Luka Masih Menyengat: Jangan Ajari Kami Cara Berkompromi!
Flores-Lembata, 18 Juli 2026
Kepada Yth.
- Rektor, Dosen, dan Peneliti UNPAR Bandung, IFTK Ledalero, Unika St. Paulus Ruteng
- Pemerintah Pusat & Daerah, PT PLN (Persero), dan Seluruh Perusahaan Pengembang
- Para Uskup, Imam, Tokoh Agama, dan Seluruh Pemimpin Lembaga Keagamaan
Kami menulis surat ini bukan dari ruang seminar yang dingin, melainkan dari tanah-tanah yang saban hari kami basahi dengan keringat, air mata, dan kecemasan. Kami adalah warga yang bertani, beradat, dan beranak-cucu di atas tanah Mataloko, Sokoria, Detusoko, Kombandaru, Lesugolo, Oka Ile Ange, Atadei, Nagekeo, Poco Leok, Ulumbu, Wae Sano, serta wilayah-wilayah yang terus digempur oleh ambisi proyek tambang panas bumi (geothermal).
Sejarah kami dengan geothermal bukanlah sejarah tentang “kemandirian energi” atau “kemajuan” seperti yang kerap dituliskan dalam kertas-kertas kerja akademisi. Sejarah kami adalah sejarah trauma dan luka bertubi-tubi.
Di Mataloko, kami sudah kenyang melihat bagaimana semburan lumpur dan gas beracun menghancurkan sawah tempat kami makan, membolongi atap-atap seng rumah kami dengan karat, dan merusak sumber air minum kami. Puluhan tahun janji ganti rugi dan pemulihan diumbar, namun yang tersisa hanyalah penderitaan dan pembiaran. Bukannya bertanggung jawab atas kegagalan masa lalu, hari ini tanah Mataloko justru dibor kembali dan diperluas secara paksa! Pemaksaan ini telah memicu konflik sosial yang sangat mengerikan dan mengancam keselamatan jiwa—bahkan situasi di lapangan sudah sangat membara hingga dugaan pertumpahan darah dan aksi saling bunuh antar-warga tinggal menunggu waktu.
Di Ulumbu, kami sudah melihat dengan mata kepala sendiri bagaimana keberadaan proyek ini membuat atap seng rumah-rumah warga berkarat dan hancur, tanah mengalami amblesan (subsidence), serta tanaman warga rusak dan tidak bisa berbuah lagi. Dampak nyata di Ulumbu ini bukannya jadi bahan evaluasi, proyeknya justru hendak diperluas secara paksa ke Poco Leok—wilayah yang kini diubah menjadi ladang kekerasan. Di Poco Leok, kekerasan terjadi bertubi-tubi: ibu-ibu dan kaum perempuan yang mempertahankan tanah lahirnya ditendang dan diinjak-injak oleh aparat, 24 orang warga dikriminalisasi, bahkan bupati secara terang-terangan memobilisasi massa tandingan untuk memecah belah warga.
Di Sokoria, kejahatan proyek ini bahkan menyasar struktur adat kami. Kami tidak bisa lupa bagaimana Mosalaki(tokoh adat) kami diculik dan ditangkap demi meloloskan proyek ini. Akibatnya sangat nyata: sumber-sumber air warga tercemar, tanaman pertanian tak lagi produktif dan gagal panen. Sekarang, bukannya menghentikan kerusakan, mereka justru hendak menambah sumur produksi baru yang secara langsung mengancam dan menggusur lahan-lahan persawahan tempat warga menyambung hidup.
Sementara di Wae Sano, Atadei, Lesugolo, Kombandaru, Nagekeo, dan Oka Ile Ange, ruang-ruang hidup dan tempat ritual adat kami terancam diserobot. Kampung-kampung kami dipecah belah, ikatan persaudaraan dirusak, dan rasa aman kami dicabut secara paksa. Bayang-bayang kegagalan panen, bau belerang yang menusuk hidung, serta ancaman gempa pemicu terus menghantui hidup anak-cucu kami setiap malam.
Lalu, di tengah luka yang masih menganga dan teror aparat yang belum reda ini, UNPAR, IFTK Ledalero, dan Unika St. Paulus Ruteng datang membawa sebuah rancangan: Forum Komunikasi Multistakeholder.
