Para Fransiskan di seluruh dunia berkomitmen melindungi dan melestarikan ciptaan. Bersama sejumlah orang lainnya yang memiliki komitmen serupa, mereka merayakan Hari Lingkungan Hidup (World Environment Day) dan juga peringatan satu tahun terbitnya ensiklik Laudato Si’.
Kepada semua yang berkehendak baik, ensiklik Laudato Si’ ditulis Paus Fransiskus satu tahun lalu. Diterbitkan tepat pada Hari Raya Pentakosta, 24 Mei 2015, di tahun ketiga masa kepausannya, Laudato Si’ mengundang semua orang untuk menyadari keadaan Saudari Bumi, Ibu yang disakiti oleh anak-anaknya. Selasa, 24 Mei 2016, Ensiklik yang menyoroti persoalan lingkungan hidup ini genap satu tahun.
Inilah beberapa cerita kecil yang bisa dibagikan untuk memupuk harapan bahwa penyelamatan bumi, rumah kita bersama, adalah proyek bersama jutaan manusia yang tersebar di berbagai belahan planet ini.
Para Fransiskan di Filipina, dipimpin koordinator nasional mereka Sdr. Dexter Toledo OFM, berpartisipasi dalam peringatan satu tahun Laudato Si’ dan dideklarasikannya Global Catholic Climate Movement cabang Filipina. Para pembicara diundang untuk berdiskusi terkait bagaimana Laudato Si’ telah menuntun ke aksi-aksi konkret menyelamatkan ciptaan.
Kegiatan dilanjutkan dengan Ekaristi. Setelahnya dilangsungkan sebuah upacara di mana para peserta menaruh daun/lembaran yang sudah bertuliskan nama mereka pada “Pohon Komitmen dan Harapan bagi Rumah kita Bersama” sebagai janji untuk menjaga lingkungan hidup.
Para Fransiskan di Colombia mengadakan workshop dengan tema ‘Fransiskanisme dan Masyarakat”. Realitas sosial dan politik Colombia dipelajari dari sudut pandang pemikiran Fransiskan terkait dua tema: persaudaraan dan keadilan.
Kegiatan ini dilaksanakan atas kerja sama komisi JPIC dan Sekretaris Bina Lanjut (Ongoing Formation), Misi dan Evangelisasi, dan didukung oleh Universitas St. Bonaventura.
Selanjutnya, Sabtu, 18 Juni, pada peringatan satu tahun Laudato Si’, perwakilan dari berbagai kelompok pastoral dari Colombia Timur berkumpul di Villavicencio di Paroki Kanak-kanak Yesus untuk sebuah workshop.
Di Kenya, orang dari segala penjuru merayakan Hari Lingkungan Hidup dengan melibatkan diri dalam kegiatan untuk melindungi lingkungan hidup. Tema tahun ini adalah perdagangan illegal satwa liar yang merupakan ancaman bagi keanekaragaman hayati.
Dalam kemitraan dengan sejumlah Organisasi setempat, termasuk perwakilan OFM, United Religions Initiative (URI) menyelenggarakan konferensi di Nairobi, Kenya, dengan tema “Peran Organisasi berbasiskan Iman dan Pemimpin Religius dalam Perlindungan Lingkungan dan Perjuangan Melawan Perdagangan Satwa Liar secara illegal di Afrika.
Di Nairobi, para partisipan memengusulkan “Kaidah Hijau” (Green Rule) yakni “Lakukan terhadap Bumi apa yang kamu ingin bumi lakukan terhadapmu” dan melihatnya sebagai faktor pemersatu antara agama terkait perawatan lingkungan hidup.
URI-Afrima juga memberikan pengharkgaan kepada Jaringan Ibu Bumi (Mother Earth Network) untuk mengapresiasi karya mereka terhadap bumi, termasuk penanaman satu juta pohon di Kenya. Pada akhir acara, empat pohon ditanam di kompleks pusat Konferensi Desmond Tutu sebagai simbol komitmen lintas agama untuk upaya pelestarian lingkungan hidup.
Di Jakarta, beberapa Fransiskan, biarawati, dan awam, merayakan peringatan satu tahun Laudato Si’ dalam ibadat ekologi dan perayaan Ekaisti, Selasa (24/5), di Komunitas St. Yosep Kupertio, Tanah Tinggi, Jakarta Pusat.
“Kita adalah kelompok kecil dari banyak kelompok lainnya di dunia yang pada hari ini merayakan satu tahun terbitnya Ensiklik Paus Fransiskus, Laudato Si’ ” kata Sdr. Peter C. Aman, membuka perayaan sore itu.
“Laudato Si’” lanjutnya “memiliki arti penting bagi kita, khususnya para Fransiskan. Sebab Santo Fransiskus Assisi, pendiri ordo ini (OFM) mendapat tempat sentral dalam Ensiklik Paus. Melalui Ensiklik ini Paus mengingatkan kita akan kekayaan spiritualitas fransiskan yang begitu kaya namun seringkali kita kurang mendalaminya.”
Redaksi
Sumber:www.franciscan.org
www.jpicofm-ndonesia.com
















