku harus mengampuni saudaraku jika ia berbuat dosa terhadap aku?” (Mat 18:21)
RENUNGAN, JPIC Indonesia – Pengampunan sangat mungkin merupakan hal yang paling sulit walaupun merupakan hal dasar yang diperlukan bagi orang-orang yang tinggal di komunitas. Kiranya kita semua termasuk di dalamnya.
Suatu hari dua dari antara mereka berjalan bersama dan berpapasan dengan seorang sinting. Orang itu mulai melempari mereka dengan batu. Ketika yang satu melihat bahwa batu dilemparkan kepada yang lain, ia segera menempatkan dirinya tepat di tempat batu itu berjatuhan. Ia lebih ingin sendiri terkena batu daripada saudaranya karena kasih timbal balik yang berkobar-kobar.
Begitu mereka siap sedia mengurbankan hidupnya seorang bagi yang lain. Memanglah mereka berlandaskan kerendahan hati dan kasih dan berurat-berakar di dalamnya, sehingga yang seorang menghormati yang lain sebagai bapa dan tuannya. Mereka yang memangku tugas kepemimpinan atau menonjol karena salah satu karunia khas nampak lebih rendah dan hina daripada yang lain…
Sekuat tenaga mereka berdaya-upaya menentang setiap cacat-cela melalui keutamaan yang berlawanan tertolong oleh kasih karunia Kristus yang mendahului dan terus membantu. Kecuali itu mereka tidak menghaki apa saja sebagai milik mereka. Buku-buku dan lain-lain barang yang dihadiahkan kepada mereka, dipergunakan dalam kebersamaan, sesuai dengan pola hidup yang diwariskan dan ditepati para rasul.
Baca Juga: Prapaskah Bersama St. Fransiskus Assisi: “Nabi-Nabi Sejati”
















