Jujur dan Bersyukur adalah nilai yang harus dimiliki dan dihidupi oleh setiap orang
Jakarta – GSS. Tim divisi Animasi dan Advokasi JPIC Suster-Suster FSGM Lampung yang dikomandani oleh Sr. Valentina FSGM melakukan animasi tentang ‘anti korupsi’ dan ‘anti perdagangan orang’ kepada anak-anak Panti Asuhan, Remaja Katolik dan OMK di Pasang Surut Wilayah Sumatera Selatan Keuskupan Palembang pada pada 17 – 30 Januari 2017 lalu.
“UCIL” Koruptor Kecil dan Perdagangan Orang merupakan materi yang diberikan dalam animasi tersebut. Menurut Sr. Valentina FSGM, penting sekali sejak dini anak-anak, remaja dan pemuda diberi pengetahuan dan penyadaran tentang bahaya korupsi bagi kehidupan bersama.
“Memberantas korupsi dimulai sejak dini, dimulai dari hal-hal sederhana misalnya tidak mencotek atau ketika beli gorengan 5 ya dibayar 5,” kata Sr. Valentina saat dihubungi via telpon.
Lebih lanjut Sr. Valentina mengatakan korupsi adalah perbuatan tidak jujur. Jika orang memiliki kejujuran dan sikap bersyukur atas hidupnya pasti ia tidak akan melakukan korupsi.
“Jujur dan bersyukur adalah nilai yang harus dimiliki dan dihidupi sehingga tidak mudah tergoda untuk melakukan korupsi”, jelas Sr. Valentina.
Anti Perdagangan Orang
Materi lain adalah kampanye tentang bahaya perdagangan orang yang semakin marak terjadi di Indonesia.
“Kebanyakan korban perdagangan orang adalah perempuan dan anak-anak. Sejak dini anak-anak juga harus diberi pengetahuan dan kesadaran mengenai bahaya perdagangan orang yang melibatkan orang-orang terdekat,” demikian Sr. Valentina.
Itulah yang membuat kami dari JPIC FSGM sangat aktif dalam kampanye bahaya perdagangan orang baik kepada anak-anak maupun orang tuanya.
“Harapannya sederhana saja. Dengan sosialisasi bahaya perdagangan orang, anak-anak lebih peka dan hati-hati dalam pergaulan. Maraknya jual beli orang, seperti kakak kelas menjual adik kelas atau sebaliknya. Semoga dengan pengetahuan yang mereka dapatkan dari animasi ini mereka lebih hati-hati terhadap tawaran-tawaran yang meggiurkan,” jelas Sr. Valentina.
Para peserta yang mengikuti animasi merasa senang dan bersyukur mendapat pengetahuan baru. Menurut Wisnu, salah satu anggota tim, para peserta menyatakan komitmen mereka untuk lebih mampu berani bersikap jujur dan bersyukur untuk mencegah keinginan melakukan korupsi hal-hal kecil dalam kehidupan mereka. Mereka juga akan lebih hati-hati dalam bergaul agar tidak terjebak dan menjadi korban perdagangan orang.
Seluruh acara animasi dikemas dalam nuansa orang muda seperti game dan outbound. Tidak lupa juga peserta juga disuguhi dengan doa-doa yang dikemas secara kreatif.
“Moga acara seperti ini dapat dilakukan di tempat lain juga demi menghindarkan anak-anak dari korupsi dan perdagangan orang”, demikian harapan Sr. Valentina.***
Valens D
