Dengan dalih “dialog setara”, “mediasi”, dan “transisi energi”, ketiga kampus ini berpura-pura netral dan mengajak kami duduk satu meja dengan PLN, pemerintah, dan perusahaan pengembang. Sungguh ini adalah bentuk penghinaan yang luar biasa telak. Bagaimana mungkin sebuah dialog dikatakan “setara” ketika pihak sebelah datang membawa modal, izin, dan moncong senjata aparat, sementara kami hanya berbekal cangkul dan luka trauma?
Menyiapkan “mekanisme pengaduan” dan tawaran “uang kompensasi” dalam forum tersebut sama saja dengan memperlakukan tanah leluhur, air minum, dan kebudayaan kami sebagai barang dagangan yang bisa dinilai dengan rupiah. Kampus dan tokoh-tokoh agama yang menggagas forum ini tidak sedang menjadi penyelamat; kalian sedang menggunakan otoritas moral untuk melunakkan keteguhan kami, membujuk kami agar bersikap “moderat”, dan perlahan-lahan menyerahkan ruang hidup kami kepada korporasi.
Berdasarkan seluruh penderitaan nyata dan keteguhan kami dalam mempertahankan tanah kelahiran, KAMI WARGA TAPAK MENEGASKAN TUNTUTAN DAN SIKAP KAMI:
1. FORUM MULTI STAKEHOLDER KAMPUS ADALAH HARAM DAN TIDAK SAH
Kami menolak secara total Forum Komunikasi Multistakeholder yang digagas oleh UNPAR, IFTK Ledalero, dan Unika St. Paulus Ruteng. Kampus tidak punya hak moral maupun akademis untuk memediasi nasib kami, sebab kalian tidak pernah menghirup bau belerang, tanah kalian tidak pernah digusur, dan anak-anak kalian tidak pernah ketakutan melihat kedatangan tentara/polisi.
2. BOIKOT TOTAL DAN PENOLAKAN PERWAKILAN
Kami menyatakan tidak akan pernah menghadiri forum ini. Jika ada orang yang datang dan mengklaim sebagai “perwakilan warga penolak”, mereka adalah oknum penggembos perjuangan yang tidak berdiri di atas darah dan keringat warga tapak.
3. TIDAK ADA NIKAH SIRI DENGAN PEMODAL
Kami melarang keras nama komunitas, nama kampung, maupun nama warga kami dicantumkan dalam dokumen “Pernyataan Bersama”, nota kesepahaman, atau berkas Grievance Redress Mechanism apa pun hasil bentukan forum ini. Kami tidak akan pernah menandatangani surat kompromi yang melicinkan jalan bagi geothermal!
4. KAMPUS DAN GEREJA HARUS BERHENTI MENJADI STEMPEL PENGGUSURAN
Kami mendesak lembaga kampus Katolik dan pimpinan Keuskupan/Gereja untuk berhenti membukakan pintu bagi PT PLN dan pengembang. Kembalilah berdiri murni di sisi umat dan warga yang menderita, bukannya menjadi pemoles citra (greenwashing) bagi proyek ekstraktif yang destruktif.
5. PENCABUTAN TOTAL SELURUH IZIN GEOTHERMAL IN FLORES–LEMBATA
Kami menuntut Pemerintah Pusat, Pemerintah Daerah, dan PT PLN (Persero) untuk segera menghentikan seluruh pemaksaan, menghentikan intimidasi aparat, serta MENCABUT SELURUH IZIN PROYEK GEOTHERMAL di seluruh wilayah Flores dan Lembata tanpa syarat!
SIKAP KAMI SUDAH FINAL, BULAT, DAN TIDAK BISA DITAWAR-TAWAR LAGI:
“TANAH ADALAH IBU KAMI. IBU KAMI TIDAK UNTUK DIJUAL, TIDAK UNTUK DIDISKUSIKAN, DAN TIDAK UNTUK DI-GEOTHERMAL-KAN. KELUAR DARI TANAH ULAYAT KAMI!”
Jejaring Komunitas Tolak Geothermal Flores-Lembata
- Atakore, Atadei
- Oka Ile Ange
- Detusoko
- Kombandaru
- Lesugolo
- Sokoria
- Mataloko
- Nage
- Nagekeo
- Poco Leok
- Wae Sano
Narahubung:
Masyudi Onggal: +62 822-3726-0075
Antonius Anu: +62 823-4075-3568
















